Koki Jepang Bikin 'Kencan Buta' Kuliner: Savour Life Pasangkan Chef dari Dunia Berbeda
Baca dalam 60 detik
- Savour Life, inisiatif baru dari Kenjiro Hashida dan Melissa Ho, mempertemukan koki dari latar belakang kuliner yang kontras dalam kolaborasi bulanan.
- Setelah debut dengan chef Drew Nocente, seri ini akan menampilkan Damian D'Silva dan Sho Naganuma, dengan rencana melibatkan pedagang kaki lima.
- Setiap menu diciptakan khusus, harga di bawah S$200, dan dirancang untuk membangun basis data chef serta membuka peluang acara F&B yang lebih besar.

Kenjiro Hashida, koki Jepang yang dikenal dengan restoran sushi-nya, kini mencoba peran baru sebagai mak comblang kuliner. Bersama penyelenggara acara Melissa Ho, ia meluncurkan Savour Life, seri makan malam yang mempertemukan koki dari berbagai latar belakang untuk menciptakan menu kolaborasi yang belum pernah ada sebelumnya. Inisiatif ini bukan sekadar acara empat tangan biasa, melainkan sebuah eksperimen yang menantang batas kreativitas para koki.
Debut Savour Life digelar pada 13 Agustus lalu di restoran Il Toro milik Drew Nocente. Hashida yang biasanya berada di balik meja sushi, kali ini memasak di atas arang bersama Nocente, menghasilkan hidangan yang sepenuhnya baru. Kolaborasi ini, menurut Hashida, adalah cara untuk keluar dari zona nyaman dan mengeksplorasi hal-hal di luar menu reguler restorannya. "Saya sudah sering melakukan kolaborasi di luar restoran, tapi saya ingin melakukan hal lain selain sushi," ujarnya.
Yang membedakan Savour Life dari kolaborasi chef pada umumnya adalah pemilihan pasangan yang sengaja dibuat kontras. Hashida dan Ho ingin mempertemukan koki yang memiliki gaya memasak sangat berbeda, bahkan mungkin tidak pernah terpikirkan untuk bekerja sama. Misalnya, koki hotel yang terbiasa dengan peralatan modern bisa diajak memasak dengan arang, atau koki fine dining dipasangkan dengan penjual makanan kaki lima. "Ini seperti kencan buta untuk para koki," kata Hashida sambil bercanda.
Pada edisi perdana, Hashida dan Nocente menyajikan hidangan seperti terong panggang dengan yogurt dan minyak cabai, salad mentimun dengan mikan kosho, serta mi ikan yang terbuat dari ikan kod yang dipadukan dengan teh turbot. Semua hidangan diciptakan dari nol, tanpa mengambil menu andalan dari restoran masing-masing. "Kami secara khusus meminta mereka untuk tidak membawa hidangan signature," tegas Ho.
Acara berikutnya akan digelar pada 14-15 September, mempertemukan Damian D'Silva dari Gilmore & Damian D'Silva dengan Sho Naganuma dari Barrel: Story of Hibiki. Ke depannya, Hashida bahkan berencana melibatkan penjual bak chor mee favoritnya di Bedok. "Saya sedang berdiskusi dengan mereka," ungkapnya. Ho juga membayangkan kolaborasi yang lebih eklektik, seperti memadukan hidangan laut Keng Eng Kee dengan koki Italia atau Prancis, atau menggabungkan masakan Korea dengan Thailand.
Bagi Indonesia, konsep Savour Life bisa menjadi inspirasi bagi industri kuliner yang sedang berkembang. Dengan banyaknya koki berbakat dan kekayaan kuliner lokal, kolaborasi serupa berpotensi menarik wisatawan dan memperkaya ekosistem gastronomi. Namun, tantangannya adalah memastikan kolaborasi tersebut tidak hanya menjadi gimmick, tetapi benar-benar menghasilkan inovasi yang berkelanjutan.
Ho, yang biasanya mengorganisir acara untuk merek fashion mewah, melihat Savour Life sebagai langkah awal untuk membangun jaringan yang lebih luas. "Kami ingin bekerja sama dengan koki yang bersemangat, kreatif, dan menikmati prosesnya," katanya. Dengan konsep yang segar dan harga yang relatif terjangkau, Savour Life berpotensi menjadi platform yang dinantikan para pecinta kuliner. Pertanyaannya, apakah kolaborasi ini akan mampu mempertahankan daya tariknya setelah beberapa edisi, atau justru menjadi rutinitas yang membosankan?



