Gorpcore Tak Lagi Monopoli Merek Barat: 5 Jenama China yang Layak Diperhitungkan
Baca dalam 60 detik
- Merek-merek asal China seperti Beneunder, Bosideng, Capelin, Kailas, dan Nothomme mulai diperhitungkan di kancah mode outdoor global, menawarkan alternatif bagi jenama ternama asal Barat.
- Pandemi Covid-19 menjadi titik balik pertumbuhan pasar perlengkapan outdoor China, saat konsumen beralih dari liburan luar negeri ke aktivitas alam dekat rumah.
- Dengan harga lebih terjangkau dan inovasi teknis, jenama-jenama ini berpotensi merebut pangsa pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang tengah mengalami tren gaya hidup aktif.

Fenomena gorpcore—gaya berpakaian yang mengadopsi perlengkapan teknis outdoor untuk keseharian—telah mengubah lanskap mode global. Di tengah dominasi merek seperti Arc'teryx, Salomon, dan Hoka, sejumlah jenama asal China kini muncul sebagai pesaing serius, membawa inovasi dan harga yang lebih bersahabat. Bagi konsumen Indonesia yang mulai akrab dengan tren ini, kehadiran merek-merek tersebut membuka opsi baru di luar produk-produk mahal yang selama ini menguasai pasar.
Gorpcore sendiri berawal dari subkultur kecil yang terinspirasi aktivitas alam bebas, lalu meroket menjadi estetika yang mendominasi beberapa tahun terakhir. Cabang terbarunya, "mountaincore", bahkan lebih dalam mengeksplorasi nuansa alpin, dari jaket teknis hingga sepatu trail. Di Singapura, misalnya, tak jarang terlihat orang mengenakan jaket shell sambil mengantre kopi di tengah suhu 32 derajat Celsius—pemandangan yang dulu dianggap aneh kini menjadi biasa.
Pertumbuhan merek-merek China ini tidak lepas dari pandemi Covid-19. Saat pembatasan perjalanan internasional memaksa orang tinggal di rumah, banyak yang beralih ke aktivitas luar ruangan seperti berkemah dan mendaki gunung di dekat tempat tinggal. Permintaan akan pakaian dan perlengkapan yang memadukan fungsi teknis dengan gaya sehari-hari pun melonjak. Kini, pasar outdoor China tidak lagi terbatas pada peralatan pendakian khusus; ia telah merambah ke berbagai segmen, termasuk pakaian pelindung sinar matahari dan sepatu lari trail.
Beneunder, misalnya, memulai perjalanannya pada 2013 dengan menjual payung anti-UV yang kemudian dijuluki "Hermes-nya payung". Merek ini kini memperluas lini produknya ke pakaian dan aksesori pelindung matahari, seperti jaket dengan UPF 50+, topi, masker wajah, dan lengan pelindung. Dengan bahan pendingin seperti ice silk dan jaring bernapas, produk Beneunder dirancang untuk iklim panas, termasuk fitur seperti kacamata lipat seukuran kartu kredit dan topi yang bisa dimasukkan ke dalam tas tangan. Selebritas seperti Yang Mi, Jay Chou, dan Zhao Lusi turut menjadi brand ambassador, menambah daya tariknya di mata konsumen muda.
Sementara itu, Bosideng, yang berdiri sejak 1976, telah menjadi perusahaan jaket down terbesar di China dan merek pakaian down terlaris di dunia selama 30 tahun berturut-turut. Merek ini bahkan mengembangkan parka Gore-Tex yang mampu bertahan pada suhu hingga -54 derajat Celsius untuk Tim Ekspedisi Antartika China. Namun, produk yang paling dikenal adalah jaket Puff yang ringan namun tetap hangat, tanpa membuat pemakainya terlihat seperti boneka Michelin. Bosideng juga mulai merambah mode mewah dengan berkolaborasi bersama Jean Paul Gaultier, tampil di New York dan Paris Fashion Week, serta menunjuk Kim Jones sebagai direktur kreatif lini urban premiumnya, Areal.
Capelin, yang didirikan pada 2014, terinspirasi oleh budaya pegunungan Tibet dan menggabungkan performa teknis dengan warna-warna berani ala pakaian snowboard. Produknya mencakup lapisan dasar pengatur suhu, jaket pendingin dengan UPF 40+, dan celana kargo tahan air. Merek ini juga menggunakan perawatan anti-air bebas PFAS dan benang kain daur ulang, menunjukkan bahwa perlengkapan teknis dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan.
Kailas, didirikan di Guangzhou pada 2003, fokus pada peralatan panjat tebing, pendakian gunung, dan lari trail. Merek ini menjadi pemasok resmi Tim Panjat Tebing Nasional China. Pendirinya, Baggio Zhong, adalah atlet Paralimpiade dan peluncur duduk pertama China setelah kecelakaan ski yang membuatnya lumpuh pada 2013. Produk unggulannya, sepatu lari Fuga yang dijuluki "Raja Lereng Curam", dilengkapi sistem tali pengikat, lampiran gaiter berpaten, dan sol Vibram Megagrip untuk medan teknis.
Terakhir, Nothomme, yang berdiri pada 2015, memadukan estetika outdoor vintage dengan kain teknis modern. Koleksinya mencakup pakaian untuk hiking, ski, bersepeda, dan berkemah, dengan produk unggulan seperti jaket lipat ultra-ringan seberat 42 gram, celana pendingin dengan UPF 100+, dan kaos Coolmax® yang diwarnai dengan teknik tie-dye. Sub-lini terbarunya, Nothomme Blue, lebih berfokus pada pakaian outdoor urban dengan gaya retro dan detail fungsional.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran merek-merek ini menawarkan alternatif menarik. Dengan iklim tropis yang panas, produk seperti jaket UV dan sepatu trail yang ringan sangat relevan. Selain itu, harga yang lebih kompetitif dibandingkan merek global bisa menjadi daya tarik tersendiri. Namun, tantangan yang dihadapi adalah membangun kesadaran merek dan kepercayaan konsumen yang selama ini lekat dengan jenama Barat. Apakah merek-merek China ini mampu menggeser dominasi Arc'teryx dan kawan-kawan di Asia Tenggara? Waktu yang akan menjawab, tetapi tren menunjukkan bahwa konsumen semakin terbuka terhadap alternatif baru yang menawarkan kualitas dan nilai lebih.



