Bitcoin Kembali ke US$86.000 Jelang Data Tenaga Kerja AS, Pasar Menanti Sinyal The Fed
Baca dalam 60 detik
- Bitcoin menanjak mendekati 2% dalam sehari dan kembali menembus level US$86.000 saat pelaku pasar menunggu rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat.
- Emas dan perak ikut menguat, sementara minyak mentah WTI terkoreksi 4% dan imbal hasil obligasi tenor 10 tahun AS melandai ke 5,22%.
- Angka payroll dan tingkat pengangguran akan menjadi penentu arah suku bunga The Fed, yang berdampak langsung pada aliran modal ke aset berisiko termasuk kripto.

Harga Bitcoin kembali melampaui ambang US$86.000 pada perdagangan terakhir, mencatat kenaikan hampir 2% dalam 24 jam. Lompatan ini terjadi beberapa jam sebelum pemerintah Amerika Serikat merilis laporan ketenagakerjaan bulanan yang menjadi acuan utama pasar global. Pelaku pasar memposisikan diri menjelang data tersebut, yang diperkirakan menunjukkan tingkat pengangguran bertahan di 4,1% dengan penambahan 90.000 lapangan kerja nonpertanian (nonfarm payrolls).
Pergerakan Bitcoin kali ini bukan fenomena tunggal. Logam mulia juga bergerak naik, dengan emas diperdagangkan sedikit di bawah US$4.200 per ons dan perak menembus US$61. Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) justru tertekan 4% ke bawah US$90 per barel, sementara imbal hasil surat utang AS tenor 10 tahun turun tipis ke 5,22%. Kontrak berjangka saham teknologi juga menguat sekitar 0,60%, menandakan selera risiko yang masih terjaga.
Yang menarik, penguatan aset-aset ini terjadi bersamaan dengan indeks dolar AS (DXY) yang tetap kokoh di atas 102. Biasanya, dolar yang kuat menekan harga komoditas dan aset kripto karena keduanya dihargai dalam mata uang tersebut. Namun, korelasi itu tampak longgar saat ini, mengisyaratkan bahwa pasar sedang memberi bobot besar pada ekspektasi kebijakan moneter ketimbang dinamika kurs semata.
Laporan tenaga kerja AS menjadi pusat perhatian karena dua alasan. Pertama, data ini menjadi salah satu indikator terakhir yang dilihat The Federal Reserve sebelum rapat kebijakan berikutnya. Kedua, angka payroll yang jauh dari ekspektasi bisa mengubah ekspektasi pasar terhadap lintasan suku bunga. Bila penambahan lapangan kerja jauh di bawah 90.000, peluang pemangkasan suku bunga meningkat, yang secara historis menjadi katalis positif bagi aset berisiko seperti saham teknologi dan kripto. Sebaliknya, data yang lebih kuat dari perkiraan dapat menunda pelonggaran moneter dan menekan harga Bitcoin.
"Pasar sedang dalam mode menunggu. Setiap kejutan pada data payroll akan langsung diterjemahkan menjadi volatilitas di seluruh kelas aset, dari obligasi hingga kripto," ujar seorang analis makro di salah satu bank investasi global, seperti dikutip dari catatan risetnya.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini bukan sekadar peristiwa di negeri orang. Pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS kerap menjadi acuan bagi aliran modal asing ke pasar emerging, termasuk Indonesia. Ketika yield UST 10 tahun melandai, imbal hasil obligasi negara (SUN) Indonesia menjadi relatif lebih menarik, yang bisa menopang nilai tukar rupiah dan pasar saham domestik. Sebaliknya, penguatan dolar yang berlanjut dapat memicu capital outflow dari aset berdenominasi rupiah.
Di sisi lain, harga minyak yang turun di bawah US$90 per barel memberikan angin segar bagi neraca perdagangan Indonesia, terutama karena negara ini masih net importir minyak. Penurunan harga minyak dapat mengurangi tekanan pada subsidi energi dan inflasi domestik. Namun, efeknya terhadap penerimaan negara dari sektor migas perlu dicermati, terutama jika tren penurunan berlanjut.
Ke depan, perhatian pasar akan terbagi antara data tenaga kerja AS dan perkembangan geopolitik yang memengaruhi pasokan energi. Jika data payroll sesuai atau lebih lemah dari perkiraan, Bitcoin berpotensi menguji resistance berikutnya di sekitar US$88.000โUS$90.000. Sebaliknya, kejutan positif pada data dapat memicu koreksi cepat. Pertanyaannya, apakah pasar kripto Indonesia akan ikut merespons sinyal The Fed ini secara signifikan, atau justru lebih dipengaruhi oleh sentimen domestik menjelang musim laporan keuangan emiten?


