Rusia Panggil Duta Besar Jepang, Ketegangan Pulau Etorofu Memanas
Baca dalam 60 detik
- Moskow memanggil Duta Besar Jepang Akira Muto sebagai respons atas protes Tokyo terhadap kunjungan Putin ke pulau yang disengketakan.
- Kunjungan Putin ke Etorofu memicu kecaman keras dari Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, yang menyebutnya melukai sentimen publik Jepang.
- Sengketa wilayah ini kembali menghambat perundingan perjanjian damai pasca-Perang Dunia II antara kedua negara.

Moskow, 18 Agustus 2026 โ Rusia secara resmi memanggil Duta Besar Jepang untuk Moskow, Akira Muto, sebagai buntut dari protes keras Tokyo atas kunjungan Presiden Vladimir Putin ke Pulau Etorofu, salah satu dari empat pulau yang dipersengketakan di lepas pantai Hokkaido. Langkah ini menandai eskalasi diplomatik terbaru dalam sengketa teritorial yang telah berlangsung puluhan tahun dan kembali menguji hubungan bilateral kedua negara.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengonfirmasi bahwa Muto dijadwalkan hadir di gedung kementerian pada Selasa (19/8). Namun, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov sebelumnya mengungkapkan bahwa pihak kedutaan Jepang sempat menyatakan Muto tidak dapat hadir pada Jumat atau Senin karena alasan kesehatan. Ketidakjelasan jadwal ini menambah ketegangan, mengingat Jepang juga telah memanggil Duta Besar Rusia untuk Tokyo, Nikolay Nozdrev, sebagai bentuk protes atas kunjungan Putin.
Kunjungan Putin ke Etorofu pada Kamis (13/8) merupakan yang pertama kalinya sebagai presiden, meskipun ia pernah menjabat perdana menteri pada 2008โ2012. Sebelumnya, Presiden Dmitry Medvedev menjadi kepala negara Rusia pertama yang mengunjungi pulau-pulau tersebut pada 2010. Tindakan Putin ini langsung memicu reaksi keras dari Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, yang menyatakan bahwa kunjungan tersebut "melukai sentimen publik Jepang dan sama sekali tidak dapat diterima."
Sengketa ini berakar pada klaim Jepang bahwa empat pulauโEtorofu, Kunashiri, Shikotan, dan gugusan Habomaiโdiambil secara ilegal oleh Uni Soviet setelah Jepang mengumumkan niat menyerah pada Perang Dunia II. Rusia, di sisi lain, menegaskan bahwa pengambilalihan tersebut sah. Perbedaan pandangan ini telah menghalangi kedua negara untuk menandatangani perjanjian damai pasca-perang, dan kunjungan Putin hanya memperdalam jurang yang ada.
Bagi Indonesia, sengketa ini memiliki relevansi strategis. Sebagai negara yang aktif dalam diplomasi kawasan, Indonesia mencermati bagaimana ketegangan di Asia Timur Laut dapat memengaruhi stabilitas regional. Selain itu, Indonesia memiliki hubungan dagang yang erat dengan Jepang dan Rusia, sehingga setiap gejolak diplomatik berpotensi berdampak pada rantai pasok dan investasi. Pengamat hubungan internasional menilai bahwa sikap tegas Jepang terhadap Rusia dapat memengaruhi dinamika aliansi di kawasan, terutama dalam konteks kerja sama keamanan dengan negara-negara Barat.
Para analis memperkirakan bahwa langkah Rusia memanggil duta besar Jepang adalah bagian dari strategi untuk menunjukkan ketegasan di tengah tekanan internasional. Namun, sikap Jepang yang tidak mau menyerah pada klaim teritorialnya menunjukkan bahwa jalan menuju rekonsiliasi masih panjang. Pertanyaannya kini, akankah kedua negara mampu menahan diri dari eskalasi lebih lanjut, atau justru sengketa ini akan menjadi pemicu ketegangan yang lebih luas di kawasan Asia-Pasifik?



