Perkuat Poros Indo-Pasifik: Jepang dan Inggris Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Keamanan dan Ekonomi
Baca dalam 60 detik
- Dalam pembicaraan telepon perdana, PM Jepang Sanae Takaichi dan PM Inggris Andy Burnham sepakat memperdalam kolaborasi pertahanan dan teknologi.
- Kedua negara menegaskan keamanan kawasan Euro-Atlantik dan Indo-Pasifik saling terkait, merespons dinamika geopolitik yang dipicu oleh Tiongkok dan Rusia.
- Kesepakatan ini berpotensi membuka peluang kerja sama trilateral yang melibatkan Indonesia, khususnya dalam alih teknologi dan industri pertahanan.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan Perdana Menteri Inggris Andy Burnham, dalam percakapan telepon pertama mereka pada Kamis (20/8), sepakat untuk memperkuat kerja sama di bidang pertahanan, teknologi mutakhir, dan keamanan ekonomi. Kesepakatan ini menjadi sinyal penguatan aliansi strategis kedua negara di tengah ketegangan geopolitik global yang semakin kompleks.
Kedua pemimpin menegaskan bahwa keamanan kawasan Euro-Atlantik dan Indo-Pasifik tidak dapat dipisahkan. Pandangan ini, seperti disampaikan Takaichi dalam konferensi pers di Tokyo, menegaskan komitmen bersama untuk menjaga stabilitas kawasan yang saling terhubung. Percakapan yang berlangsung sekitar 30 menit itu juga menyoroti pentingnya kolaborasi dalam menghadapi tantangan keamanan bersama.
Langkah ini bukan sekadar retorika diplomatik. Jepang dan Inggris, yang sama-sama sekutu dekat Amerika Serikat, telah meningkatkan hubungan keamanan mereka dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu wujud nyatanya adalah proyek trilateral dengan Italia untuk mengembangkan jet tempur generasi berikutnya yang ditargetkan beroperasi pada 2035. Proyek ini menjadi simbol ambisi kedua negara untuk memodernisasi kemampuan pertahanan mereka di tengah meningkatnya pengaruh Tiongkok dan agresi Rusia di Ukraina.
Di sisi ekonomi, kerja sama juga diperluas pasca-Brexit. Inggris yang resmi keluar dari Uni Eropa pada 2020, kemudian bergabung dengan Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) pada 2024. Aksesi ini membuka peluang besar bagi peningkatan perdagangan dan investasi antara Jepang dan Inggris, sekaligus memperkuat integrasi ekonomi di kawasan Asia-Pasifik.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis yang signifikan. Sebagai negara dengan posisi penting di Indo-Pasifik, Indonesia dapat menjadi mitra potensial dalam kerja sama pertahanan dan teknologi dengan Jepang dan Inggris. Keahlian Indonesia dalam diplomasi dan stabilitas kawasan dapat menjadi jembatan bagi kolaborasi yang lebih luas. Selain itu, peluang alih teknologi dan investasi di sektor pertahanan serta ekonomi digital bisa terbuka lebar, sejalan dengan upaya Indonesia memperkuat industri pertahanan dalam negeri.
Para analis menilai bahwa kesepakatan ini mencerminkan pergeseran strategis di kawasan. Dengan meningkatnya ketegangan di Laut Tiongkok Selatan dan dinamika keamanan lainnya, negara-negara seperti Jepang dan Inggris berupaya membangun jejaring keamanan yang lebih solid. Bagi Indonesia, momentum ini bisa dimanfaatkan untuk memperkuat posisi tawar dalam forum-forum regional seperti ASEAN dan Indo-Pasifik.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana kerja sama ini akan diterjemahkan dalam aksi nyata, terutama dalam hal transfer teknologi dan proyek bersama. Apakah Indonesia akan dilibatkan dalam inisiatif-inisiatif trilateral yang lebih luas? Atau akankah kerja sama ini justru memicu kekhawatiran di antara negara-negara lain di kawasan? Waktu yang akan menjawab, tetapi yang jelas, poros keamanan dan ekonomi di Indo-Pasifik sedang mengalami pergeseran yang patut dicermati.



