Trump Pangkas Latihan Militer AS-Korea Selatan: Sekutu Mulai Kehilangan Kepercayaan
Baca dalam 60 detik
- Washington memangkas latihan gabungan Ulchi Freedom Shield di tengah jalan, memicu kekhawatiran Seoul akan komitmen keamanan AS.
- Langkah sepihak Trump mempertegas pergeseran kebijakan yang mengaitkan isu keamanan dengan perdagangan, menekan Korea Selatan untuk menambah kontribusi finansial.
- Keputusan ini berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di Asia Timur dan mendorong Korea Selatan mempertimbangkan opsi nuklirnya sendiri.

Washington secara sepihak memangkas latihan militer gabungan dengan Korea Selatan, Ulchi Freedom Shield, yang seharusnya berlangsung dua minggu. Keputusan yang diumumkan langsung oleh Presiden AS Donald Trump ini memicu keguncangan di Seoul dan sekutu regional lainnya, karena dilakukan tanpa konsultasi terlebih dahulu.
Latihan yang melibatkan 18.000 tentara Korea Selatan dan pasukan dari 11 negara sekutu itu dihentikan setelah hanya separuh agenda berjalan. Trump menyebut latihan tersebut "tidak pantas dan bermusuhan" terhadap Korea Utara serta memberatkan anggaran AS. Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun, berusaha menampilkan keputusan ini sebagai kesepakatan bersama, namun mengakui bahwa pihaknya tidak mengetahui niat Trump sebelumnya.
Langkah ini tidak hanya mengejutkan Seoul, tetapi juga mengguncang kepercayaan Taiwan dan Jepang yang selama ini mengandalkan jaminan keamanan AS di kawasan. Lebih jauh, Trump juga mengaitkan pengurangan latihan ini dengan ketidakpuasannya terhadap Korea Selatan yang menolak terlibat dalam aksi militer terhadap Iran dan dianggap tidak adil dalam perdagangan.
Bagi Korea Selatan, latihan militer bersama AS adalah pilar utama aliansi dan bukti nyata komitmen Washington untuk melindunginya dari ancaman Pyongyang. Namun, keputusan sepihak ini dianggap sebagai sinyal bahwa AS mulai menarik diri dari kawasan, memicu kekhawatiran akan masa depan 27.000 tentara AS yang ditempatkan di Semenanjung Korea.
Jo Bee-yun, peneliti senior di Atlantic Council, menilai bahwa tindakan Trump telah merusak kepercayaan Seoul terhadap sekutunya. "Ini bukan sekadar pengurangan latihan, tetapi pertanyaan besar tentang apakah AS masih bisa diandalkan sebagai pelindung," ujarnya. Ketakutan terbesar adalah Trump akan mengurangi jumlah pasukan AS atau bahkan meninggalkan kebijakan denuklirisasi Korea Utara tanpa berkonsultasi dengan sekutunya.
Di tengah ketidakpastian ini, Korea Selatan justru berusaha mengambil sisi positif. Presiden Lee Jae Myung memuji keputusan Trump sebagai "langkah berani" dan berjanji meningkatkan belanja pertahanan. Namun, langkah ini juga memicu perdebatan di dalam negeri tentang perlunya Korea Selatan memiliki kemampuan nuklir sendiri, meskipun pemerintah menilai hal itu tidak perlu dan dapat merusak jaringan aliansi.
Keputusan Trump ini juga berdampak pada dinamika regional. Korea Utara, yang selama ini menganggap latihan tersebut sebagai ancaman, menyambutnya dengan dingin. Kim Yo Jong, saudara perempuan Kim Jong Un, menyatakan bahwa pengurangan latihan itu "tidak layak mendapat perhatian atau komentar" dan tidak mengubah sifat permusuhan AS. Sementara itu, Korea Utara terus memperkuat kemampuan militernya, termasuk mengirim pasukan ke Ukraina untuk mendukung Rusia, yang menurut para analis memberikan pengalaman perang modern yang berharga.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan hubungan dengan kekuatan besar. Di tengah meningkatnya rivalitas AS-China di kawasan, Indonesia perlu memperkuat diplomasi dan kemandirian pertahanan agar tidak terjebak dalam ketegangan yang bisa berdampak pada stabilitas keamanan regional.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Trump akan benar-benar bertemu Kim Jong Un dan apa yang akan ia tawarkan. Para ahli meragukan adanya kesepakatan besar, mengingat Korea Utara kini memiliki posisi tawar yang lebih kuat berkat dukungan Rusia dan Tiongkok. Jika Trump tidak siap mengakui Korea Utara sebagai negara nuklir, pertemuan itu mungkin hanya menjadi pertunjukan politik tanpa hasil nyata.



