Sewa Kamar 3 Meter Persegi di Singapura: Tren 'Pocket Room' Menguat di Tengah Harga Sewa yang Meroket
Baca dalam 60 detik
- Fenomena kamar super mungil di Singapura kian diminati, dengan tarif sewa mulai S$500 hingga S$900 per bulan.
- Maraknya subdivisi properti oleh tuan tanah memicu kekhawatiran akan keselamatan dan kenyamanan penghuni.
- Tren ini mencerminkan pergeseran prioritas penyewa: lokasi strategis dan biaya terjangkau mengalahkan luas ruangan.

Di tengah harga sewa yang terus menanjak, sebagian warga Singapura justru rela menukar luas ruangan dengan lokasi yang lebih strategis dan biaya yang lebih ramah kantong. Fenomena kamar berukuran super mungilโyang kerap dijuluki "pocket room"โkini semakin mudah ditemui di platform properti, menawarkan solusi alternatif bagi mereka yang ingin tetap tinggal di pusat kota tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.
Salah satu penghuninya, Jao Santos, seorang koordinator pemodelan informasi di Bandara Changi, membayar S$700 per bulan untuk sebuah kamar di kondominium Geylang. Luasnya hanya 2,9 meter persegi, cukup untuk satu tempat tidur kecil dan beberapa barang pribadi. Ia bahkan harus mengirim tiga gitar kesayangannya kembali ke Filipina dan menyimpan komputer desktop di dalam kotaknya. Keputusan ini diambilnya demi mendapatkan kamar ber-AC, fasilitas yang tidak dimiliki kamar lamanya yang lebih luas.
Fenomena ini bukan sekadar anekdot. Penelusuran di platform PropertyGuru menemukan sekitar 40 kamar serupa yang ditawarkan, dengan tarif sewa berkisar antara S$500 hingga S$900 per bulan. Kamar-kamar ini biasanya berupa ruang utilitas, gudang, tempat perlindungan bom, atau bekas kamar pembantu rumah tangga. Ciri khasnya mudah dikenali: adanya panel sirkuit listrik, ventilasi tempat perlindungan bom, pintu lipat, atau tanpa jendela sama sekali.
Nicholas Mak, kepala riset di platform properti Mogul.sg, menilai praktik ini semakin marak sejak pandemi COVID-19. Saat pembatasan perbatasan dilonggarkan, arus pekerja asing kembali deras, sementara anak muda lokal mulai mencari tempat tinggal sendiri. Pasokan terbatas karena konstruksi sempat terhenti, mendorong harga sewa melonjak 29,7 persen pada 2022 dan 8,7 persen pada 2023. Kondisi ini memicu sebagian tuan tanah untuk memecah unit mereka menjadi kamar-kamar kecil demi meraup untung lebih besar.
Mak memperkirakan, dengan menyewakan unit secara terpisah, tuan tanah bisa mengantongi S$5.000 hingga S$6.000 per bulan, jauh lebih tinggi dibandingkan jika disewakan utuh yang hanya sekitar S$3.000. Namun, ia juga menyoroti risiko keselamatan. "Ini hampir menjadi bahaya kebakaran," ujarnya, menggambarkan sebuah unit di mana ruang tamu dipecah menjadi dua kamar tidur dan ruang makan diubah menjadi kamar ketiga. Area bersama sering kali menjadi "tanah tak bertuan" yang kotor dan tidak terurus.
Menariknya, tren ini tidak hanya terjadi di Singapura. Di Indonesia, khususnya kota-kota besar seperti Jakarta, fenomena serupa mulai terlihat dengan maraknya kos-kosan berukuran minimalis di lokasi strategis. Meski belum ada data resmi, praktik subdivisi rumah menjadi kamar-kamar kecil juga marak, sering kali tanpa memperhatikan standar keselamatan. Hal ini menjadi pengingat bahwa keterjangkauan hunian di kawasan padat penduduk sering kali berbenturan dengan kualitas hidup dan keamanan penghuni.
Bagi sebagian penyewa, kamar mungil ini adalah pilihan rasional. Ms S, seorang pengusaha bisnis kesehatan, rela pindah dari unit seluas penuh dengan sewa S$4.000 ke kamar berukuran 1,8m x 1m seharga S$600 per bulan demi dekat dengan tempat kerja dan menekan pengeluaran saat usahanya sedang lesu. "Tinggal di ruang terbatas mendorong saya untuk memilih dengan hati-hati apa yang benar-benar esensial," ujarnya. Sementara itu, Nick, penyewa lain, menganggap kamar sempitnya sebagai "pilihan cerdas dan praktis" yang memberinya privasi dan kemandirian.
"Di Singapura, di mana ruang sangat berharga, yang terpenting adalah seberapa fungsional dan nyaman suatu tempat, bukan hanya ukurannya," kata Nick, menggambarkan kepuasannya.
PropertyGuru mencatat, listing kamar di bawah 100 kaki persegi tumbuh lebih dari 50% dalam lima tahun terakhir, sementara proporsi kamar sewa di atas S$1.000 hampir dua kali lipat menjadi sekitar 70%. Yao Lu, direktur pelaksana PropertyGuru, menilai fenomena ini sebagai respons terhadap kenaikan harga sewa. "Alih-alih pindah lebih jauh, sebagian penyewa memilih ruang lebih kecil untuk tetap berada di lokasi yang terhubung baik," jelasnya.
Namun, di balik kepraktisan ini, ada kekhawatiran akan minimnya regulasi. Untuk HDB, hanya kamar tidur yang dibangun otoritas yang boleh disewakan, sedangkan properti privat tidak memiliki batasan serupa. Aturan URA hanya membatasi jumlah penghuni maksimal enam orang untuk unit di bawah 90 meter persegi, dengan relaksasi sementara hingga 2028. Subdivisi internal tidak memerlukan izin perencanaan selama unit tetap berfungsi sebagai satu rumah tinggal, tetapi praktik di lapangan sering kali abu-abu.
Ke depan, pertanyaannya adalah: apakah tren ini akan terus bertahan atau memicu regulasi yang lebih ketat? Di Singapura, tekanan untuk menyediakan hunian terjangkau di lokasi strategis akan terus ada, dan "pocket room" mungkin menjadi solusi sementara yang tak terhindarkan. Namun, tanpa pengawasan yang memadai, risiko keselamatan dan kesejahteraan penghuni bisa menjadi bom waktu. Bagaimana pemerintah dan pemangku kepentingan menyeimbangkan kebutuhan pasar dengan perlindungan konsumen akan menjadi kunci dalam menentukan arah tren ini.



