Gempa M3,5 Guncang Bantul: Sesar Opak Kembali Aktif, Warga Diimbau Waspada
Baca dalam 60 detik
- BMKG mencatat gempa tektonik dangkal M3,5 di Bantul, Yogyakarta, dipicu pergerakan Sesar Opak pada Kamis sore, berpusat 11 km timur laut Bantul dengan kedalaman 21 km.
- Getaran dirasakan hingga skala III MMI di Bantul dan Yogyakarta, setara sensasi truk melintas, sementara wilayah lebih luas merasakan intensitas lebih rendah; belum ada laporan kerusakan berarti.
- Masyarakat diimbau tetap tenang, tidak mudah percaya isu tak jelas, serta memeriksa ketahanan bangunan karena potensi gempa susulan masih dipantau BMKG.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 3,5 yang mengguncang Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Kamis (20/2/2025) pukul 17.20 WIB, berasal dari aktivitas Sesar Opak. Getaran yang berlangsung singkat ini menjadi pengingat bahwa patahan aktif yang membentang di selatan Yogyakarta masih menyimpan energi yang perlu diwaspadai.
Menurut Kepala Stasiun Geofisika (Stageof) Sleman, Ardhianto Septiadhi, episenter gempa terletak pada koordinat 7.88 Lintang Selatan dan 110.45 Bujur Timur, atau sekitar 11 kilometer arah timur laut Bantul. Dengan kedalaman hiposenter 21 kilometer, gempa ini diklasifikasikan sebagai gempa dangkal. "Memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Opak," jelasnya dalam keterangan resmi yang diterima di Yogyakarta, Kamis.
Guncangan dirasakan cukup nyata di sejumlah wilayah. Di Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta, intensitasnya mencapai skala III MMI (Modified Mercalli Intensity), yang digambarkan seperti getaran yang ditimbulkan truk bermuatan besar melintas di dekat rumah. Sementara itu, warga di Kabupaten Kulon Progo, Sleman, serta sejumlah daerah di Jawa Tengah seperti Klaten, Solo, dan Magelang, merasakan getaran pada skala II MMIโcukup untuk membuat benda-benda ringan yang digantung bergoyang.
Hingga pukul 17.39 WIB, BMKG belum mencatat adanya gempa susulan (aftershock). Namun, Ardhianto mengingatkan masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpancing oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. "Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali ke dalam rumah," pesannya.
Peristiwa ini menegaskan kembali pentingnya mitigasi bencana di kawasan yang dilewati Sesar Opak, sebuah patahan aktif yang membentang dari timur laut Yogyakarta hingga ke selatan. Sejarah mencatat, Sesar Opak menjadi biang keladi gempa destruktif Yogyakarta 2006 yang menewaskan ribuan jiwa. Meski magnitudo kali ini relatif kecil, setiap aktivitas sesar tetap perlu direspons dengan kewaspadaan, terutama bagi warga yang tinggal di dekat jalur patahan.
Bagi warga Yogyakarta dan sekitarnya, kejadian ini menjadi alarm untuk mengevaluasi kesiapan bangunan. Pakar kebencanaan sering menekankan bahwa gempa kecil justru menjadi pengingat bahwa struktur rumah harus tahan terhadap guncangan yang lebih besar. Pemerintah daerah pun diharapkan terus mendorong sosialisasi mitigasi, termasuk memastikan konstruksi bangunan di zona rawan memenuhi standar tahan gempa.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa sering Sesar Opak akan 'bergerak' dan apakah masyarakat sudah cukup siap menghadapi potensi gempa yang lebih besar. BMKG akan terus memantau aktivitas seismik di wilayah ini, namun kesiapsiagaan individu dan komunitas tetap menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko bencana.



