Rudi Garcia Sesalkan Tim Medis Belgia: Piala Dunia 2026 Dipertaruhkan
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Belgia yang baru saja hengkang, Rudi Garcia, secara terbuka menyalahkan penanganan medis sebagai biang keladi performa tim yang kurang meyakinkan di Piala Dunia 2026.
- Insiden kunci adalah penundaan pemindaian untuk Jeremy Doku yang berujung pada perawatan darurat, serta cedera yang menimpa sejumlah pemain inti sepanjang turnamen.
- Kontrak Garcia tidak diperpanjang dan ia kini mengaku telah menuntaskan misinya, meski mengisyaratkan akan bertahan jika ada tawaran perpanjangan.

Rudi Garcia, pelatih yang membawa Belgia melaju hingga perempat final Piala Dunia 2026, secara blak-blakan melontarkan kritik tajam terhadap tim medis negaranya. Dalam wawancara pertamanya setelah didepak dari kursi pelatih, Garcia menilai penanganan cedera dan penyakit yang keliru telah menggagalkan ambisi timnya di turnamen yang digelar di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat itu.
โKami mempertaruhkan Piala Dunia karena sejumlah cedera dan penyakit yang tidak ditangani dengan benar,โ ujar Garcia kepada harian Brussel, Le Soir, Senin (17/8). Pernyataan ini muncul setelah kontraknya tidak diperpanjang, dan ia menuding kegagalan medis sebagai faktor utama di balik penampilan Belgia yang jauh dari kata meyakinkan, meski akhirnya mampu menembus babak delapan besar.
Perjalanan Belgia di turnamen memang diwarnai inkonsistensi. Dua hasil imbang melawan Mesir dan Irak di awal fase grup sempat menempatkan mereka dalam tekanan, sebelum kemenangan telak 5-1 atas Selandia Baru di Vancouver memastikan posisi puncak klasemen. Namun, di babak 16 besar, mereka harus bekerja keras untuk menaklukkan Senegal, dan baru menunjukkan permainan terbaiknya saat menghadapi Amerika Serikat.
Salah satu insiden yang paling disorot Garcia adalah penanganan terhadap winger Manchester City, Jeremy Doku. Pemain yang diharapkan menjadi motor serangan Belgia itu justru harus dilarikan ke unit gawat darurat karena mengalami cairan di paru-parunya. Garcia menuturkan bahwa ia telah meminta pemindaian seminggu sebelumnya, namun dokter tim menilai hal itu tidak perlu karena Doku telah diberi antibiotik dan merasa lebih baik. Enam hari kemudian, Doku harus menjalani perawatan intensif.
Selain Doku, Garcia juga menyebut cedera yang menimpa kapten Youri Tielemans, Charles De Ketelaere, dan Zeno Debast sebagai pukulan berat. Ia merasa tim medis gagal mengantisipasi risiko-risiko tersebut, yang pada akhirnya memengaruhi performa tim secara keseluruhan. Federasi Sepak Bola Belgia belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan ini.
Meski menyalahkan tim medis, Garcia menegaskan bahwa ia tidak menyimpan dendam. Ia justru merasa bangga dengan apa yang telah dicapainya bersama skuad yang dihuni para pemain bintang seperti Kevin De Bruyne, Thibaut Courtois, dan Romelu Lukaku. โSaya datang untuk sebuah misi. Saya mengambil alih Belgia karena Piala Dunia sudah dekat dan saya percaya tiga legenda ini masih bisa membawa tim jauh,โ katanya.
Garcia juga mengakui bahwa ia mungkin akan bertahan jika ditawari kontrak baru. โSaya pikir saya akan senang bertahan, tapi itu juga pilihan yang nyaman bagi saya. Saya sudah mengenal skuad, kami bekerja bersama selama 18 bulan, dan saya menjadi dekat dengan para pemain dan negara ini,โ tambahnya. Ia menilai bahwa dirinya telah berhasil mengembalikan Belgia ke peta sepak bola dunia, sehingga misinya dianggap tuntas.
Bagi pengamat sepak bola di Indonesia, kisah ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya manajemen medis dalam turnamen besar. Tim nasional yang memiliki ambisi tinggi harus memastikan koordinasi yang baik antara pelatih, dokter tim, dan pemain, agar tidak terjadi kesalahan fatal yang dapat menggagalkan seluruh perjuangan. Kasus Doku menjadi contoh nyata bagaimana keputusan medis yang keliru dapat berdampak besar pada performa tim.
Dengan ditunjuknya Mark van Bommel sebagai pelatih baru, Belgia kini memasuki babak baru. Pertanyaannya, mampukah Van Bommel memperbaiki hubungan antara staf pelatih dan tim medis yang telah menjadi sorotan? Atau justru masalah internal ini akan terus menghantui generasi emas Belgia yang semakin menua? Hanya waktu yang bisa menjawab.



