Ronaldinho Resmi Gabung Ravenna: Misi Terakhir Sang Maestro di Usia 46
Baca dalam 60 detik
- Legenda Brasil itu mendarat di Forlì dan langsung menuju Ravenna untuk menandatangani kontrak dengan klub Serie D Italia.
- Presiden Ignazio Cipriani menyebut keputusan Ronaldinho didorong oleh persahabatan dan hasrat, bukan sekadar nilai komersial.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya menghidupkan kembali pamor sepak bola Italia di mata dunia, sekaligus menarik perhatian publik Romagna.

Ravenna, kota kecil di kawasan Emilia-Romagna, mendadak menjadi pusat perhatian jagat sepak bola. Ronaldinho, pemenang Ballon d'Or 2005, resmi mendarat di bandara Forlì pada Selasa (11/2) dan langsung menuju markas klub Ravenna FC untuk memulai babak baru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Di usia 46 tahun, mantan bintang Barcelona dan AC Milan itu siap kembali merumput, bukan di panggung elite Eropa, melainkan di kasta keempat Liga Italia (Serie D).
Keputusan ini sontak memicu spekulasi: apa yang mendorong seorang ikon global seperti Ronaldinho mau bergabung dengan klub yang bermarkas di kota berpenduduk sekitar 160 ribu jiwa? Menurut laporan Corriere dello Sport, jawabannya terletak pada dua kata: persahabatan dan gairah. Presiden Ravenna, Ignazio Cipriani, mengonfirmasi bahwa sang pemain "terpikat oleh proyek ini" dan bahwa operasi ini dirancang untuk "mendekatkan seluruh kota dengan tim". Cipriani, yang secara pribadi mengejar kesepakatan ini, juga menggandeng Ariedo Braida, mantan direktur olahraga AC Milan, sebagai salah satu tokoh kunci di balik layar.
Bagi Ravenna, kehadiran Ronaldinho bukan sekadar sensasi sesaat. Klub yang pernah bermain di Serie A pada era 1990-an ini tengah berjuang untuk bangkit dari keterpurukan finansial dan prestasi. Dengan mendatangkan pemain sekaliber Ronaldinho—meski usianya tak lagi muda—Cipriani berharap dapat membangkitkan kembali antusiasme warga kota, menarik sponsor, dan pada akhirnya membawa tim promosi ke kasta yang lebih tinggi. "Dia menjadi bersemangat dengan proyek ini," ujar Cipriani, seraya menambahkan bahwa ia berharap bisa melihat "Dinho" berlaga di lapangan setidaknya sekali lagi.
Ronaldinho sendiri tak menyembunyikan kegembiraannya. "Saya sangat senang berada di sini, bersama teman-teman, kami berharap semuanya berjalan baik untuk tim. Saya datang ke sini untuk membantu, untuk membangkitkan semangat pemain lain, untuk menjalani musim yang spektakuler dan menang," ujarnya dalam wawancara singkat setelah tiba. Ia juga mengenang masa-masa indahnya di Italia, khususnya saat membela AC Milan: "Banyak momen indah, tapi gol di derby adalah salah satu kenangan yang paling membahagiakan."
Langkah Ronaldinho ini mengundang tanya: apakah ini sekadar aksi nostalgia atau strategi cerdas? Di tengah gempuran liga-liga kaya seperti Arab Saudi dan MLS yang mampu menarik bintang-bintang besar, kehadiran Ronaldinho di Serie D justru menjadi pengingat bahwa sepak bola Italia masih memiliki daya tarik emosional yang kuat. Bagi penggemar di Indonesia, yang selama ini mengidolakan Ronaldinho lewat layar kaca, kabar ini membawa nuansa nostalgia tersendiri. Banyak yang teringat masa kejayaannya di Barcelona dan Milan, serta aksi-aksi magisnya yang menghibur jutaan mata.
Namun, di balik romantisme, ada juga skeptisisme. Pada usia 46 tahun, kondisi fisik Ronaldinho jelas tak lagi prima. Akankah ia mampu memberikan kontribusi nyata di lapangan, atau hanya menjadi magnet pemasaran? Cipriani tampaknya sadar akan hal ini. Ia menyebut operasi ini sebagai "proyek untuk mendekatkan kota dengan tim", mengisyaratkan bahwa dampak di luar lapangan sama pentingnya dengan performa di dalamnya. Jika berhasil, Ravenna bisa menjadi contoh bagaimana klub kecil memanfaatkan nama besar untuk membangun identitas dan komunitas.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Ronaldinho membuktikan bahwa usia hanyalah angka? Dan apakah langkah ini akan menjadi inspirasi bagi klub-klub lain di Indonesia untuk berani bermimpi mendatangkan legenda dunia, atau justru menjadi peringatan bahwa sepak bola modern membutuhkan lebih dari sekadar nama besar? Musim Serie D yang akan dimulai dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi panggung pembuktian bagi sang maestro.



