AMD EPYC 9996: Prosesor 256-Core Termahal Sepanjang Sejarah, Harga Tembus Rp240 Juta
Baca dalam 60 detik
- AMD resmi meluncurkan EPYC 9996 dengan 256 core dan harga $14.904 per 1.000 unit, memecahkan rekor prosesor termahal yang pernah dijual perusahaan.
- Chip ini mengusung 1 GB cache L3, dukungan PCIe 6.0, dan MRDIMM, teknologi yang diprediksi baru menyentuh PC konsumen setelah 2030.
- Dominasi AMD di pasar server CPU mencapai 46% dari pendapatan, memaksa Intel dan Nvidia mencari celah di segmen AI yang semakin panas.

AMD kembali menegaskan posisinya di pasar prosesor server dengan merilis EPYC 9996, CPU 256-core yang dibanderol $14.904 per 1.000 unit. Harga tersebut menjadikannya prosesor termahal yang pernah dikeluarkan AMD, sekaligus sinyal bahwa persaingan di ranah komputasi AI kian mengeras.
Angka itu hanya berselisih $91 dari pendahulunya, EPYC 9965 yang berbasis arsitektur Turin dan diluncurkan Oktober 2024. Namun lompatan spesifikasinya tidak main-main: dari 192 core menjadi 256 core, atau penambahan 64 core dengan kenaikan biaya sekitar 1%. Bagi hyperscaler, biaya per core justru turun dari $77 menjadi $58, sebuah insentif yang sulit diabaikan.
EPYC 9996 dibangun di atas socket SP7 dengan 256 core Zen 6c dan 512 thread, dilengkapi cache L3 1.024 MB. Daya defaultnya mencapai 600 wattโAMD kini menyebutnya sebagai "default CPU power" untuk menggambarkan konsumsi daya yang lebih akurat pada beban kerja tertentu, bukan lagi TDP. Dukungan PCIe 6.0 dan MRDIMM melengkapi paket, dua teknologi yang menjadi tulang punggung workstation AI generasi sekarang.
Meski terkesan mahal, harga tersebut belum tentu yang dibayar pembeli akhir. Produsen perangkat (OEM) dan hyperscaler biasanya mendapatkan diskon signifikan, sehingga daftar harga resmi lebih berfungsi sebagai panduan negosiasi. Menariknya, rekor harga tertinggi untuk CPU server sebenarnya masih dipegang Intel Xeon 6980P yang diluncurkan 2024 dengan banderol $17.800, meski hanya memiliki 128 core.
"Harga daftar AMD bisa dibilang hanya titik awal. Pembeli besar seperti penyedia layanan cloud punya daya tawar untuk menekan biaya, apalagi ketika pasokan AI masih ketat," ujar seorang analis industri yang enggan disebutkan namanya.
Dari sisi teknologi, PCIe 6.0 diprediksi baru akan menyambangi PC konsumen sekitar 2030. Sementara MRDIMM, modul memori server yang dirancang khusus untuk kebutuhan bandwidth AI, mungkin tidak akan pernah masuk ke perangkat desktop dalam waktu dekat. Artinya, inovasi ini murni untuk segmen enterprise yang haus akan performa.
Bagi Indonesia, kehadiran prosesor kelas ini bisa berdampak pada percepatan adopsi AI di sektor korporasi dan pusat data. Operator cloud lokal yang ingin bersaing dalam layanan AI generatif perlu mempertimbangkan investasi infrastruktur server berperforma tinggi. Namun, dengan harga per unit yang mencapai ratusan juta rupiah, adopsi di dalam negeri kemungkinan besar masih terbatas pada perusahaan besar dan lembaga riset.
AMD saat ini menguasai 46% pendapatan pasar CPU server, menurut Mercury Research. Posisi itu membuat kompetitor terdekatnya, menurut Storage Review, adalah "generasi sebelumnya sendiri". Intel masih berjuang mengejar, sementara OEM mulai melirik solusi Nvidia Vera Rubin sebagai alternatif di ruang yang sama.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi soal siapa yang punya core terbanyak, melainkan seberapa cepat ekosistem perangkat lunak dan infrastruktur daya di Indonesia siap menampung lonjakan kebutuhan komputasi AI. Tanpa kesiapan itu, chip secanggih EPYC 9996 hanya akan menjadi angka di lembar spesifikasi.



