Bus Lintas Batas Singapura-Johor Resmi Tanpa Tunai: Ini Dampaknya bagi Penumpang Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Mulai 20 Agustus, bus Causeway Link dari Newton dan Queen Street hanya menerima pembayaran non-tunai, seperti kartu dan aplikasi.
- Langkah ini menandai percepatan digitalisasi transportasi lintas negara di kawasan ASEAN, sejalan dengan tren serupa di Indonesia.
- Penumpang yang masih ingin membayar tunai harus membeli tiket sebelum naik, dengan opsi di kios atau petugas di lokasi.

Mulai 20 Agustus, penumpang bus Causeway Link yang berangkat dari terminal Newton dan Queen Street di Singapura menuju Malaysia tidak lagi bisa membayar ongkos secara tunai di dalam bus. Kebijakan ini diumumkan operator melalui unggahan Facebook pada 17 Agustus, menegaskan komitmen mereka terhadap sistem pembayaran digital yang lebih efisien dan higienis.
Sebagai gantinya, penumpang dapat memanfaatkan berbagai metode pembayaran non-tunai, termasuk kartu Visa, Mastercard, ManjaLink, dan EZ-Link. ManjaLink sendiri merupakan kartu pintar kontakless yang dirancang khusus untuk pembayaran di bus lintas batas Causeway Link maupun rute tertentu di dalam Johor, Malaysia. Selain itu, aplikasi LUGO dan tiket elektronik sekali jalan juga menjadi opsi yang tersedia.
Bagi mereka yang tetap ingin membayar tunai, pembelian tiket harus dilakukan sebelum naik bus. Di Queen Street, tiket dapat dibeli melalui kios ManjaLink, sementara di Newton, penumpang bisa membeli kartu ManjaLink dari petugas Causeway Link yang berjaga di lokasi. Alternatif lain, penumpang dari Queen Street dapat menggunakan layanan bus SBS nomor 170, dan bagi yang memilih kenyamanan lebih, bus jarak jauh juga tersedia dari kedua terminal tersebut.
Langkah ini bukan sekadar perubahan teknis, melainkan bagian dari tren lebih luas di kawasan Asia Tenggara untuk mendorong adopsi pembayaran digital di sektor transportasi publik. Bagi Indonesia, kebijakan ini relevan mengingat banyaknya pekerja migran dan wisatawan yang melintasi perbatasan Singapura-Malaysia. Mereka yang terbiasa menggunakan transportasi lintas batas kini harus beradaptasi dengan sistem baru ini, yang sejalan dengan upaya serupa di dalam negeri, seperti penerapan transaksi non-tunai di kereta cepat Whoosh dan berbagai moda transportasi lainnya.
Menurut pengamat transportasi, langkah ini meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko penularan penyakit melalui uang tunai, namun juga menuntut kesiapan infrastruktur dan literasi digital penumpang. "Ini adalah langkah maju yang positif, tetapi perlu dipastikan bahwa semua penumpang, termasuk yang kurang akrab dengan teknologi, tetap memiliki akses yang mudah," ujar seorang analis yang enggan disebutkan namanya.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah kebijakan serupa akan diadopsi di titik-titik perbatasan lain, seperti Batam atau Entikong, dan bagaimana pemerintah Indonesia akan merespons tren ini. Apakah kita akan melihat integrasi pembayaran digital yang lebih mulus di seluruh kawasan ASEAN, atau justru kesenjangan digital yang semakin melebar?



