AI Hadirkan Billy Joel Muda: Dokumenter 'Lost Interview' Picu Perdebatan Etika dan Hak Cipta
Baca dalam 60 detik
- Film dokumenter berdurasi 20 menit ini memanfaatkan rekaman wawancara asli tahun 1971 dan teknologi AI untuk memvisualkan Billy Joel saat berusia 22 tahun, tayang perdana di festival LIMEHOF pada 25 September.
- Proyek ini berjalan tanpa restu sang musisi, memicu pernyataan tegas dari tim kuasa hukum Joel yang menyebut produksi tersebut 'keliru secara hukum dan profesional'.
- Sikap Joel yang menolak terlibat menegaskan kembali sensitivitas penggunaan AI untuk merekonstruksi figur publik, sekaligus membuka diskusi tentang batas kreativitas versus hak privasi di era digital.

Sebuah film dokumenter anyar berjudul 1971: Billy Joelโs Lost Interview akan memutar ulang sosok Billy Joel muda lewat kecerdasan buatan (AI), sebuah langkah yang langsung menuai respons kontroversial dari kubu sang musisi. Film arahan Adam Ripp ini dijadwalkan menjadi pembuka Long Island Music Entertainment Hall of Fame (LIMEHOF) Music Documentary Film Festival pada 25 September mendatang, memanfaatkan rekaman audio asli wawancara Joel di radio That's Interesting yang direkam usai perilisan album solo perdananya, Cold Spring Harbor.
Yang menarik, dokumenter ini tidak melibatkan Joel sama sekali. Alih-alih, tim produksi menggunakan teknologi AI untuk menampilkan sang pianis dalam usia 22 tahun, lengkap dengan gerak dan ekspresi yang disimulasikan. Keputusan ini jelas bukan tanpa risiko. Sebelumnya, Joel juga sempat berseteru dengan pembuat film lain yang mencoba menggarap biopik tanpa izin, menunjukkan bahwa sang musisi sangat protektif terhadap hak atas kisah hidupnya.
Tom Needham, direktur eksekutif LIMEHOF, membela pendekatan ini. Dalam pernyataannya, ia menyebut bahwa AI membuka "era baru dalam pembuatan film" dan memberi peluang untuk "melestarikan dan berbagi cerita masa lalu". Needham menekankan bahwa meski AI di industri hiburan kerap memicu perdebatan, film ini justru menjadi contoh bagaimana teknologi dapat digunakan secara bijak untuk menghubungkan penonton dengan momen penting sejarah musik. "Kami berharap penonton menyambutnya dengan rasa ingin tahu dan pikiran terbuka," ujarnya.
Namun, sikap Joel bertolak belakang. Juru bicaranya menegaskan bahwa sejak 2021, pihak terkait telah diberi tahu secara resmi bahwa mereka tidak memiliki hak atas kisah hidup Joel dan tidak akan bisa mendapatkan lisensi musik yang dibutuhkan. "Billy Joel tidak mengizinkan atau mendukung proyek ini dalam kapasitas apa pun," kata sang juru bicara, "dan upaya untuk melanjutkannya tanpa izin adalah langkah yang keliru secara hukum dan profesional."
Di sisi lain, sutradara John Ottman, yang sebelumnya dikabarkan akan menggarap biopik terpisah, membantah tuduhan tersebut. Ia menjelaskan bahwa filmnya bercerita dari sudut pandang Irwin Mazur, mantan rekan Joel di band The Hassles, dan tidak menggunakan musik asli Joel sama sekali. "Kami memegang hak eksklusif atas kisah hidup Irwin Mazur," tegas Ottman, "dan film ini tidak menggambarkan atau menggunakan musik asli Billy Joel karena berlatar masa-masa awal kariernya saat ia membawakan lagu cover dan berjuang menemukan identitas artistiknya."
Kontroversi ini menyoroti pergeseran lanskap industri kreatif, di mana AI mulai digunakan untuk menghidupkan kembali figur-figur legendaris. Bagi Indonesia, fenomena ini relevan dengan maraknya penggunaan deepfake dan AI di industri hiburan Tanah Air, mulai dari rekonstruksi suara penyanyi hingga pembuatan konten nostalgia. Namun, kasus Joel menjadi pengingat bahwa teknologi canggih tidak otomatis mengalahkan hak moral dan legal seorang seniman atas citra dan karyanya.
Pertanyaannya, akankah tren dokumenter berbasis AI ini terus berlanjut meski ditentang sang subjek? Atau justru memicu regulasi yang lebih ketat, baik di Amerika Serikat maupun negara lain, termasuk Indonesia? Yang jelas, perdebatan antara inovasi dan hak cipta ini masih akan menjadi medan tarik-menarik yang menarik untuk diikuti.



