Chalobah Pilih Como Demi Fabregas, Tinggalkan Inter dan Chelsea: 'Dia Sosok yang Menuntut'
Baca dalam 60 detik
- Bek Inggris Trevoh Chalobah resmi bergabung dengan Como dengan nilai transfer mencapai €30 juta plus bonus, mengakhiri 19 tahun kariernya di Chelsea.
- Peran sentral Cesc Fabregas sebagai pelatih kepala menjadi faktor penentu keputusan Chalobah menolak tawaran Inter Milan, juara bertahan Serie A.
- Kepindahan ini menandai babak baru bagi Chalobah yang juga sempat dipanggil mendadak ke skuad Inggris untuk Piala Dunia 2026.

Bek tengah asal Inggris, Trevoh Chalobah, resmi berseragam Como dengan nilai transfer yang dilaporkan mencapai €30 juta plus bonus. Keputusan ini sekaligus mengakhiri kebersamaannya dengan Chelsea yang berlangsung hampir dua dekade, sejak ia bergabung dengan akademi klub London Barat itu pada 2007 silam.
Yang menarik, Chalobah mengaku bahwa Cesc Fabregas, pelatih kepala Como yang juga mantan rekan setimnya di Chelsea, menjadi sosok kunci di balik kepindahannya. Padahal, Inter Milan, juara bertahan Serie A dan Coppa Italia, juga sempat menunjukkan minat serius pada awal bursa transfer musim panas ini. Namun, daya tarik proyek jangka panjang yang ditawarkan Fabregas dinilai lebih kuat daripada sekadar bergabung dengan klub yang sudah mapan di papan atas Italia.
“Saya ingat betapa menuntutnya dia terhadap para pemain muda. Jadi ya, saya mengenalnya dengan sangat baik,” kenang Chalobah dalam wawancara dengan BBC Sport. Fabregas, yang menjadi bagian dari skuad Chelsea hingga 2019, dinilai Chalobah sebagai pelatih yang jelas dalam visi dan caranya melihat peran pemain dalam tim.
“Dia adalah bagian yang sangat besar. Dia menjelaskan apa yang dia inginkan, cara dia melihat klub ini, dan bagaimana dia melihat saya cocok di sini serta bagaimana saya bisa membantu – dengan pengalaman, fisik, dan juga kepemimpinan,” ujar pemain berusia 26 tahun itu. Chalobah menambahkan bahwa keputusan ini tidak diambil secara instan, melainkan melalui pertimbangan matang. “Ini bukan hal yang terjadi dalam semalam, ini keputusan yang sangat penuh pemikiran dan sulit. Tetapi saya pikir, seperti yang saya katakan, lintasan klub ini dan arah tujuannya, serta berbicara dengan manajer, membuat saya ingin menjadi bagian dari cerita ini.”
Kepindahan Chalobah ke Como menandai perubahan besar dalam kariernya. Sebelumnya, ia kerap menjadi pemain pelengkap di Chelsea, berpindah-pindah status antara dipinjamkan dan dipanggil kembali. Di bawah Enzo Maresca, ia bahkan sempat dipinjamkan ke Crystal Palace sebelum akhirnya ditarik kembali. Total, ia mencatatkan 151 penampilan kompetitif untuk Chelsea, termasuk 105 di Premier League. Kini, di Como, ia diharapkan menjadi pilar pertahanan sekaligus pemimpin di lapangan.
Selain faktor Fabregas, Chalobah juga menyoroti daya tarik Como sebagai klub yang sedang naik daun. Setelah promosi ke Serie A dan berhasil menembus Liga Champions, Como menawarkan proyek ambisius yang menggiurkan bagi pemain sekelas Chalobah. “Saya sangat antusias dengan babak baru dalam kisah indah saya sejauh ini,” katanya. Ia juga menggambarkan dirinya sebagai pribadi yang “sangat, sangat tangguh”, sebuah karakter yang ia andalkan untuk bangkit dari berbagai keterpurukan, baik di dalam maupun luar lapangan.
Di level internasional, Chalobah baru saja merasakan pengalaman berharga bersama Timnas Inggris di Piala Dunia 2026. Meski awalnya tidak masuk dalam 26 pemain yang dipanggil Thomas Tuchel, ia mendapat panggilan mendadak dan akhirnya tampil. Inggris sendiri harus puas di posisi ketiga setelah kalah dari Argentina di semifinal, sebelum menang 6-4 atas Prancis dalam perebutan tempat ketiga. “Tidak ada yang ingin menjadi juara ketiga. Kami hanya selangkah lagi dari final. Ini pasti sulit bagi para pemain. Kami sempat terpukul selama beberapa hari. Anda tahu betapa kerasnya para pemain bekerja, betapa mereka percaya kami bisa menang,” ungkap Chalobah.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kepindahan Chalobah ke Como menjadi sinyal bahwa Liga Italia semakin menarik bagi pemain-pemain berkualitas dari liga top Eropa. Kehadiran Fabregas sebagai pelatih muda dengan filosofi menyerang juga menjadi daya tarik tersendiri. Ini bisa menjadi inspirasi bagi pemain Indonesia yang bercita-cita berkarier di Eropa, bahwa keputusan berani untuk pindah ke klub yang sedang membangun bisa membawa dampak positif bagi perkembangan karier.
Ke depannya, tantangan Chalobah adalah membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan Chelsea dan menolak Inter adalah langkah yang tepat. Dengan jadwal padat Liga Champions dan persaingan ketat di Serie A, ia harus segera beradaptasi dengan gaya bermain Fabregas yang menuntut keberanian dan kecerdasan taktis. Pertanyaannya, akankah ia menjadi fondasi pertahanan Como yang kokoh, atau justru tenggelam di tengah gempuran klub-klub besar Italia? Hanya waktu yang bisa menjawab.



