Stasiun RTS Link Bukit Chagar Siap Operasi 2027: Target 25 Menit dari Pintu Masuk ke Peron
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Malaysia menargetkan penumpang RTS Link hanya butuh 25 menit untuk melewati semua pemeriksaan di Stasiun Bukit Chagar sebelum naik kereta.
- Stasiun ini dilengkapi pemindai tubuh berteknologi AI dari Jerman serta pusat kendali bersama Malaysia-Singapura untuk mempercepat respons gangguan.
- Jembatan penghubung sepanjang 409 meter akan tersambung ke pusat perbelanjaan dan stasiun kereta lain, dirancang menampung 10.000 penumpang sekaligus.

Otoritas Malaysia menargetkan calon penumpang Rapid Transit System (RTS) Link yang menghubungkan Johor Bahru dan Singapura hanya membutuhkan waktu 25 menit untuk menyelesaikan seluruh proses pemeriksaan di Stasiun Bukit Chagar sebelum menaiki kereta. Target ini diungkapkan dalam tur media yang digelar Senin lalu, memperlihatkan kesiapan stasiun yang disebut-sebut sebagai salah satu yang paling modern di Malaysia.
Stasiun yang berada di jantung Johor Bahru ini dirancang untuk menjawab kemacetan kronis di Causeway, salah satu perlintasan darat tersibuk di dunia. Dengan kapasitas angkut hingga 10.000 penumpang per jam per arah, RTS Link diharapkan menjadi alternatif efektif bagi ratusan ribu orang yang bolak-balik bekerja antara kedua negara. Perjalanan kereta sendiri hanya memakan waktu sekitar lima menit, namun proses imigrasi dan keamanan kerap menjadi titik rawan antrean panjang.
Direktur Proyek RTS Link MRT Corp, Zulkifli Mohamed, menjelaskan bahwa durasi 25 menit tersebut mencakup alokasi lima menit untuk setiap tahapan: pembelian tiket, pemeriksaan keamanan, imigrasi Malaysia, imigrasi Singapura, serta perjalanan menuju peron. "Kami menargetkan ini, dan jika semua berjalan mulus, mungkin bisa dipangkas menjadi 20 menit," ujarnya kepada awak media.
Untuk mencapai target tersebut, stasiun akan dilengkapi 18 pemindai bagasi dan sembilan pemindai tubuh buatan perusahaan Jerman, Rohde & Schwarz. Teknologi gelombang milimeter berdaya ultra-rendah yang dipadukan dengan kecerdasan buatan ini mampu mendeteksi benda logam maupun non-logam yang tersembunyi di tubuh penumpang dalam hitungan detik. Hasil pemindaian langsung ditampilkan pada layar petugas keamanan, mempercepat proses identifikasi barang mencurigakan.
Setelah melewati pemeriksaan keamanan, penumpang akan menghadapi imigrasi Malaysia yang menyediakan sekitar dua lusin gerbang elektronik. Pengguna aplikasi MyNIISe dapat menyelesaikan pemeriksaan imigrasi hanya dalam tujuh detik. Selanjutnya, penumpang naik ke lantai dua untuk pemeriksaan imigrasi Singapura sebelum akhirnya mencapai lantai tiga untuk menaiki kereta menuju Woodlands North.
Stasiun ini juga memiliki ruang pemantauan bersama yang memungkinkan petugas Malaysia dan Singapura berkoordinasi dalam menangani insiden keamanan. Selain itu, terdapat dua pusat kendali operasi, satu di Bukit Chagar dan satu lagi di Woodlands North. CEO RTS Operations, Ahmad Marzuki Ariffin, menegaskan bahwa proyek ini termasuk langka karena memiliki dua pusat kendali untuk mempercepat penyelesaian gangguan. "Ini salah satu dari sedikit proyek dengan dua pusat kendali operasi agar masalah dapat diatasi dengan cepat," katanya.
Bagi penumpang yang keluar dari stasiun, tersedia jembatan penyeberangan sepanjang 409 meter yang menghubungkan ke pusat perbelanjaan KOMTAR JBCC, Johor Bahru City Square, serta stasiun JB Sentral. Dari JB Sentral, penumpang dapat terhubung dengan Electric Train Service (ETS) menuju Kuala Lumpur dan Penang. Zulkifli menjelaskan bahwa jembatan ini dirancang untuk menyebar arus penumpang dan memfasilitasi integrasi dengan moda transportasi lain, termasuk layanan parkir dan berkendara. Sebagian jembatan ditargetkan rampung sebelum layanan kereta resmi diluncurkan pada Januari 2027.
Bagi Indonesia, proyek RTS Link ini menjadi cermin bagaimana integrasi transportasi lintas batas dapat mengurangi kemacetan dan meningkatkan konektivitas ekonomi. Keberhasilan proyek ini bisa menjadi referensi bagi pengembangan konektivitas di kawasan ASEAN, termasuk potensi kereta cepat atau transit lintas batas yang menghubungkan Indonesia dengan negara tetangga. Pertanyaannya, mampukah Indonesia mengadopsi teknologi dan model kerja sama serupa untuk mengatasi tantangan mobilitas di masa depan?



