Singapura Ubah Tata Kelola Utilitas Bawah Tanah, Kurangi Penggalian Jalan
Baca dalam 60 detik
- URA menerapkan pendekatan baru dengan saluran bersama, pemetaan non-invasif, dan koordinasi terpadu untuk menekan gangguan jalan akibat pekerjaan utilitas.
- Pilot project di Tengah New Town menunjukkan pengurangan signifikan pembukaan jalan berkat akses pemeliharaan melalui manhole tanpa penggalian.
- Peta digital bawah tanah terpusat yang dikembangkan bersama Singapore Land Authority akan menjadi acuan perencanaan infrastruktur masa depan.

Urban Redevelopment Authority (URA) Singapura mengubah cara pengelolaan jaringan utilitas bawah tanah dengan mengadopsi sistem saluran khusus bersama, teknologi pemetaan canggih, dan koordinasi lintas instansi. Langkah ini diproyeksikan mengurangi frekuensi penggalian jalan yang selama ini menjadi sumber utama kemacetan dan gangguan mobilitas warga.
Pendekatan baru tersebut pertama kali diterapkan di Tengah New Town, sebuah kota mandiri yang sedang dikembangkan di bagian barat Singapura. URA berencana memperluas metode ini ke proyek-proyek infrastruktur besar lainnya, termasuk pembangunan perumahan umum baru, jalur MRT, dan jaringan jalan raya. Konsep intinya adalah menggabungkan kabel listrik, telekomunikasi, dan pipa air ke dalam satu saluran beton bertulang yang dilengkapi manhole berjarak sekitar 200 meter. Pekerja dapat masuk melalui manhole untuk perbaikan atau pemasangan kabel baru tanpa perlu membongkar aspal di atasnya.
Menurut Vijay Das, Group Director Infrastruktur Planning Authority URA, saluran bersama ini merupakan cara yang lebih optimal untuk memadatkan utilitas serupa. Beton bertulang juga melindungi kabel dari kerusakan akibat pekerjaan di sekitarnya dan meningkatkan keselamatan petugas pemeliharaan. Tengah dipilih sebagai percontohan karena kebutuhan utilitas dapat direncanakan secara menyeluruh sejak awal. Ke depan, URA menargetkan saluran khusus utilitas menjadi standar di semua pengembangan baru, terutama di kawasan HDB (perumahan rakyat).
Selain saluran bersama, URA juga mengandalkan teknologi pemetaan non-invasif seperti multi-channel ground penetrating radar dan electromagnetic locators. Alat-alat ini mampu memetakan lokasi utilitas tanpa harus menggali, sehingga parit uji hanya dilakukan di titik-titik yang benar-benar diperlukan. Das menegaskan bahwa pemetaan yang lebih akurat secara signifikan mengurangi jumlah pembukaan jalan. Pendekatan ini juga menunjuk satu lembaga utama yang bertugas mengoordinasikan pekerjaan antar pemilik utilitas, sehingga perencanaan lebih holistik dan konflik teknis dapat diminimalkan sejak awal.
Di Indonesia, praktik serupa masih jarang diterapkan. Penggalian jalan untuk pemasangan kabel fiber optik, pipa gas, atau saluran air kerap dilakukan secara parsial oleh masing-masing perusahaan, menyebabkan jalan berlubang di banyak titik dan kemacetan berkepanjangan. Padahal, potensi penghematan biaya sosial dan ekonomi dari pengurangan penggalian jalan sangat besar. Jika Otoritas Ibu Kota Nusantara (OIKN) atau pemerintah daerah di kota-kota besar mulai mengadopsi model saluran bersama dan pemetaan digital, dampaknya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat dalam bentuk jalan yang lebih mulus dan mobilitas yang lebih lancar.
Singapura sendiri telah memiliki jaringan bawah tanah yang ekstensif, termasuk jalur MRT, sistem transmisi listrik, dan fasilitas penyimpanan seperti Jurong Rock Caverns untuk hidrokarbon cair serta Mandai Underground Ammunition Facility. Dr. David Ng, Ketua Komite Teknik Sipil dan Struktural di Institution of Engineers Singapore, menjelaskan bahwa penentuan lokasi infrastruktur bawah tanah bergantung pada lima faktor: geografis, geologis, keselamatan, keamanan, dan lingkungan. Contohnya, Jurong Rock Caverns ditempatkan di dekat fasilitas minyak dan petrokimia karena geologi yang cocok, sementara fasilitas amunisi Mandai mengutamakan aspek keamanan. Kini, Gali Batu dekat Mandai sedang dikaji sebagai lokasi penyimpanan agregat konstruksi bawah tanah karena bekas tambang granit dan kedekatannya dengan jalan tol utama.
Ke depan, URA bersama Singapore Land Authority mengembangkan peta digital bawah tanah terpusat. Platform ini akan mengintegrasikan data utilitas dari berbagai proyek di seluruh Singapura, memungkinkan instansi terkait berbagi informasi terkini dan merencanakan kebutuhan infrastruktur secara lebih efektif. Pertanyaannya, akankah Indonesia segera mengikuti jejak Singapura untuk menata utilitas bawah tanah secara terpadu, atau masih akan terus membiarkan jalan-jalan kita dibongkar pasang tanpa koordinasi yang jelas?



