Locatelli Ungkap Alasan Tolak Arsenal: Hati Hanya untuk Juventus
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Juventus, Manuel Locatelli, mengaku pernah memaksa agennya menolak tawaran Arsenal karena hanya ingin bergabung dengan Bianconeri.
- Keputusan Locatelli didasari kecintaannya pada Juventus sejak kecil, yang akhirnya membawanya menjadi kapten tim pada Januari 2025.
- Locatelli juga membuka diri tentang masa sulitnya, termasuk kritik fans dan dukungan psikologis yang membantunya bangkit.

Manuel Locatelli, gelandang Juventus, mengungkapkan bahwa ia pernah membuat agennya kewalahan karena bersikukuh menolak tawaran Arsenal. Meski mengakui The Gunners sebagai klub hebat, Locatelli menegaskan bahwa hatinya hanya tertuju pada Juventus.
Keputusan itu, menurut Locatelli, murni berasal dari hati. Ia mengaku sudah menginginkan bergabung dengan Juventus sejak setahun sebelum akhirnya pindah pada 2021. "Arsenal adalah tim yang luar biasa, dengan sejarah besar, di liga yang sangat penting. Tapi saya hanya menginginkan Juventus," ujarnya dalam wawancara dengan majalah Undici.
Keteguhan Locatelli akhirnya terbayar ketika ia resmi berseragam Juventus dengan status pinjaman dua tahun dan kewajiban membeli senilai 36,4 juta euro. Tak hanya itu, pada Januari 2025, ia dipercaya mengenakan ban kapten menggantikan Danilo. "Menjadi kapten tim yang saya cintai adalah mimpi yang menjadi kenyataan, sebuah tanggung jawab besar. Saya harus memberi contoh setiap hari," tambahnya.
Keputusan Locatelli untuk bertahan di Juventus juga diwarnai masa-masa sulit. Pada musim ketiganya, ia sempat dicadangkan dan mendapat kritik pedas dari penggemar, baik di media sosial maupun di stadion. Ia mengaku sangat menderita saat diejek, tetapi ia sadar bahwa tekanan adalah bagian dari sepak bola level tertinggi. "Jika Anda tidak bisa menghadapinya, Anda tidak bisa berada di level teratas," katanya.
Selain itu, Locatelli juga pernah dicoret dari skuad Italia untuk Euro 2024 oleh pelatih Luciano Spalletti. Namun, Spalletti kemudian berbicara langsung dengannya dan menyatakan kepercayaannya. "Dia langsung bicara, bilang dia percaya pada saya dan mungkin pernah membuat kesalahan di masa lalu. Itu fundamental untuk merasakan kepercayaan itu," ungkap Locatelli.
Pengalaman pahit itu mendorong Locatelli untuk mencari bantuan profesional. Ia mengaku bahwa berbicara dengan psikolog membantunya menemukan kejelasan. "Saya sadar tidak bisa melakukannya sendiri, jadi saya mulai berbicara dengan profesional yang sangat membantu. Kita harus bekerja dari dalam diri sendiri, karena kita punya kekuatan untuk berubah," tutupnya.
Kisah Locatelli menjadi pengingat bahwa di balik kesuksesan seorang atlet, ada perjuangan mental yang tidak selalu terlihat. Di Indonesia, kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di kalangan atlet pun semakin menguat, seiring dengan meningkatnya perhatian pada kesejahteraan psikologis para pesepak bola profesional.
Ke depan, publik akan menantikan apakah Locatelli mampu mempertahankan performa dan kepemimpinannya di Juventus, serta bagaimana ia menghadapi tekanan sebagai kapten tim sebesar Bianconeri. Mampukah ia membawa Juventus kembali ke puncak kejayaan?



