Trump Ancam Bom Oman Jika Halangi Kesepakatan dengan Iran: Ketegangan Selat Hormuz Memanas
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS mengancam akan menyerang Oman bila negara itu menghalangi negosiasi dengan Iran soal Selat Hormuz, yang sejak perang Timur Tengah diblokade Teheran.
- Pernyataan keras Trump muncul di tengah upaya paralel Washington dan Muskat untuk mengatur lalu lintas laut, sementara Iran menegaskan kedaulatan atas jalur energi vital tersebut.
- Langkah AS ini berpotensi memicu gejolak harga minyak global dan berdampak pada stabilitas pasokan energi, termasuk bagi Indonesia yang bergantung pada impor minyak.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan ancaman militer yang mengejutkan. Dalam wawancara dengan jurnalis Fox News, Trey Yingst, pada Senin (17/8), Trump menyatakan akan mengebom Oman jika negara itu menghalangi kesepakatan Washington dengan Teheran mengenai Selat Hormuz. Pernyataan ini langsung memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Teluk yang sudah rapuh.
Trump secara blak-blakan mengatakan, "Jika Oman menghalangi, kami akan membom mereka habis-habisan." Ancaman tersebut merujuk pada pembicaraan intensif antara Oman dan Iran yang telah berlangsung selama berminggu-minggu untuk mengatur navigasi maritim di selat yang menjadi jalur vital pengiriman energi dunia. Sementara itu, Washington juga tengah menjalankan negosiasi terpisah dengan Teheran, menciptakan dinamika yang rumit di antara tiga negara tersebut.
Sejak pecahnya perang Timur Tengah pada 28 Februari, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, yang sebelumnya merupakan perairan internasional terbuka. Penutupan ini langsung mengganggu aliran minyak dan komoditas global, mengerek harga energi, dan memicu ketidakpastian pasar. Teheran menggunakan kendali atas selat tersebut sebagai alat tawar untuk melawan upaya AS dan Israel yang ingin menghancurkan program nuklirnya. Pada Jumat lalu, Trump bahkan mengklaim akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah AS, namun Iran dengan tegas menyatakan bahwa selat itu "akan tetap menjadi milik Iran".
Bagi Indonesia, ketegangan di Selat Hormuz bukan sekadar berita internasional. Sebagai negara pengimpor minyak mentah, Indonesia sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak dunia. Setiap gangguan pasokan melalui selat tersebut berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dan mendorong inflasi. Pemerintah Indonesia perlu mencermati eskalasi ini, terutama dalam merancang kebijakan energi dan anggaran negara yang responsif terhadap gejolak global.
Trump juga menyerukan Iran untuk "mengibarkan bendera putih menyerah", sebuah pernyataan yang semakin memperuncing ketegangan. Meskipun perang di Timur Tengah tidak populer di kalangan warga AS menjelang pemilu paruh waktu November, Trump mengaku tidak terburu-buru mencapai kesepakatan. Ia bahkan mengungkapkan adanya jalur komunikasi langsung antara pemerintahannya dengan Korps Garda Revolusi Iran. "Mereka pemain poker yang baik, tapi mereka sekarat," ujarnya, menunjukkan keyakinan bahwa tekanan militer dan ekonomi akan memaksa Iran tunduk.
Di sisi lain, Oman yang secara geografis berada di sisi selatan selat, memiliki kepentingan besar untuk menjaga stabilitas kawasan. Sebagai negara yang kerap menjadi mediator di Timur Tengah, Oman berupaya menyeimbangkan hubungan dengan Iran dan negara-negara Barat. Ancaman Trump tidak hanya membahayakan kedaulatan Oman, tetapi juga dapat menggagalkan upaya diplomatik yang selama ini dibangun. Para analis menilai bahwa retorika agresif Trump justru dapat mempersulit tercapainya solusi damai dan meningkatkan risiko konfrontasi militer yang lebih luas.
Ke depan, dunia akan mengamati apakah ancaman Trump hanyalah gertakan politik atau akan diikuti aksi nyata. Jika AS benar-benar menyerang Oman, konsekuensinya akan sangat besar, tidak hanya bagi kawasan Teluk tetapi juga bagi perekonomian global. Pertanyaan yang menggantung: apakah tekanan internasional dan kekhawatiran akan krisis energi mampu meredam ambisi Trump, atau justru memicu babak baru eskalasi yang lebih berbahaya?



