Harga Kondominium Baru Tokyo Sentuh Rekor 1,7 Juta Dolar, Melonjak 96%
Baca dalam 60 detik
- Rata-rata harga kondominium baru di 23 distrik Tokyo pada Juli mencapai 265,2 juta yen (sekitar Rp28 miliar), tertinggi sepanjang sejarah.
- Kenaikan 96% year-on-year ini dipicu oleh melonjaknya biaya konstruksi dan terbatasnya pasokan unit premium di kawasan Minato.
- Fenomena ini menjadi sinyal bagi pasar properti Asia, termasuk Indonesia, akan dampak inflasi material terhadap harga hunian.

Harga rata-rata kondominium baru di pusat kota Tokyo melonjak 96 persen pada Juli dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menembus rekor 265,20 juta yen atau sekitar 1,7 juta dolar AS. Lonjakan ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah dan hanya kedua kalinya harga menembus angka 200 juta yen sejak Maret 2023.
Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi pasar. Menurut Real Estate Economic Institute, lembaga riset properti Jepang, kenaikan tersebut didorong oleh melambungnya biaya konstruksi dan terbatasnya pasokan unit premium, terutama di kawasan Minato Ward. Penjualan sejumlah menara hunian mewah di distrik tersebut memberikan efek besar terhadap rata-rata harga secara keseluruhan.
Pejabat institut mengakui bahwa harga di atas 200 juta yen sulit bertahan secara konsisten, tetapi tren kenaikan moderat diperkirakan berlanjut seiring terus naiknya harga material bangunan. Di kawasan metropolitan yang lebih luas, yang mencakup Tokyo dan tiga prefektur sekitarnya, harga rata-rata juga mencatat rekor baru dengan kenaikan 63,7 persen menjadi 164,93 juta yen.
Data menunjukkan disparitas yang tajam antarwilayah. Di Kanagawa, harga naik 11,7 persen menjadi 72,34 juta yen, sementara di Chiba melonjak 29,7 persen menjadi 76,93 juta yen. Sebaliknya, Saitama justru mengalami penurunan 16 persen menjadi 59,37 juta yen. Di kawasan barat Tokyo, di luar 23 distrik, harga rata-rata melonjak 87,9 persen menjadi 105,59 juta yen.
Bagi pasar properti Indonesia, fenomena ini menjadi cermin bagaimana inflasi material konstruksi dapat mendistorsi harga hunian. Di Jakarta, misalnya, tren serupa mulai terlihat pada proyek-proyek premium di kawasan SCBD dan Menteng, meski skalanya belum sebesar Tokyo. Pengembang di Indonesia juga menghadapi kenaikan harga semen, baja, dan biaya logistik yang berdampak pada harga jual unit baru.
Menurut analis properti, kondisi ini menciptakan dilema bagi calon pembeli: apakah membeli sekarang sebelum harga semakin mahal, atau menunggu hingga pasar stabil. Di Jepang, fenomena ini juga memicu kekhawatiran tentang keterjangkauan hunian bagi generasi muda, yang semakin sulit membeli properti di pusat kota.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah gelembung harga ini akan bertahan atau justru memicu koreksi tajam. Dengan pasokan yang terbatas dan biaya konstruksi yang terus naik, pasar properti Tokyo tampaknya akan tetap panas dalam jangka pendek. Namun, jika suku bunga global terus meningkat, daya beli konsumen bisa tergerus dan mengubah arah tren ini.



