Roma dan Porto Sepakati Skema Baru Mora: 25 Juta Euro untuk 50 Persen Hak Ekonomi
Baca dalam 60 detik
- Kesepakatan awal melibatkan pembayaran 25 juta euro di muka untuk 50 persen hak ekonomi Mora, dengan opsi 25 juta euro lagi untuk sisa kepemilikan.
- Perubahan struktur negosiasi ini muncul setelah skema pinjaman dengan kewajiban beli gagal karena perbedaan syarat antara kedua klub.
- Jika opsi tidak dieksekusi, Porto tetap memegang 50 persen hak atas penjualan masa depan pemain asal Portugal tersebut.

Klub Serie A, AS Roma, dan FC Porto akhirnya menemukan titik terang dalam negosiasi transfer Rodrigo Mora setelah berminggu-minggu mandek. Kesepakatan baru yang tengah disusun menempatkan nilai awal 25 juta euro untuk mengakuisisi separuh hak ekonomi pemain berusia 21 tahun itu, dengan opsi pembelian sisa 50 persen di akhir musim dengan nilai yang sama.
Kedua klub sebelumnya sempat hampir sepakat dengan skema pinjaman 10 juta euro plus opsi beli 40 juta euro yang berubah menjadi kewajiban jika kondisi tertentu terpenuhi. Namun, negosiasi buntu karena Porto menginginkan kewajiban tersebut bersifat hampir mutlak, sementara Roma ingin mengaitkannya dengan pencapaian seperti lolos ke Liga Champions atau bahkan scudetto.
Kebuntuan ini akhirnya pecah setelah kedua pihak mengubah total struktur kesepakatan. Daripada meminjam dengan kewajiban, Roma kini siap membeli langsung 50 persen hak ekonomi Mora dengan 25 juta euro tunai. Di akhir musim, klub ibu kota Italia itu memiliki opsi untuk membeli sisa kepemilikan Porto dengan nilai yang sama. Apabila opsi itu tidak diambil, Porto otomatis memegang 50 persen dari hasil penjualan Mora di masa depan.
Kabar ini dikonfirmasi oleh sejumlah sumber di Italia dan Portugal, dan kedua klub dikabarkan tengah berupaya menuntaskan administrasi dalam hitungan hari. Mora sendiri tidak masuk dalam rencana pelatih Francesco Farioli, sehingga kepindahan ini dianggap sebagai jalan keluar terbaik bagi semua pihak.
Bagi pengamat sepak bola Italia, langkah ini menunjukkan pendekatan baru Roma dalam mengelola transfer pemain muda. Alih-alih mengeluarkan dana besar di muka, klub asal ibu kota itu memilih skema bertahap yang memberi ruang fiskal lebih longgar. Namun, risiko tetap ada: jika Mora tampil gemilang dan nilainya melonjak, Porto bisa diuntungkan dengan mempertahankan 50 persen hak ekonomi.
Fenomena kepemilikan bersama seperti ini sebenarnya bukan hal baru di sepak bola Eropa, tetapi mulai jarang digunakan setelah regulasi UEFA diperketat. Bagi klub-klub seperti Roma yang harus mematuhi Financial Fair Play, skema ini menjadi alternatif untuk tetap bersaing di pasar transfer tanpa melanggar batas pengeluaran.
Di Indonesia, kabar ini menarik untuk disimak mengingat semakin banyak pemain muda Asia Tenggara yang dilirik klub Eropa. Skema transfer kreatif seperti ini bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Indonesia dalam mengelola aset pemain, terutama dalam hal negosiasi hak ekonomi dan klausul penjualan. Jika Mora sukses di Roma, ia bisa menjadi contoh bagaimana pemain muda berkembang di liga top Eropa dengan dukungan struktur transfer yang fleksibel.
Dengan kesepakatan yang hampir pasti, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana Mora akan beradaptasi dengan sepak bola Italia yang terkenal ketat secara taktik. Apakah ia akan langsung menjadi starter atau menjalani masa adaptasi? Keputusan Farioli dalam memanfaatkan Mora akan menjadi kunci sukses transfer ini, sekaligus menentukan apakah skema 50-50 ini akan menjadi tren baru di bursa transfer Eropa.



