Ancaman Kabut Asap Menghampiri Singapura: Titik Panas di Sumatra dan Kalimantan Meningkat
Baca dalam 60 detik
- Layanan Meteorologi Singapura memperingatkan potensi kabut asap jika kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan memburuk.
- Kondisi kering dan angin tenggara–barat daya dapat membawa asap lintas batas ke Singapura dalam beberapa pekan ke depan.
- Para ahli memperkirakan puncak kabut asap terjadi pada Agustus–September 2026, seiring penguatan El Nino.

Singapura kembali dihadapkan pada ancaman kabut asap lintas batas. Layanan Meteorologi Singapura (Met Service) pada Senin (17/8) mengeluarkan peringatan bahwa kondisi berkabut dapat melanda negara kota tersebut apabila kebakaran hutan dan lahan di Sumatra serta Kalimantan kian meluas. Peringatan ini muncul di tengah musim kemarau yang diprediksi masih akan berlangsung beberapa pekan ke depan.
Berdasarkan pemantauan satelit, titik panas (hotspot) yang disertai gumpalan asap terdeteksi di Sumatra bagian selatan dan tengah, serta sejumlah wilayah di Kalimantan. Dengan pola angin yang bertiup dari tenggara dan barat daya, partikel asap dari kebakaran tersebut berpotensi terbawa hingga ke Singapura. Meski demikian, Met Service menegaskan bahwa dampaknya sangat bergantung pada intensitas api di lapangan.
Indeks Standar Polutan (PSI) Singapura memang menunjukkan tren kenaikan sejak akhir pekan, namun masih berada dalam kisaran sedang. Jika angka PSI 24 jam menembus level tidak sehat, Badan Lingkungan Hidup Nasional (NEA) akan menerbitkan advisory harian. Masyarakat diminta memantau perkembangan informasi resmi dan mengurangi aktivitas luar ruangan bila kualitas udara memburuk.
Fenomena ini bukan tanpa preseden. Pada 2015 dan 2019, Singapura dan sebagian Malaysia dilanda kabut asap parah akibat kebakaran gambut di Indonesia, yang memicu kerugian ekonomi miliaran dolar dan gangguan kesehatan massal. Tahun ini, kekeringan yang dipicu fenomena El Nino memperparah kerentanan kawasan. Lembaga riset Singapore Institute of International Affairs (SIIA) dalam laporan Haze Outlook 2026 bahkan memperingatkan bahwa risiko kabut asap transboundary di Asia Tenggara mencapai level tertinggi, dengan puncak diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September.
Bagi Indonesia, isu ini kembali menggarisbawahi urgensi pengendalian kebakaran hutan dan lahan, terutama di area gambut yang rentan terbakar. Pemerintah Indonesia sebenarnya telah berupaya menekan titik api melalui kebijakan moratorium lahan gambut dan patroli terpadu, namun tantangan di lapangan masih besar. Musim kemarau yang panjang, ditambah praktik pembakaran lahan untuk pertanian, kerap memicu lonjakan hotspot. Jika tidak ditangani serius, dampaknya tidak hanya dirasakan warga sekitar, tetapi juga negara tetangga.
Kondisi cuaca di Singapura sendiri masih didominasi monsun barat daya. Hujan lokal berdurasi singkat mungkin terjadi pada sebagian wilayah pada siang hari, namun secara keseluruhan cuaca cenderung cerah dan berangin. Suhu maksimum harian diperkirakan berkisar 33–34 derajat Celsius, dengan beberapa hari bisa mencapai 35 derajat. Malam hari akan terasa lembap dan hangat, dengan suhu di atas 27 derajat.
Paruh pertama Agustus ini, Singapura mencatat curah hujan jauh di bawah rata-rata. Kondisi ini disebabkan massa udara kering yang menekan pembentukan awan hujan. Akibatnya, wilayah ini sangat rentan terhadap akumulasi polutan udara. Met Service memperkirakan curah hujan pada paruh kedua Agustus juga akan tetap minim di sebagian besar wilayah.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa cepat langkah mitigasi dapat dilakukan, baik oleh Indonesia maupun negara-negara terdampak. Kerja sama regional melalui ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution yang telah diratifikasi Indonesia pada 2014 menjadi instrumen penting, namun implementasinya masih jauh dari optimal. Apakah tahun ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagi efektivitas perjanjian tersebut? Waktu yang akan menjawab, namun kewaspadaan tetap diperlukan.



