Kapten Sam Tierney Bertahan di Leicester City: Fondasi Rebuild atau Sekadar Loyalitas?
Baca dalam 60 detik
- Leicester City kehilangan 14 pemain usai degradasi dari WSL, namun kapten Sam Tierney meneken kontrak baru hingga 2028.
- Tierney, yang telah 151 kali tampil, menolak hengkang dan menjadi simbol stabilitas di tengah perombakan besar skuad.
- Dengan enam rekrutan anyar dan target promosi musim ini, Leicester berusaha membangun fondasi berkelanjutan, bukan sekadar kembali ke WSL.

Di tengah arus hengkangnya belasan pemain usai degradasi Leicester City dari Women's Super League (WSL) ke divisi kedua, kapten Sam Tierney justru memilih bertahan dan menandatangani kontrak baru hingga 2028. Keputusan ini menjadi sinyal kuat bahwa klub tidak sedang sekadar menambal lubang, melainkan merancang ulang fondasi tim secara menyeluruh.
Lima tahun berada di kasta tertinggi berakhir pahit bagi Leicester. Tim putri hanya memenangi dua dari 22 laga musim lalu, dengan selisih gol minus 41. Keterpurukan itu memicu kekhawatiran akan masa depan tim, termasuk kelanjutan pemakaian King Power Stadium dan potensi pemangkasan anggaran. Namun, manajemen bergerak cepat: pemain yang ingin pergi dilepas dengan nilai transfer yang menguntungkan, dan dana tersebut langsung dialokasikan untuk belanja pemain baru.
Sebanyak 14 pemain telah meninggalkan klub pada bursa musim panas ini, termasuk sembilan yang tampil pada laga play-off degradasi melawan Charlton Athletic. Kiper Janina Leitzig pindah ke Manchester United, sementara trio penyerang Hannah Cain, Noemie Mouchon, dan Jutta Rantala memilih bergabung dengan Everton. Kepergian massal ini menempatkan Leicester dalam situasi yang menuntut rekrutmen cepat dan tepat.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Tierney justru menjadi titik terang. Gelandang berusia 27 tahun yang telah membela Leicester sejak 2020 ini mengaku tidak ingin meninggalkan klub yang sudah memberinya banyak hal. “Saya bukan tipe orang yang mudah melompat kapal. Sejak bergabung, saya telah membangun koneksi yang tulus dengan klub ini,” ujarnya kepada BBC Sport. Ia menegaskan bahwa Leicester adalah klub yang fantastis dengan orang-orang hebat, meski sedang mengalami masa transisi.
Keputusan Tierney untuk bertahan bukan tanpa pertimbangan. Ia menyadari reputasi Leicester yang tengah terpuruk, namun ia melihat potensi besar untuk membangun kembali. “Saya ingin orang-orang iri pada Leicester. Saya tahu itu adalah potensi klub ini,” tegasnya. Baginya, momen ini adalah kesempatan untuk menciptakan Leicester yang baru, yang tidak hanya kembali ke WSL, tetapi juga mampu bertahan secara berkelanjutan.
Perjalanan Tierney di Leicester penuh warna. Ia bergabung dari Sheffield United pada 2020, menjadi bagian dari tim yang promosi ke WSL pada 2021, dan mencapai semifinal Piala FA Wanita pada 2024. Selama di klub, ia telah bekerja dengan tujuh manajer berbeda—sebuah bukti ketidakstabilan yang kerap melanda klub. Namun, Tierney justru melihat pengalaman itu sebagai pelajaran berharga. “Perubahan tidak akan terjadi dalam semalam, tetapi saya berharap Leicester bisa menjadi klub yang berkelanjutan di WSL, bukan sekadar tim yang naik-turun,” katanya.
Pramusim Leicester menunjukkan tanda-tanda positif. Mereka mengalahkan Rugby Borough, bermain imbang melawan Manchester United, dan kalah tipis dari Liverpool. Enam rekrutan baru telah bergabung, dan tiga pemain lain memperpanjang kontrak mereka. Menjelang laga pembuka WSL 2 melawan Sheffield United pada 6 September, Tierney merasakan adanya perubahan. “Kami telah melakukan refleksi dan evaluasi. Kami ingin menjadi Leicester yang berbeda, dan inilah saatnya mengubah narasi tentang siapa kami,” ujarnya.
Secara pribadi, Tierney berharap musim ini menjadi lebih menyenangkan sebagai kapten, tanpa tekanan degradasi yang menghantui setiap pekan. Ia mengakui bahwa musim-musim sulit itu tidak selalu dipahami orang luar. “Sebagai pemain, Anda mencoba memberikan segalanya, tetapi segalanya tidak berjalan baik,” tuturnya. Kini, ia ingin timnya menjadi tim yang menarik, menguasai bola, sulit dikalahkan, dan mampu mengejutkan banyak pihak.
Target utama Leicester jelas: promosi kembali ke WSL. Namun, Tierney menekankan pentingnya melakukannya dengan cara yang berkelanjutan. “Jika tahun depan kami berada di posisi yang lebih buruk, maka tidak ada gunanya,” katanya. Ia bertekad membangun tim yang siap bersaing di papan atas, promosi, dan bertahan di WSL untuk waktu yang lama. Pertanyaannya, apakah kesabaran dan strategi jangka panjang ini akan membuahkan hasil di tengah persaingan ketat divisi kedua? Atau justru menjadi bumerang jika target promosi gagal tercapai musim ini?



