Jepang Pertimbangkan Integrasi AI Buatan AS ke Komando Pasukan Bela Diri
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Pertahanan Jepang tengah mengkaji penggunaan AI buatan AS untuk mempercepat analisis medan perang dan penerbitan perintah operasional.
- Untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi asing, Tokyo juga berencana mengombinasikan sistem AI domestik seperti Sakana Fugu sebagai pusat komando.
- Langkah ini memicu perdebatan etika dan regulasi, terutama mengenai risiko kesalahan serangan dan akuntabilitas dalam penggunaan AI militer.

Kementerian Pertahanan Jepang dilaporkan tengah menjajaki penggunaan kecerdasan buatan (AI) buatan Amerika Serikat untuk mendukung sistem komando dan kendali Pasukan Bela Diri (SDF). Langkah ini diambil untuk mempercepat proses pengambilan keputusan di tengah meningkatnya kompleksitas ancaman keamanan kawasan, demikian diungkapkan sejumlah sumber yang dekat dengan masalah tersebut pada Senin (17/8).
Dalam praktiknya, AI tersebut akan dimanfaatkan untuk mempercepat analisis situasi medan tempur, identifikasi target, hingga penerbitan perintah operasional. Namun, kekhawatiran mengenai penggunaan AI dalam operasi militer—seperti risiko serangan yang keliru dan kaburnya tanggung jawab—masih menjadi perdebatan hangat di kalangan pengamat dan akademisi.
Sebagai kandidat utama, Kementerian Pertahanan Jepang disebut tengah mempertimbangkan Maven Smart System dari Palantir Technologies Inc., sebuah perangkat AI yang mampu mengolah data intelijen dalam jumlah besar dari satelit dan pesawat pengintai. Sistem ini diklaim telah digunakan militer AS dalam operasi melawan Iran. Di sisi lain, untuk menghindari ketergantungan berlebihan pada satu negara atau perusahaan, Tokyo juga berencana mengintegrasikan AI buatan dalam negeri, seperti Sakana Fugu yang dikembangkan oleh startup Sakana AI K.K. berbasis di Tokyo.
Ide yang mengemuka adalah menjadikan Sakana Fugu sebagai pusat komando yang membagi tugas analisis dan evaluasi kepada berbagai sistem AI, termasuk yang berasal dari AS, sesuai dengan situasi dan kebutuhan operasional. Dengan demikian, Jepang berharap dapat memadukan keunggulan teknologi asing dengan pengembangan industri pertahanan domestik.
Kekhawatiran utama yang mendorong langkah ini adalah ketertinggalan Jepang dalam kecepatan dan akurasi pengambilan keputusan dibandingkan negara-negara lawan, serta potensi hambatan dalam koordinasi dengan sekutu utamanya, Amerika Serikat. “Jika dibuat di AS, teknologinya sudah teruji,” ujar seorang anggota senior SDF, seperti dikutip Kyodo News.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa aturan internasional mengenai penggunaan AI dalam konflik bersenjata masih jauh dari memadai. Mereka menilai diperlukan debat yang hati-hati sebelum teknologi ini benar-benar dioperasikan. Dalam kebijakan dasar yang dirumuskan pada Juli 2024, Kementerian Pertahanan Jepang sendiri mengakui bahwa AI memiliki keterbatasan dalam menghadapi situasi yang belum pernah terjadi, karena sistem ini belajar dari data yang ada.
“Bagaimana memastikan keterlibatan manusia yang tepat dalam pengambilan keputusan adalah hal yang harus kami selesaikan ke depan,” ujar seorang pejabat senior kementerian. Pernyataan ini menggarisbawahi dilema yang dihadapi banyak negara: memanfaatkan kecepatan AI tanpa mengorbankan kontrol etis dan hukum.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal penting dalam dinamika keamanan kawasan. Sebagai negara yang juga aktif memodernisasi alutsista dan mengembangkan industri pertahanan, keputusan Jepang untuk mengadopsi AI militer bisa menjadi referensi sekaligus peringatan. Di satu sisi, adopsi AI dapat meningkatkan efektivitas pertahanan; di sisi lain, risiko kesalahan dan eskalasi konflik akibat keputusan otomatis harus diantisipasi dengan regulasi yang ketat.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah bagaimana Jepang menyeimbangkan kecepatan inovasi dengan prinsip-prinsip hukum humaniter internasional. Apakah negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, akan mengikuti jejak serupa atau justru menjadi penengah dalam mendorong norma global yang lebih ketat? Jawabannya akan menentukan wajah keamanan regional dalam dekade mendatang.



