Uji Coba Robot Humanoid Olly di Stasiun MRT Singapura: Masa Depan Transportasi Publik?
Baca dalam 60 detik
- Robot humanoid Olly akan memandu penumpang di Stasiun Little India, Singapura, selama dua pekan mulai 31 Agustus.
- Uji coba ini merupakan langkah Otoritas Transportasi Darat (LTA) dalam mengeksplorasi AI untuk operasional transportasi umum.
- Kehadiran robot ini memicu diskusi tentang transformasi layanan publik di kawasan Asia Tenggara, termasuk potensi adopsi di Indonesia.

Otoritas Transportasi Darat Singapura (LTA) memulai uji coba robot humanoid bernama Olly di Stasiun MRT Little India pada 31 Agustus hingga 11 September mendatang. Robot ini dirancang untuk membantu penumpang mencari arah dan memberikan informasi perjalanan, menandai langkah konkret integrasi kecerdasan buatan dalam layanan transportasi publik di negara kota tersebut.
Selama masa uji coba, Olly akan beroperasi setiap hari kerja pukul 10.00 hingga 12.00. Namun, LTA menegaskan bahwa robot tidak akan beroperasi sendirian; sejumlah petugas akan mengawal dari belakang untuk memastikan keamanan dan kelancaran interaksi. Dalam unggahan media sosial pada 20 Agustus, LTA menyebut inisiatif ini sebagai bagian dari eksplorasi teknologi AI untuk mendukung operasional transportasi umum.
Menurut rekaman video yang dirilis, Olly mampu menyapa penumpang, memberikan panduan arah, serta menjawab pertanyaan seputar sistem perkeretaapian dan layanan LTA. Saat ini, robot masih dalam tahap pengujian dan pemetaan untuk membiasakan diri dengan lingkungan stasiun. LTA pun meminta kesabaran penumpang selama proses adaptasi ini berlangsung.
Langkah ini bukan sekadar proyek percontohan. Pada Mei lalu, Wakil Kepala Eksekutif LTA untuk Infrastruktur dan Pengembangan, Yee Boon Cheow, memperkirakan robot humanoid dapat mulai beroperasi di stasiun kereta dalam 10 hingga 15 tahun ke depan. Dalam diskusi meja bundar bersama The Straits Times, ia mengungkapkan bahwa robot semacam ini dapat mengambil alih tugas-tugas rutin seperti patroli stasiun atau menjawab pertanyaan sederhana, sehingga staf manusia dapat fokus pada pekerjaan bernilai tambah dan pelayanan pelanggan yang lebih personal.
Lebih jauh, Yee menyebut robot humanoid juga berpotensi membantu pekerjaan fisik berat, misalnya di depot kereta. Ini menunjukkan bahwa adopsi robotika tidak hanya menyentuh aspek layanan, tetapi juga efisiensi operasional secara keseluruhan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi cermin bagaimana teknologi AI dapat diadaptasi dalam sistem transportasi publik yang padat. Meski MRT Jakarta dan LRT telah mengadopsi otomatisasi, pemanfaatan robot humanoid untuk interaksi langsung dengan penumpang masih jauh dari realisasi. Namun, dengan populasi urban yang besar dan kebutuhan layanan cepat, bukan tidak mungkin Indonesia akan mengikuti jejak serupa dalam satu dekade mendatang.
Para pengamat menilai keberhasilan uji coba Olly akan menjadi tolok ukur bagi negara-negara Asia Tenggara lainnya. Jika efektif, teknologi ini dapat mengurangi beban kerja staf manusia, meningkatkan akurasi informasi, dan memberikan pengalaman baru bagi penumpang. Namun, tantangan seperti biaya investasi, perawatan, dan penerimaan publik tetap menjadi pertimbangan utama.
Pertanyaannya, apakah robot humanoid akan benar-benar menggantikan peran manusia di stasiun, atau justru menjadi mitra yang memperkuat layanan? Jawabannya mungkin akan terungkap dalam beberapa tahun ke depan, seiring dengan semakin matangnya teknologi dan semakin terbukanya masyarakat terhadap kehadiran robot di ruang publik.



