Unitree Yakin Robot Humanoid Segera Alami 'Momen ChatGPT', tapi Peringatkan Keterbatasan Teknologi
Baca dalam 60 detik
- CEO Unitree Wang Xingxing memproyeksikan industri robot memasuki fase akselerasi besar dalam 2-10 tahun, ditandai kemampuan robot menyelesaikan 80% tugas rumah tangga.
- China menguasai 97% pengiriman robot humanoid global, dengan lebih dari 40.000 unit terkirim pada paruh pertama tahun ini, didorong dukungan penuh pemerintah.
- Larangan impor robot asing oleh AS menambah ketegangan teknologi, sementara perusahaan China mulai mencari pasar ekspansi di luar negeri.

CEO Unitree, Wang Xingxing, menyatakan industri robot humanoid tengah bergerak menuju apa yang disebutnya sebagai "momen ChatGPT" untuk kecerdasan fisik, sebuah titik balik yang dapat membawa robot memasuki rumah-rumah dan menyelesaikan sebagian besar tugas harian hanya dengan perintah suara atau teks. Pernyataan ini disampaikan di tengah euforia pasar setelah Unitree mencatatkan debut spektakuler di bursa Shanghai, yang menegaskan ambisi China memimpin revolusi kecerdasan buatan (AI) generasi berikutnya.
Wang, yang juga pendiri perusahaan rintisan berbasis di Hangzhou itu, berbicara di World Robot Conference di Beijing pada Kamis (20/8). Ia menggarisbawahi bahwa meskipun AI bahasa besar seperti ChatGPT telah mengubah ekonomi global sejak akhir 2022, belum ada titik infleksi serupa untuk "world model"โsistem simulasi fisik yang memungkinkan robot memahami dan bernavigasi di lingkungan nyata. "Kami berharap ke depan, robot yang diperkenalkan ke rumah yang asing dapat menyelesaikan sekitar 80 persen tugas melalui perintah suara atau teks," ujarnya, seraya menyebut ini sebagai "titik penting untuk pertumbuhan eksplosif industri robot".
Namun, di tengah optimisme itu, Wang memberikan catatan hati-hati. Ia memperkirakan lompatan besar dalam perangkat lunak robot dapat terjadi dalam dua hingga tiga tahun dalam skenario optimistis, atau paling lambat lima hingga sepuluh tahun. Georg Stieler, kepala otomasi di konsultan robotika Stieler, menilai pernyataan Wang justru lebih realistis dibandingkan euforia pasar. "Dibandingkan dengan suasana di World Robot Conference dan IPO Unitree yang spektakuler, Wang Xingxing terlihat sangat sadar akan kemampuan saat ini," katanya. Unitree, yang merupakan produsen robot anjing terbesar di dunia dan pembuat robot humanoid terbesar kedua berdasarkan pengiriman, kini mulai menggeser fokus dari pertunjukan koreografi ke aplikasi industri nyata, meskipun prospektus IPO menunjukkan mayoritas pelanggannya masih berasal dari universitas dan lembaga penelitian.
Pernyataan Wang muncul di tengah persaingan teknologi yang semakin memanas antara China dan Amerika Serikat. Bulan lalu, Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) melarang impor robot humanoid dan quadruped buatan luar negeri dengan alasan keamanan nasional, sebuah pukulan telak bagi produsen China. Di sisi lain, Beijing justru gencar mendorong pengembangan robot untuk menggantikan tenaga kerja manusia di sektor-sektor berisiko tinggi, seiring menurunnya jumlah penduduk usia produktif. Wang He, pendiri startup robotik Galbot, optimistis "momen ChatGPT" untuk kecerdasan fisik akan tiba pada 2028, saat robot mampu melakukan 70-80% tugas sehari-hari tanpa pelatihan khusus. "Dengan akumulasi data dan terobosan teknologi, kami memperkirakan titik itu tercapai pada 2028," ujarnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, adopsi robot humanoid di sektor manufaktur dan logistik dapat meningkatkan efisiensi, tetapi juga berpotensi menggeser pekerjaan repetitif yang saat ini banyak menyerap tenaga kerja lokal. Pemerintah Indonesia perlu menyiapkan regulasi dan program pelatihan ulang untuk menghadapi era otomasi yang semakin dekat. Sementara itu, Unitree dan perusahaan China lainnya mulai melirik pasar ekspor, dan Indonesia bisa menjadi salah satu target utama mengingat besarnya pasar manufaktur dan logistik di dalam negeri.
Meski demikian, Wang mengakui bahwa model AI yang menggerakkan robot humanoid masih menjadi kendala terbesar untuk adopsi massal. Ia menyebut investasi terbesar Unitree saat ini adalah pada pengembangan world model, namun perusahaan tersebut masih "tertinggal" dalam aplikasi dunia nyata. Meski begitu, ia optimistis industri akan memasuki dekade evolusi otonom yang pesat, seiring AI yang semakin mampu belajar dan memperbaiki diri. Pertanyaannya, apakah Indonesia akan menjadi penonton atau pemain dalam revolusi robotika ini? Jawabannya bergantung pada kesiapan industri dan kebijakan pemerintah dalam merespons gelombang teknologi yang tak terelakkan ini.



