Megan KATSEYE Bicara Terapi dan Dukungan Rekan: 'Jangan Takut Dicap Berlebihan'
Baca dalam 60 detik
- Megan mengaku terapi rutin membantunya mengelola kecemasan, sambil menekankan pentingnya lingkaran pertemanan yang suportif.
- Dua rekannya, Sophia dan Manon, mengambil jeda untuk kesehatan mental, menyoroti tren industri K-pop yang mulai peduli pada kesejahteraan artis.
- Pengakuan ini muncul saat dokumenter Wild Hearts dirilis, membuka diskusi tentang tekanan psikologis di industri hiburan global.

Megan Skiendiel, personel grup vokal perempuan KATSEYE, secara terbuka mengungkapkan perjuangannya melawan masalah kesehatan mental. Pengakuan ini muncul di tengah keputusan dua rekannya, Sophia Laforteza dan Manon Bannerman, untuk mengambil jeda dari aktivitas grup demi memulihkan kondisi psikis mereka.
Dalam wawancara dengan majalah PEOPLE, Megan menceritakan bahwa terapi rutin telah menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga kestabilan emosinya. "Berbicara tentang perasaan itu jauh lebih baik daripada memendamnya sendiri. Itu pelajaran terbesar yang saya dapatkan," ujarnya. Ia juga menyoroti peran besar rekan-rekan satu grupnya sebagai sistem pendukung yang membuatnya merasa diterima tanpa syarat.
Megan mengaku sebagai pribadi yang ekstrover, namun kerap merasa khawatir jika keaktifannya dianggap berlebihan oleh orang lain. "Ketakutan terbesar saya adalah dihakimi. Tapi mereka tidak pernah membuat saya merasa seperti itu. Mereka justru mendorong saya untuk menjadi diri sendiri," jelasnya. Pengalaman ini mengajarinya untuk selektif memilih lingkungan pertemanan yang membawa energi positif.
Keputusan Sophia dan Manon untuk rehat bukanlah hal baru di industri musik. Megan sendiri pernah mengambil jeda pada 2024 karena cedera punggung. Dalam dokumenter Wild Hearts yang baru dirilis, ia mengenang masa sulit tersebut: "Sangat berat melihat mereka semua tampil sementara saya harus menepi." Sementara itu, Sophia mengomentari jeda Manon dengan nada haru, "Manon punya koneksi luar biasa dengan orang-orang."
Fenomena ini mencerminkan pergeseran budaya di industri hiburan, khususnya K-pop dan grup global, yang mulai serius memperhatikan kesehatan mental artisnya. Tekanan untuk tampil sempurna di depan publik kerap menjadi beban psikologis yang berat. Langkah KATSEYE membuka ruang bagi personelnya untuk beristirahat tanpa stigma bisa menjadi preseden positif bagi industri musik di Asia, termasuk Indonesia yang memiliki industri musik pop yang sedang berkembang pesat.
Keterbukaan Megan tentang terapi dan dukungan sosial ini diharapkan dapat menginspirasi penggemar, terutama generasi muda di Indonesia, untuk tidak ragu mencari bantuan profesional ketika menghadapi tekanan mental. Di tengah maraknya isu kesehatan mental di kalangan anak muda, figur publik yang vokal seperti Megan memainkan peran penting dalam menormalkan pembicaraan tentang terapi dan perawatan diri.
Ke depannya, publik akan mengamati bagaimana KATSEYE mengelola dinamika grup dengan tiga personel yang tersisa, dan apakah langkah serupa akan diikuti oleh grup lain. Pertanyaannya, mampukah industri hiburan beradaptasi dengan kebutuhan psikologis artisnya tanpa mengorbankan produktivitas? Atau justru ini menjadi awal dari standar baru yang lebih manusiawi dalam industri yang kerap kejam ini?



