David Krumholtz Bantah Pensiun, Istirahat demi Kesehatan Mental: 'Ini Masalah Saya, Bukan Hollywood'
Baca dalam 60 detik
- Aktor Oppenheimer menegaskan dirinya tidak pensiun, hanya mengambil jeda karier tanpa batas waktu demi kesehatan mental.
- Ia mengaku beban ambisi dan kekecewaan di industri film mulai terasa menyesakkan, meski tetap bersyukur atas dukungan penggemar.
- Keputusan ini memicu diskusi tentang tekanan psikologis aktor dan perlunya keseimbangan hidup di tengah tuntutan industri hiburan.

David Krumholtz, aktor yang namanya melambung lewat perannya dalam film Oppenheimer, menegaskan bahwa dirinya tidak pensiun dari dunia akting. Ia hanya memutuskan untuk mengambil jeda karier tanpa batas waktu demi memulihkan kesehatan mental. Pernyataan ini disampaikan melalui unggahan di media sosial, sekaligus menjawab spekulasi yang berkembang setelah ia mengumumkan rencana istirahat beberapa hari sebelumnya.
Aktor berusia 48 tahun itu menjelaskan bahwa keputusannya murni berasal dari kondisi pribadi, bukan karena masalah sistemik di industri hiburan. "Ini masalah saya, bukan masalah Hollywood secara keseluruhan," tulisnya. Ia juga mengaku terharu dengan dukungan yang mengalir dari penggemar dan rekan sejawat, yang menurutnya membuatnya merasa sangat dicintai.
Krumholtz, yang juga dikenal lewat film 10 Things I Hate About You dan serial Supergirl, mengungkapkan bahwa selama setahun terakhir ia harus berjuang keras mendapatkan peran. Tawaran yang datang kerap dianggapnya tidak sepadan, bahkan ia menyebut ada tawaran yang "mengeksploitasi bakat dan reputasi dengan imbalan yang semakin mengecil". Kondisi ini membuatnya merasa frustrasi, lelah, dan jenuh.
Dalam unggahan yang kini telah dihapus di platform Threads, ia menulis bahwa mengirim email untuk mengaktifkan jeda karier memberinya kelegaan instan. "Saya tidak tahu harus melakukan apa untuk mencari uang, tapi saya baru saja melepaskan beban yang sangat besar, yang beratnya tidak saya sadari sampai beban itu hilang," tulisnya. Ia juga menyoroti isu keadilan bagi para seniman, dengan menyatakan bahwa "seni yang eksploitatif bukanlah seni" dan bahwa seniman layak mendapat persentase pembayaran yang adil atas karya yang membantu perusahaan meraih keuntungan.
Keputusan Krumholtz memicu perbincangan tentang tekanan psikologis yang dialami aktor profesional. Meski memiliki 147 kredit akting, ia mengaku sempat ketakutan akan berhenti bekerja karena khawatir kehabisan uang dan tidak mampu bertahan di luar industri. Namun, ia kini berencana menggunakan waktu jedanya untuk membantu sesama yang membutuhkan, sebuah arah baru yang ingin ia tekuni.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Hollywood. Di Indonesia, isu kesehatan mental di kalangan pekerja kreatif, termasuk aktor dan musisi, juga semakin mengemuka. Banyak pekerja seni yang menghadapi tekanan ekonomi dan ekspektasi publik yang tinggi, sehingga rentan mengalami kelelahan mental. Diskusi tentang pentingnya keseimbangan hidup dan dukungan psikologis di industri hiburan pun menjadi relevan.
Krumholtz berharap penonton tetap menikmati karya-karyanya yang akan datang. "Masih ada pekerjaan yang akan dirilis. Dan seperti biasa, saya harap kalian menikmati apa yang telah saya berikan. Tapi, beri saya waktu sebentar," tulisnya dengan nada ringan. Pertanyaannya, apakah industri hiburan global akan lebih peka terhadap kebutuhan kesehatan mental para senimannya, atau justru semakin banyak aktor yang mengambil langkah serupa?



