Rakuten Gandeng Helsing, Perusahaan Drone AI Jerman, untuk Pasok Kementerian Pertahanan Jepang
Baca dalam 60 detik
- Rakuten Group akan menjadi perwakilan Helsing di Jepang untuk memasok drone pencegat ke Kementerian Pertahanan.
- Langkah ini menandai pertama kalinya Rakuten terlibat dalam drone militer, membuka peluang produksi massal di dalam negeri.
- Uji coba oleh Pasukan Bela Diri Darat hingga September akan menentukan adopsi drone AI tersebut.

Rakuten Group Inc., raksasa teknologi asal Jepang, dikabarkan akan bermitra dengan Helsing, perusahaan rintisan drone pencegat asal Jerman, untuk memasok drone ke Kementerian Pertahanan Jepang. Langkah ini menandai ekspansi signifikan Rakuten ke sektor pertahanan, yang selama ini belum pernah tersentuh, dan membuka peluang produksi massal drone di Jepang di masa depan.
Helsing, yang didirikan pada 2021, mengembangkan sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan drone beroperasi secara otonom, termasuk kemampuan menembak jatuh rudal. Kemitraan ini muncul di tengah meningkatnya kebutuhan militer Jepang akan teknologi drone, terutama setelah melihat efektivitasnya dalam konflik Ukraina dan Timur Tengah.
Pasukan Bela Diri Darat (GSDF) Jepang akan melakukan uji coba demonstrasi hingga akhir September untuk mengevaluasi apakah drone Helsing layak diadopsi. Meskipun spesifikasi dan jumlah drone yang akan dipasok belum ditentukan, drone tersebut diprediksi akan digunakan untuk operasi anti-pendaratan di wilayah pesisir, sebuah area yang menjadi fokus pertahanan Jepang mengingat ketegangan regional yang meningkat.
Rakuten, yang selama ini dikenal dengan layanan e-commerce dan fintech, akan bertindak sebagai perantara Helsing di Jepang. Perusahaan ini sebelumnya telah menawarkan program pelatihan pilot drone dan inspeksi eksterior bangunan, namun ini adalah keterlibatan pertamanya dengan drone militer. Pada pameran peralatan pertahanan tahun lalu, Rakuten juga mendukung partisipasi perusahaan rintisan asal Ukraina, menunjukkan minatnya pada teknologi pertahanan.
Konteks ini relevan bagi Indonesia, yang juga tengah memodernisasi alat pertahanannya dan mengembangkan industri drone dalam negeri. Kerja sama seperti ini menunjukkan tren global di mana perusahaan teknologi sipil mulai merambah sektor pertahanan, sejalan dengan meningkatnya permintaan drone yang murah dan cepat diproduksi. Indonesia dapat mengambil pelajaran dari model kemitraan ini untuk memperkuat ekosistem pertahanan dan teknologi nasional.
Menurut sumber yang mengetahui masalah ini, Rakuten juga mempertimbangkan untuk memproduksi drone secara massal di Jepang, menargetkan industri pertahanan yang diperkirakan akan tumbuh. Hal ini sejalan dengan kebijakan Jepang yang mendorong penggunaan drone untuk memperkuat pertahanan, terutama di tengah ancaman keamanan yang semakin kompleks.
Keputusan akhir untuk mengadopsi drone Helsing akan sangat menentukan arah kerja sama ini. Jika uji coba berhasil, bukan tidak mungkin Rakuten akan memperluas perannya dari sekadar perantara menjadi produsen, sebuah langkah yang dapat mengubah lanskap industri pertahanan Jepang. Pertanyaannya, apakah Indonesia akan mengikuti jejak serupa dengan melibatkan perusahaan teknologi nasional dalam pengadaan alat pertahanan?



