500 Pesepeda Tempuh 179 Km demi Pariwisata Hijau dan Pendidikan Kamboja
Baca dalam 60 detik
- Ratusan pesepeda dari berbagai negara menuntaskan rute panjang Phnom Penh–Takeo untuk memadukan olahraga, pariwisata, dan aksi sosial.
- Menteri Pariwisata Kamboja menilai inisiatif ini mampu menciptakan pengalaman baru dan mengangkat potensi daerah di tengah lesunya kunjungan wisatawan.
- Aksi tanam 600 pohon di kawasan Candi Phnom Da menjadi simbol komitmen lingkungan yang bisa ditiru destinasi lain, termasuk Indonesia.

Sekitar 500 pesepeda dari dalam dan luar negeri menuntaskan perjalanan sejauh 179 kilometer pada Minggu (16/8), dari Phnom Penh menuju Candi Phnom Da di Provinsi Takeo, Kamboja. Aksi ini bukan sekadar olahraga, melainkan kampanye pariwisata hijau sekaligus penggalangan bantuan perlengkapan pendidikan bagi pelajar kurang mampu.
Rute yang ditempuh melewati sejumlah situs bersejarah seperti Tonle Bati, Phnom Chisor, Ang Tasom, dan kawasan Angkor Borei. Para peserta berangkat dari Bundaran Monumen Kemerdekaan di ibu kota dan tiba di kompleks candi yang menjadi tujuan akhir. Sepanjang perjalanan, mereka disuguhi pemandangan alam, tradisi lokal, serta kehidupan masyarakat setempat yang menjadi daya tarik tersendiri.
Menteri Pariwisata Kamboja, Huot Hak, yang hadir dalam acara tersebut, menegaskan bahwa kegiatan ini meramu olahraga dengan dampak sosial. Menurutnya, kombinasi tersebut menciptakan produk wisata baru yang menghubungkan olahraga, warisan budaya, alam, dan komunitas. “Perpaduan ini memberi pengalaman segar, mendorong perjalanan domestik dan mancanegara, serta menjadikan Takeo destinasi hidup, terutama di Green Season,” ujarnya.
Selain itu, para pesepeda juga menanam 600 pohon bunga merak di sepanjang jalan menuju Candi Phnom Da. Aksi ini diharapkan mempercantik kawasan wisata sekaligus mendukung kelestarian lingkungan. Hak menambahkan bahwa bersepeda bukan hanya menyehatkan fisik dan mental, tetapi juga cara langsung menikmati alam dan kearifan lokal.
Langkah ini menjadi penting di tengah tekanan sektor pariwisata Kamboja. Data menunjukkan hanya 1,75 juta wisatawan mancanegara yang datang pada paruh pertama tahun ini, merosot tajam dibanding 3,36 juta pada periode yang sama tahun lalu. Hak menyebut sejumlah faktor pemicu, mulai dari pemberitaan negatif, jaringan penipuan berbasis teknologi, ketegangan di perbatasan dengan Thailand, hingga konflik geopolitik Timur Tengah yang mendongkrak harga bahan bakar dan menekan permintaan perjalanan global.
Bagi Indonesia, model kampanye seperti ini relevan untuk ditiru. Destinasi di dalam negeri, terutama yang memiliki situs budaya dan alam, dapat mengadopsi pola bersepeda massal untuk menarik wisatawan sekaligus memberdayakan masyarakat. Selain itu, penanaman pohon sebagai bagian dari kegiatan wisata bisa menjadi nilai jual ekowisata yang semakin diminati.
“Perpaduan ini memberi pengalaman segar, mendorong perjalanan domestik dan mancanegara, serta menjadikan Takeo destinasi hidup, terutama di Green Season.” — Huot Hak, Menteri Pariwisata Kamboja
Ke depan, keberlanjutan program semacam ini akan menentukan apakah pariwisata Kamboja mampu bangkit kembali. Pertanyaannya, mampukah inisiatif serupa diadopsi secara lebih luas oleh negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk memulihkan sektor yang terdampak pandemi dan krisis global?



