Misi Crew-13 Dimulai, Astronaut Kanada akan Saksikan Kelahiran Anak dari Orbit
Baca dalam 60 detik
- Empat astronaut meluncur ke ISS untuk misi enam bulan, membawa riset Parkinson dan pertanian luar angkasa.
- Joshua Kutryk akan menjadi ayah dari anak ketiga saat berada di orbit, fenomena langka dalam sejarah antariksa.
- Peluncuran tertunda akibat kebocoran oksidator, namun berhasil lepas landas dari Cape Canaveral.

Empat astronaut memulai perjalanan enam bulan ke Stasiun Antariksa Internasional (ISS) pada Rabu, 1 Oktober, setelah lepas landas dari Kompleks Peluncuran 40 di Cape Canaveral, Florida. Misi SpaceX Crew-13 ini membawa NASA astronaut Jessica Watkins dan Luke Delaney, astronaut Badan Antariksa Kanada Joshua Kutryk, serta kosmonaut Roscosmos Sergey Teteryatnikov. Peluncuran sempat diwarnai kekhawatiran cuaca buruk, tetapi akhirnya berjalan sukses sekitar pukul 11.10 waktu setempat.
Misi ini bukan sekadar rutinitas pergantian kru. Crew-13 akan melakukan serangkaian eksperimen yang berpotensi memperluas pemahaman manusia tentang pengobatan penyakit degeneratif dan ketahanan pangan di luar angkasa. Menurut Dana Weigel, manajer Program Orbit Bumi Rendah NASA di Johnson Space Center, kru akan meneliti sel punca untuk terapi Parkinson, menguji produksi tanaman di lingkungan mikrogravitasi, serta menguji peralatan diagnostik baru untuk memantau kesehatan astronaut. Penelitian ini menjadi fondasi bagi misi jangka panjang ke Bulan dan Mars.
Bagi Kutryk, misi ini menyimpan cerita personal yang mendalam. Ia akan melewatkan kelahiran anak ketiganya bersama sang istri, Heather. Bayi tersebut diperkirakan lahir sekitar perayaan Thanksgiving, kira-kira dua bulan setelah misi berjalan. Menurut laporan CBS, keluarga Kutryk akan menjadi pasangan keempat yang menyambut kelahiran anak saat salah satu orang tua berada di luar planet Bumi. Sebelum peluncuran, Kutryk menulis di platform X, "Meninggalkan tiga anak (plus satu yang akan datang) adalah hal tersulit yang pernah saya lakukan." Ia juga mengutip penjelajah Norwegia Fridtjof Nansen tentang beratnya meninggalkan rumah untuk ekspedisi.
"Saya tumbuh besar tidak jauh dari sini. Saya biasa menonton peluncuran Space Shuttle, dan sekarang saya akan melihatnya dari sudut pandang yang sedikit berbeda." — Luke Delaney, pilot Crew-13
Kisah Kutryk menyoroti dimensi manusiawi dari eksplorasi antariksa yang kerap luput dari perhatian publik. Di balik kemajuan teknologi dan sains, para astronaut menghadapi konsekuensi emosional yang tidak kecil. Kutryk bahkan membawa jam saku berusia lebih dari 100 tahun sebagai pusaka keluarga, simbol refleksi tentang perubahan zaman. "Jika dalam seratus tahun terakhir perubahan begitu besar, berapa banyak lagi yang bisa berubah jika kita melakukan hal yang benar pada seratus tahun ke depan?" ujarnya dalam konferensi pers Agustus lalu.
Misi Crew-13 juga menandai tonggak penting bagi Jessica Watkins, yang sebelumnya terbang pada misi Crew-4 tahun 2022. Watkins adalah perempuan kulit hitam pertama yang bergabung dengan kru ISS, dan telah menghabiskan total 170 hari di luar angkasa. Sementara itu, Luke Delaney, seorang aviator angkatan laut, melakukan penerbangan perdananya. Ia dihormati oleh almamaternya, Deltona High School, yang menggelar "Luke Delaney Day" menjelang peluncuran.
Peluncuran Crew-13 sempat tertunda lebih dari sebulan. Pada Agustus, NASA mendeteksi kebocoran oksidator di sistem propulsi, dan penundaan kembali terjadi pada September untuk mengganti katup. Administrator NASA Jared Isaacman menyebut peluncuran ini sebagai "awal yang luar biasa" dan berjanji akan mengawal misi dengan saksama. Setelah tiba di ISS, Crew-13 akan mengambil alih dari Crew-12 yang telah bertugas sejak Februari dan dijadwalkan kembali ke Bumi pada awal pekan ini, mendarat di lepas pantai California Selatan.
Keberhasilan misi ini tidak hanya berdampak pada sains, tetapi juga pada industri antariksa komersial yang semakin kompetitif. SpaceX sebagai mitra NASA dalam Program Kru Komersial terus menunjukkan kemampuan operasionalnya, meski harus menghadapi tantangan teknis. Bagi Indonesia, perkembangan ini bisa menjadi cermin pentingnya investasi dalam riset kedirgantaraan dan teknologi medis. Meskipun Indonesia belum memiliki program antariksa berawak, kolaborasi internasional dalam penelitian sel punca dan pertanian luar angkasa dapat membuka peluang bagi peneliti tanah air untuk terlibat dalam proyek global.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Crew-13 akan sukses menjalankan eksperimennya, tetapi juga bagaimana pengalaman para astronaut—terutama Kutryk yang akan menjadi ayah dari orbit—mempengaruhi cara kita memandang eksplorasi ruang angkasa. Apakah pengorbanan personal semacam ini akan semakin lazim seiring ambisi manusia menuju Mars? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: batas antara kehidupan pribadi dan misi kemanusiaan semakin tipis di era antariksa komersial.



