Sri Lanka Percepat Rehabilitasi Irigasi: 100 Proyek Ditargetkan Sebelum Musim Hujan
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Sri Lanka mengucurkan 1 miliar rupee untuk merehabilitasi irigasi skala kecil di tengah kekeringan yang melanda wilayah pertanian.
- Program tiga tahun senilai 3 miliar rupee ini menargetkan 100 proyek tahun ini, mencakup waduk, kanal, dan bendungan di berbagai distrik.
- Rehabilitasi diharapkan selesai sebelum hujan datang pada akhir September, sehingga cadangan air dapat dimaksimalkan.

Pemerintah Sri Lanka mempercepat perbaikan infrastruktur irigasi skala kecil di tengah kekeringan yang berkepanjangan, dengan target menyelesaikan 100 proyek sebelum musim hujan tiba. Langkah ini diambil untuk memastikan pasokan air bagi para petani padi yang terdampak kekeringan di beberapa provinsi utama.
Dalam program tiga tahun senilai 3 miliar rupee Sri Lanka (sekitar 9 juta dolar AS), pemerintah mengalokasikan 1 miliar rupee (sekitar 3 juta dolar AS) untuk tahun ini. Wakil Menteri Pertanahan dan Irigasi, Aravinda Senarath, menyatakan bahwa 100 proyek akan dikerjakan, dengan masing-masing 10 proyek di sepuluh distrik terpilih. Proyek tersebut meliputi perbaikan waduk kecil, kanal, dan bendungan yang dikelola oleh Departemen Pengembangan Agraria.
Program yang dimulai pada 1 Juli di Mullaitivu ini kini telah meluas ke Anuradhapura, Kurunegala, Hambantota, dan Puttalam. Wilayah Monaragala dijadwalkan menyusul dalam waktu dekat. Percepatan ini dilakukan karena para petani padi di Provinsi Utara, Tengah Utara, Timur, dan Uva menghadapi kesulitan akibat kondisi kering yang berkepanjangan. Sebagian besar waduk kecil di berbagai distrik telah mengering, sementara beberapa waduk besar masih menyimpan air.
Pemerintah berupaya menyelesaikan rehabilitasi sebelum hujan diperkirakan turun mulai akhir September atau Oktober. Dengan demikian, waduk yang telah diperbaiki dapat menampung lebih banyak air selama periode hujan. Senarath menambahkan bahwa pasokan air minum melalui sistem Sungai Mahaweli dan air untuk irigasi saat ini masih dikelola tanpa gangguan berarti. Cadangan air di waduk akan digunakan secara hati-hati selama dua bulan ke depan, dengan rencana pengelolaan terpisah untuk sistem Mahaweli dan irigasi umum.
Kekeringan yang melanda Sri Lanka merupakan bagian dari fenomena yang lebih luas di kawasan Asia Selatan, yang juga berdampak pada negara-negara tetangga seperti India dan Bangladesh. Bagi Indonesia, situasi ini menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan air yang adaptif di tengah perubahan iklim. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia telah memperingatkan potensi kekeringan di sejumlah wilayah pada musim kemarau, sehingga investasi dalam infrastruktur irigasi dan teknologi hemat air menjadi krusial.
Para ahli menilai bahwa rehabilitasi irigasi skala kecil merupakan strategi yang efektif untuk meningkatkan ketahanan pangan, terutama bagi petani kecil yang bergantung pada hujan. Namun, mereka juga menggarisbawahi perlunya pendekatan terpadu yang melibatkan partisipasi masyarakat dan pemantauan berkelanjutan. Keberhasilan program ini akan menjadi ujian bagi pemerintah Sri Lanka dalam mengelola sumber daya air secara berkelanjutan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah percepatan rehabilitasi ini cukup untuk mengatasi dampak kekeringan yang semakin sering terjadi. Dengan musim hujan yang diprediksi datang dalam beberapa bulan, efektivitas program akan terlihat dari kemampuan waduk-waduk tersebut menampung air dan mendukung produktivitas pertanian. Jika berhasil, model ini bisa menjadi referensi bagi negara-negara berkembang lainnya, termasuk Indonesia, dalam menghadapi tantangan serupa.



