Pemprov DKI Kembali Gelar Operasi Modifikasi Cuaca Jumat Ini, Targetkan Hujan Lebih Deras
Baca dalam 60 detik
- Pemprov DKI Jakarta menjadwalkan penerbangan modifikasi cuaca pada Jumat (21/8) untuk mengoptimalkan potensi hujan gerimis menjadi lebih deras.
- Operasi ini merupakan lanjutan dari upaya serupa yang berhasil memicu hujan di Jakarta pada Rabu (19/8), meski efektivitasnya diakui tidak selalu pasti.
- Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka pendek Pemprov dalam mengelola risiko banjir, dengan harapan hujan buatan dapat mengurangi genangan di ibu kota.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali menjadwalkan operasi modifikasi cuaca (OMC) pada Jumat, 21 Agustus 2026, menyusul prakiraan munculnya awan hujan di wilayah ibu kota. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, telah memerintahkan persiapan penerbangan untuk menyemai awan, dengan harapan dapat mengubah hujan gerimis menjadi curah hujan yang lebih signifikan dan bermanfaat bagi warga.
Langkah ini bukan tanpa pertimbangan. Pramono menegaskan bahwa OMC hanya dapat dieksekusi jika terdapat awan yang memadai di langit. Berdasarkan prakiraan cuaca, Jumat diprediksi akan terjadi hujan gerimis. Dari kondisi tersebut, pemerintah berupaya mengoptimalkannya dengan menyemai garam atau bahan lain agar intensitas hujan meningkat. "Yang terpenting, jangan sampai menimbulkan banjir," ujarnya di Jakarta Selatan, Kamis (20/8).
Keputusan ini merupakan kelanjutan dari operasi serupa yang dilakukan pada Rabu (19/8) lalu, yang berhasil mengguyur sejumlah wilayah Jakarta. Namun, Pramono mengakui bahwa efektivitas OMC tidak bisa dijamin sepenuhnya. "Kalau diterbangkan, apakah terjadi hujan atau tidak, itu belum tentu. Hujan itu ciptaan Tuhan, tapi kalau tidak ada upaya, saya rasa juga kurang baik," jelasnya. Pernyataan ini mencerminkan sikap pragmatis pemerintah dalam menghadapi ketidakpastian cuaca.
OMC sejatinya adalah teknologi rekayasa cuaca yang telah lama digunakan di Indonesia, terutama untuk mengatasi kekeringan atau mencegah hujan ekstrem. Dalam konteks Jakarta, operasi ini menjadi salah satu alat untuk mengelola risiko banjir, terutama di musim pancaroba. Meski demikian, para ahli meteorologi mengingatkan bahwa efektivitas OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer, dan hasilnya tidak selalu konsisten.
Bagi warga Jakarta, kehadiran hujan buatan ini membawa harapan sekaligus kekhawatiran. Di satu sisi, hujan deras dapat membantu membersihkan udara dan mengisi waduk. Namun, di sisi lain, jika intensitasnya berlebihan, justru berpotensi memicu genangan di titik-titik rawan. Pemerintah pun terus memantau perkembangan cuaca dan siap melakukan evaluasi setelah operasi Jumat nanti.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah seberapa sering OMC akan digelar dan apakah ada strategi jangka panjang yang lebih komprehensif untuk mengatasi masalah banjir di Jakarta. Pramono sebelumnya sempat menyatakan dukungannya untuk melakukan modifikasi cuaca dua kali seminggu, namun hal ini masih menunggu kajian lebih lanjut. Akankah teknologi ini menjadi solusi permanen, atau hanya sekadar alat darurat di tengah ketidakpastian iklim? Waktu yang akan menjawab.



