Hujan 851 mm Landa Korea Selatan: Satu Tewas, Ratusan Dievakuasi
Baca dalam 60 detik
- Curah hujan ekstrem hingga 851 mm memicu banjir dan tanah longsor di Gyeongsang Selatan, menewaskan satu orang dan melukai tiga lainnya.
- Kejadian ini membalikkan kekeringan parah yang melanda wilayah tersebut, dengan total hujan tiga hari mencapai 90% dari rata-rata musiman.
- Para ahli mengaitkan bencana ini dengan sisa Topan Dolphin dan suhu laut hangat, menyoroti pola cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.

GEOJE โ Hujan deras dengan intensitas luar biasa mengguyur Provinsi Gyeongsang Selatan, Korea Selatan, sejak akhir pekan hingga Senin (17/8/2026), memicu banjir bandang dan tanah longsor yang menewaskan sedikitnya satu orang serta melukai tiga lainnya. Sekitar 150 warga terpaksa mengungsi setelah curah hujan mencapai rekor tertinggi, merendam jalan-jalan utama dan memutus akses di sejumlah wilayah pesisir.
Menurut Administrasi Meteorologi Korea (KMA), Geoje mencatat curah hujan 851,1 milimeter sejak Sabtu tengah malam hingga Senin pukul 13.00 waktu setempat. Kota tetangga Tongyeong menerima 704,8 mm, sementara Sacheon 380,5 mm dan Gadeokdo di Busan diguyur 441 mm. Yang lebih ekstrem, Geoje mengalami hujan 124,5 mm dalam satu jam pada pukul 01.32 โ rekor tertinggi sepanjang sejarah pencatatan di kota itu. Tongyeong juga memecahkan rekor dengan 97,4 mm per jam pada pukul 05.11.
Akumulasi hujan selama tiga hari tersebut setara dengan 90 persen dari total curah hujan rata-rata untuk periode Juni-Agustus di wilayah itu. Badan Penanggulangan Kebakaran Nasional melaporkan satu orang tewas dan dua luka ringan setelah tanah longsor menimpa lantai dasar sebuah apartemen di Okpo-dong, Geoje, sekitar pukul 04.32. Di Tongyeong, seorang warga berhasil diselamatkan setelah tertimbun longsor pada pukul 05.05. Longsor juga menutup sejumlah ruas jalan nasional, termasuk Rute Nasional 33 di Goseong.
Warga dihantui sirene peringatan darurat yang berbunyi berulang kali sepanjang malam. Seorang warga Geoje bernama Jeong (50-an) menuturkan, "Tiga kali saya terbangun oleh peringatan darurat di ponsel. Setiap kali hendak tertidur, alarm berbunyi lagi meminta evakuasi." Ia menambahkan bahwa kawasan rendah dilaporkan terendam dan kacau. Kondisi banjir di beberapa daerah pesisir diperparah oleh pasang laut yang tinggi.
Dampak bencana ini terasa luas. Transportasi umum di sebagian Geoje lumpuh, dan perusahaan besar seperti Hanwha Ocean serta Samsung Heavy Industries mengizinkan karyawan bekerja dari rumah. Hingga Senin siang, otoritas setempat menerima 1.947 laporan terkait hujan deras di Geoje dan Tongyeong, dan petugas pemadam kebakaran berhasil mengevakuasi 136 orang. Perdana Menteri Han Seong-sook memerintahkan polisi, pemadam kebakaran, dan otoritas keselamatan untuk mengerahkan seluruh sumber daya guna menyelamatkan warga dan membuka tempat penampungan darurat.
Yang mengejutkan, bencana ini datang hanya beberapa hari setelah wilayah yang sama dilanda kekeringan parah. Sejak 1 Juli hingga Sabtu, Gyeongsang Selatan hanya menerima 141,8 mm hujan โ sekitar 19 persen dari rata-rata periode tersebut. Kekeringan itu memengaruhi sekitar 5.700 rumah tangga dan 2.100 hektare lahan pertanian, dengan banyak tanaman layu. Kini, dalam hitungan hari, wilayah itu berubah menjadi zona banjir.
KMA menjelaskan bahwa hujan ekstrem ini dipicu oleh kombinasi sistem tekanan rendah sisa Topan Dolphin yang bergerak ke timur laut, serta aliran udara selatan yang hangat dan lembap. Koridor sempit antara sistem tekanan rendah dan tekanan tinggi di timur laut Korea memperkuat angin selatan yang membawa uap air berlimpah dari laut dengan suhu permukaan 27โ28 derajat Celsius. Saat udara lembap ini dipaksa naik oleh pegunungan di pesisir selatan dan Pulau Jeju, terjadilah hujan dengan intensitas luar biasa.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim. Pola yang sama โ kekeringan berkepanjangan yang disusul hujan deras โ juga rentan terjadi di wilayah kepulauan Indonesia, terutama di musim pancaroba. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berulang kali memperingatkan potensi hujan lebat yang dipicu oleh anomali suhu laut dan sirkulasi atmosfer. Kejadian di Korea Selatan menunjukkan bahwa transisi dari kekeringan ke banjir bisa terjadi sangat cepat, menuntut kesiapsiagaan infrastruktur dan sistem peringatan dini yang mumpuni.
Hingga Senin sore, sebagian besar awan hujan telah bergeser keluar dari Korea, dengan sisa hujan ringan diperkirakan masih turun di Gyeongsang Selatan dan Jeju. Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah kejadian ini merupakan anomali sesaat atau bagian dari tren baru yang lebih sering? Dengan suhu laut yang terus menghangat, risiko kejadian serupa di masa depan semakin nyata, baik di Korea maupun di negara-negara tropis seperti Indonesia.



