Hujan Deras dan Pasang Tinggi Kembali Melumpuhkan Chattogram: Banjir Musiman yang Tak Kunjung Usai
Baca dalam 60 detik
- Curah hujan 189 mm dalam 24 jam dan pasang laut tinggi memicu banjir di berbagai kawasan Chattogram, mengganggu transportasi dan aktivitas warga.
- Empat proyek drainase senilai lebih dari Tk 14.000 crore mangkrak dan molor, memperparah genangan yang terjadi hampir setiap musim hujan.
- Para ahli menilai proyek yang ada tidak memperhitungkan kondisi geografis kota, sehingga risiko banjir diperkirakan masih akan berulang dalam beberapa tahun ke depan.

Hujan deras yang mengguyur Chattogram sejak dini hari kembali mengubah jalan-jalan utama kota pelabuhan terbesar kedua di Bangladesh itu menjadi kubangan air. Badan Meteorologi Patenga mencatat curah hujan mencapai 189 milimeter dalam 24 jam hingga pukul 09.00 waktu setempat, dengan intensitas tertinggi 81 milimeter hanya dalam tiga jam. Air yang bercampur pasang laut langsung merendam kawasan komersial dan permukiman, memutus akses transportasi, dan memaksa ribuan warga mengarungi genangan setinggi lutut hingga pinggang.
Genangan kali ini melanda titik-titik yang nyaris sama dengan banjir Juli lalu, seperti Katalganj, Bakalia, Chawkbazar, New Market, Reazuddin Bazar, Kapasgola, Agrabad, Halishahar, dan Chandgaon. Bahkan ruas jalan layang Akhtaruzzaman Chowdhury ikut tergenang, memperlambat laju kendaraan. Di tengah situasi itu, kelangkaan gas untuk kendaraan berbahan bakar CNG memperparah mobilitas warga. Banyak angkutan umum tidak beroperasi, membuat pekerja dan pelajar kesulitan mencapai tujuan.
Keluhan warga menggambarkan siklus tahunan yang tak kunjung menemukan jalan keluar. Abdul Aziz, penghuni Katalganj, menuturkan bahwa ia kembali menghadapi mimpi buruk yang sama seperti tiga hari berturut-turut pada Juli lalu. "Setiap musim hujan selalu begini, tapi tidak ada solusi permanen," ujarnya. Senada dengan itu, Mostafa Kamal dari Chawkbazar mengaku kesulitan menemukan kendaraan saat berangkat kerja, sehingga penderitaan berlipat akibat kombinasi hujan dan minimnya transportasi.
Dampak ekonomi pun mulai terasa. Sejumlah kios di lantai dasar Chawk Super Market terendam air kotor. Md Munna, seorang pedagang, memperkirakan kerugiannya mencapai Tk 2 lakh akibat barang dagangan yang rusak. Kejadian ini menegaskan bahwa banjir perkotaan bukan sekadar gangguan mobilitas, tetapi juga pukulan bagi sektor usaha kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi warga.
Di balik genangan yang melumpuhkan, para perencana kota menyoroti mandeknya empat proyek drainase dan pengendalian banjir dengan total anggaran lebih dari Tk 14.000 crore. Proyek yang digarap Chattogram Development Authority (CDA), Bangladesh Water Development Board (WDB), dan Chattogram City Corporation (CCC) itu seluruhnya meleset dari tenggat. Proyek renovasi 36 kanal primer yang dimulai 2017 bahkan membengkak dari Tk 5.616 crore menjadi Tk 8.626 crore, dan baru mencapai 95 persen penyelesaian.
Keterlambatan itu diperparah dengan penghentian sementara pekerjaan di sejumlah kanal sejak akhir April. Bendungan tanah darurat yang dibangun untuk konstruksi justru menjebak air hujan dan memicu banjir di kawasan seperti Persimpangan Probarttak. Setelah protes publik pada 29 April, Kementerian Pemerintahan Daerah memerintahkan pembongkaran bendungan tersebut, namun pekerjaan di Hizra Khal, Jamal Khan Khal, dan Chaktai Khal baru akan dilanjutkan setelah Oktober. Padahal, menurut Executive Engineer CDA Ahmed Mainuddin, hanya tersisa 15-20 hari kerja untuk menyelesaikan kanal-kanal kunci, tetapi hujan yang tak tepat waktu kembali menghambat.
Direktur Proyek, Letkol Md Mohsinul Haque Chowdhury, optimistis bahwa setelah rampung, proyek ini mampu mengurangi genangan hingga 75 persen. Namun, para ahli meragukan efektivitasnya. Engineer Delwar Majumder, mantan ketua Institute of Engineers Bangladesh cabang Chattogram, mengingatkan bahwa pasang laut dapat mendorong muka air hingga lebih dari lima meter, sementara sebagian wilayah kota hanya berada dua hingga tiga meter di atas permukaan laut. Ia juga menyayangkan fokus proyek yang hanya menyentuh 36 dari 57 kanal yang tersisaโpadahal historisnya ada 104 kanalโtanpa membangun kolam retensi sebagaimana direkomendasikan Master Plan 1995. Tanpa itu, kata Majumder, Chattogram akan terus berjibaku dengan genangan dalam beberapa tahun mendatang.
Bagi Indonesia, kisah Chattogram menjadi cermin bagi kota-kota pesisir seperti Jakarta, Semarang, atau Makassar yang menghadapi tantangan serupa: banjir rob yang kian intensif akibat perubahan iklim dan penurunan muka tanah. Kegagalan infrastruktur drainase yang tidak terintegrasi dengan kondisi geografis, serta proyek yang molor, adalah pelajaran berharga bahwa solusi jangka pendek tidak akan pernah cukup. Pertanyaannya, apakah pemerintah kota-kota di Indonesia akan belajar dari pengalaman Chattogram sebelum air laut benar-benar mengambil alih?



