Gempa Flores: 228 Rumah Rusak, 814 Warga Masih Mengungsi, Wamenkes Turun ke Maumere
Baca dalam 60 detik
- BPBD Sikka mencatat 228 rumah dan 60 fasilitas umum rusak akibat gempa Flores, dengan 814 pengungsi tersebar di sejumlah titik.
- Wakil Menteri Kesehatan meninjau langsung RSUD dr. TC Hillers dan memastikan layanan kesehatan tetap berjalan meski banyak pasien dirawat di tenda.
- Bantuan dari pemerintah pusat, BNPB, dan lembaga lain terus mengalir, sementara fokus kini pada pemulihan layanan dasar dan koordinasi medis.

Dua hari setelah gempa bumi mengguncang Pulau Flores, Kabupaten Sikka masih bergulat dengan dampak yang meluas: 228 unit rumah warga dan 60 fasilitas umum dilaporkan rusak, sementara 814 orang masih bertahan di pusat pengungsian Gelora Samador, Maumere. Angka ini menjadi dasar evaluasi cepat bagi pemerintah daerah dan pusat dalam menyalurkan bantuan serta memulihkan layanan publik yang sempat terganggu.
Berdasarkan data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sikka yang disampaikan Plt. Sekda sekaligus Kepala BPBD, Margaretha Movaldes Da Maga Bapa, dalam konferensi pers Minggu malam (16/8/2026), jumlah pengungsi mengalami penurunan signifikan—dari 1.264 orang pada hari pertama menjadi 814 orang. Penurunan 450 orang ini terjadi karena sebagian warga memilih kembali ke rumah keluarga, meski sebaran pengungsi masih tercatat di beberapa lokasi seperti samping Gereja Wolomarang (150 orang), Dusun Kangae (5 orang), dan Dusun Nitung (10 orang).
Kerusakan terparah konsentrasi di Kecamatan Palue dengan 141 rumah rusak, disusul Bola (24 unit), Tanawawo (15 unit), dan Alok Barat (12 unit). Fasilitas umum yang terdampak meliputi 11 gedung pendidikan, 10 fasilitas kesehatan, 10 rumah ibadah, serta 9 bangunan pemerintah. Sementara itu, korban jiwa tercatat 24 orang, terdiri dari 4 meninggal dunia, 8 luka berat, 6 luka ringan, dan 6 lainnya dalam pendataan.
Di tengah penanganan darurat, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus meninjau langsung RSUD dr. TC Hillers di Maumere. Ia mengapresiasi kinerja tenaga medis yang tetap menjalankan prosedur operasional standar (SOP) meski sebagian besar pasien harus dirawat di tenda dan selasar rumah sakit. "Saya lihat sendiri, saya berterima kasih untuk semua tenaga medis di sini. Saya sangat kagum," ujarnya. Wamenkes juga memastikan tim Pusat Krisis Kementerian Kesehatan akan berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan setempat untuk memenuhi kebutuhan medis yang belum terpenuhi.
Arus bantuan dari berbagai lembaga—presiden, BNPB, kementerian sosial, kementerian kesehatan, perbankan, hingga LSM—terus mengalir dan mulai disalurkan ke pengungsian maupun desa-desa terdampak. Namun, tantangan logistik masih membayangi, terutama untuk menjangkau kecamatan kepulauan seperti Palue yang aksesnya terbatas. Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci agar bantuan tepat sasaran, sebagaimana ditegaskan Wamenkes: "Kalian minta apa, kita lengkapi. Supaya tepat sasaran, apa yang dibutuhkan, kita kirim."
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah bagaimana memastikan pemulihan layanan pendidikan dan kesehatan berjalan cepat, mengingat banyak fasilitas yang rusak. Apakah relokasi atau rekonstruksi permanen akan menjadi prioritas, atau justru perbaikan darurat yang lebih dulu dilakukan? Jawabannya akan menentukan seberapa cepat warga Sikka bisa kembali menjalani kehidupan normal pascagempa.



