Kereta Ekspres Bertema Dewa Penjaga Arah Mata Angin Mulai Beroperasi di Rute Nara
Baca dalam 60 detik
- Kintetsu Railway meluncurkan kereta ekspres terbatas Asuka-Fujiwara Shijin Liner yang terinspirasi warisan budaya dunia.
- Desain kereta menampilkan empat makhluk mitologis dari lukisan dinding makam kuno, menambah daya tarik wisata sejarah Nara.
- Layanan ini diharapkan mendongkrak kunjungan wisatawan, sejalan dengan tren pariwisata budaya di Asia.

Perusahaan kereta api swasta Jepang, Kintetsu Railway, resmi mengoperasikan layanan kereta ekspres terbatas bernama Asuka-Fujiwara Shijin Liner, yang desainnya terinspirasi dari situs warisan budaya dunia "Ibukota Kuno Asuka dan Fujiwara" di Prefektur Nara. Kereta ini mulai melayani rute dari Stasiun Osaka-Abenobashi menuju Stasiun Yoshino, melewati Kota Kashihara dan Desa Asuka, dua kawasan yang menyimpan jejak peradaban Jepang kuno. Kehadiran kereta ini bukan sekadar moda transportasi baru, melainkan juga upaya menghidupkan kembali narasi sejarah melalui pengalaman perjalanan yang berbeda.
Yang menarik perhatian, seluruh bodi kereta dihiasi gambar empat dewa penjaga arah mata angin dalam mitologi Tiongkok-Jepang: Naga Biru (Seiryu), Burung Merah (Suzaku), Macan Putih (Byakko), dan Kura-kura Hitam (Genbu). Motif ini diambil dari lukisan dinding yang menghiasi dinding makam kuno di kawasan Asuka, yang dikenal sebagai pusat politik dan budaya Jepang pada abad ke-6 hingga ke-8. Dengan demikian, setiap perjalanan menjadi semacam museum bergerak yang memperkenalkan warisan budaya kepada penumpang.
Peluncuran kereta ini bertepatan dengan momentum pengakuan UNESCO terhadap situs "Ancient Capitals of Asuka and Fujiwara" sebagai Warisan Budaya Dunia. Langkah Kintetsu Railway dinilai sebagai respons cerdas terhadap meningkatnya minat wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, terhadap destinasi sejarah di Jepang. Menurut pengamat pariwisata, integrasi antara transportasi dan promosi budaya seperti ini dapat memperpanjang durasi tinggal wisatawan dan meningkatkan belanja di daerah.
Bagi Indonesia, fenomena ini memberikan pelajaran berharga. Negeri ini memiliki kekayaan situs bersejarah yang tak kalah banyak, seperti Candi Borobudur, Prambanan, atau kawasan kota tua di berbagai daerah. Namun, pengemasan transportasi umum sebagai bagian dari atraksi wisata masih jarang dilakukan. Padahal, moda transportasi bertema budaya dapat menjadi daya tarik tersendiri, sebagaimana yang dicontohkan Jepang. Jika Indonesia mampu mengadopsi pendekatan serupa, bukan tidak mungkin sektor pariwisata dan perkeretaapian nasional bisa menuai manfaat ganda.
Kehadiran Asuka-Fujiwara Shijin Liner juga menjadi contoh bagaimana perusahaan swasta dapat berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam melestarikan sejarah. Dengan menghadirkan elemen visual yang kuat, kereta ini tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi, tetapi juga sebagai media edukasi publik. Penumpang, terutama generasi muda, diajak mengenal mitologi dan sejarah melalui desain yang menarik. Ini sejalan dengan tren global yang mengedepankan wisata edukatif dan berkelanjutan.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Keberhasilan kereta ini dalam menarik penumpang akan sangat bergantung pada strategi pemasaran dan dukungan fasilitas pendukung di sepanjang rute. Kintetsu Railway perlu memastikan bahwa pengalaman di dalam kereta sepadan dengan ekspektasi wisatawan yang datang dari jauh. Selain itu, koordinasi dengan otoritas situs warisan budaya diperlukan agar tidak terjadi penumpukan wisatawan yang justru merusak situs.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah inisiatif serupa akan diadopsi oleh operator kereta api lain di Jepang, atau bahkan di negara-negara Asia lainnya yang memiliki kekayaan sejarah. Jika tren ini meluas, kita mungkin akan melihat lebih banyak kereta bertema budaya yang tidak hanya memindahkan orang, tetapi juga membawa cerita dan identitas suatu bangsa. Bagi Indonesia, peluang untuk meniru sukses ini terbuka lebarโtinggal bagaimana kreativitas dan kemauan politik untuk mewujudkannya.



