Hubner Bela Herdman: Kritik Tak Adil, Dedikasi Pelatih Luar Biasa
Baca dalam 60 detik
- Indonesia melaju ke final FIFA ASEAN Cup 2026 dengan keunggulan selisih gol atas Malaysia setelah drama tujuh gol dan tambahan dua gol di menit akhir.
- Justin Hubner menilai tekanan publik terhadap John Herdman berlebihan dan menegaskan dedikasi pelatih asal Inggris itu patut dihormati.
- Dukungan suporter dianggap krusial menjelang partai puncak melawan Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno, 5 Oktober 2026.

Timnas Indonesia memastikan diri melaju ke partai final FIFA ASEAN Cup 2026 setelah melewati drama ketat perebutan tiket dari Grup A. Kepastian itu diraih bukan melalui kemenangan besar, melainkan lewat perhitungan selisih gol yang membuat Malaysia tersingkir meski sama-sama mengoleksi tujuh poin dari tiga pertandingan.
Pada laga terakhir yang digelar di Bandung, Malaysia menghancurkan Singapura dengan skor 6-0 dan sempat berada di posisi atas. Situasi berubah ketika Indonesia yang sempat memimpin 7-1 justru kebobolan pada menit 90+1, sehingga memaksa pasukan Garuda menambah dua gol lagi untuk kembali mengungguli Malaysia dalam selisih gol. Gol tambahan itu lahir melalui Kevin Diks dan Mitchell Baker, memastikan Indonesia lolos ke final untuk menantang Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Senin, 5 Oktober 2026.
Keberhasilan ini sekaligus menjadi titik balik bagi John Herdman yang sebelumnya mendapat sorotan tajam. Pada dua laga awal turnamen, performa tim dinilai belum memenuhi ekspektasi, memicu gelombang kritik dari pengamat dan sebagian suporter. Namun, hasil di laga penentuan membuktikan bahwa proses yang dibangun pelatih asal Inggris itu mulai menunjukkan hasil.
Bek timnas Indonesia, Justin Hubner, angkat bicara menanggapi kritik yang terus mengalir. Menurutnya, tekanan yang dialamatkan kepada Herdman tidak proporsional dengan kerja nyata yang telah dilakukan. "Jika melihat besarnya energi yang dicurahkan pelatih untuk tim ini, itu luar biasa. Kritik yang ditujukan kepadanya tidak adil, sungguh tidak adil. Dia benar-benar mencurahkan seluruh waktunya, siang dan malam, untuk tim," ujar Hubner dalam sesi jumpa pers.
"Saya menyukai Shin Tae-yong, tapi pelatih yang satu ini benar-benar sosok hebat bagi kami. Dia kelas atas. Dia mampu membawa kami ke level yang lebih tinggi, dan kita patut menghormati serta mengapresiasi dirinya." โ Justin Hubner
Hubner juga menyoroti sikap sebagian suporter yang meneriakkan nama pelatih sebelumnya, Shin Tae-yong, saat laga berlangsung. Baginya, sorakan semacam itu tidak membantu konsentrasi pemain dan justru mengalihkan fokus dari upaya kolektif yang sedang dibangun. Ia menekankan pentingnya atmosfer positif di sekitar tim, terutama menjelang partai puncak yang akan menentukan gelar.
Dari sisi taktik, kelolosan Indonesia ke final menunjukkan kemampuan Herdman meramu strategi dalam situasi tertekan. Pergantian pemain dan instruksi di menit-menit akhir terbukti efektif mendorong tim mencetak gol tambahan yang krusial. Hal ini sekaligus menjawab keraguan atas kemampuannya beradaptasi dengan tekanan turnamen kawasan.
Bagi publik sepak bola nasional, laga final nanti bukan sekadar perebutan trofi. Ini menjadi ujian bagi konsistensi tim dan pembuktian bahwa investasi pada proses kepelatihan membuahkan hasil. Dukungan penuh dari tribun GBK diyakini menjadi faktor non-teknis yang dapat mengangkat mental para pemain.
Pertanyaannya, akankah Herdman mampu mengubah kritik menjadi energi positif dan mempersembahkan gelar pertama bagi Indonesia di ajang ini? Jawabannya akan terlihat pada 5 Oktober mendatang, ketika Thailand menjadi lawan terakhir yang harus ditaklukkan.



