Membangun Identitas Pemuda Brunei: Literasi Informasi Jadi Kunci Capai Visi 2035
Baca dalam 60 detik
- Program dua hari yang digagas Departemen Penerangan Brunei ini mengajak 52 pemuda Belait memahami kebijakan nasional dan bahaya kejahatan siber.
- Inisiatif ini sejalan dengan Visi Brunei 2035, menekankan pengembangan diri dan identitas kebangsaan sebagai modal sosial.
- Ke depan, program serupa berpotensi direplikasi di Indonesia untuk memperkuat literasi digital dan wawasan kebangsaan generasi muda.

Pemerintah Brunei Darussalam menegaskan bahwa pemuda adalah aset nasional yang menentukan arah masa depan negara. Pernyataan ini disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Cabang Penerangan Distrik Belait, Ahmad Fadillah Akhbar Sellahhuddin, saat membuka Program Literasi Informasi untuk Pemuda Distrik Belait di Berakas, Sabtu (15/8). Program yang berlangsung dua hari ini dirancang untuk membekali generasi muda dengan pemahaman tentang kebijakan publik, wawasan kebangsaan, serta keterampilan pengembangan diri.
Sebanyak 52 peserta dari berbagai latar belakangโatlet, anggota asosiasi, mahasiswa dari Pusat Tingkat Enam Belait, Kampus Jefri Bolkiah Institut Pendidikan Teknik Brunei, dan Kampus Lumut Politeknik Brunei, serta pemuda masjid dan komunitas akar rumputโturut ambil bagian. Mereka akan mengikuti serangkaian kegiatan mulai dari pemaparan materi, forum motivasi, hingga kunjungan ke sejumlah instansi terkait.
Program ini merupakan inisiatif Departemen Penerangan di bawah Kantor Perdana Menteri, melalui Cabang Penerangan Distrik Belait. Ahmad Fadillah yang juga menjabat ketua panitia menjelaskan, kegiatan ini mendukung visi departemennya, 'Membentuk Masyarakat yang Melek Informasi', sekaligus memperluas penyampaian informasi mengenai kebijakan dan program pemerintah melalui pendekatan yang relevan. Ia berharap program ini mampu mendorong perkembangan pribadi peserta dan berkontribusi pada pencapaian Visi Brunei 2035, khususnya target kualitas hidup yang tinggi.
Mengusung tema 'Membangun Identitas Pemuda Brunei melalui Kekuatan, Ketahanan, dan Penghargaan Diri', program ini menyisipkan pesan utama dalam setiap aktivitas. Materi yang disajikan mencakup kewaspadaan terhadap kejahatan siber, penipuan, dan 'money mule' oleh Divisi Investigasi Kejahatan Siber Kepolisian Kerajaan Brunei, serta aspirasi pemuda dari Departemen Pemuda dan Olahraga. Selain itu, peserta akan mengikuti forum motivasi bersama Konselor Tamu Universitas Islam Sultan Sharif Ali, Ali Yusri Abdul Ghafor, pendaki dan pengembara Qurratu'aini Qayyimah Dr Al-Haj Zelzy, serta pelari jarak jauh Zainal Azim Zainal Abidin. Pemilik kafe Labibah Shafiee juga akan berbagi pengalaman membangun karier di bidang kuliner.
Kunjungan ke Pusat Al-Islah menjadi salah satu agenda penting untuk memberikan pemahaman tentang peran warga negara, rehabilitasi, integrasi sosial, dan peningkatan kapasitas individu. Sementara itu, workshop Menambat Dastar dan Menapih Sinjang yang difasilitasi Departemen Adat Istiadat Negara akan memperkenalkan tradisi budaya Brunei kepada generasi muda. Kehadiran Pelaksana Tugas Kepala Divisi Komunikasi Strategis, Mufidah Abdul Hakim, menandai dukungan penuh pemerintah terhadap program ini.
Bagi Indonesia, inisiatif Brunei ini menawarkan pelajaran berharga. Di tengah derasnya arus informasi digital, program literasi yang memadukan wawasan kebangsaan dengan keterampilan praktis dapat menjadi model untuk memperkuat ketahanan generasi muda. Pertanyaannya, akankah pemerintah daerah di Indonesia mengadopsi pendekatan serupa untuk membekali pemuda menghadapi tantangan era digital?



