Kalah dari Video Kucing, Proyek Dokumenter Harry dan Meghan Gagal Pikat Penonton Bioskop
Baca dalam 60 detik
- Dokumenter 'Cookie Queens' garapan Archewell Productions milik Pangeran Harry dan Meghan Markle hanya meraup sekitar US$354 ribu dari 446 bioskop pada akhir pekan debutnya.
- Kompetitor tak terduga, 'CatVideoFest 2026', justru mengumpulkan US$569 ribu dari 255 layar, menunjukkan daya tarik konten viral kucing masih mengungguli proyek selebritas.
- Kinerja buruk ini memicu pertanyaan tentang kemampuan Harry dan Meghan dalam mengonversi popularitas mereka menjadi pendapatan penonton, terutama untuk proyek yang tak berkaitan langsung dengan kisah pribadi mereka.

Kekalahan telak menimpa proyek film terbaru Pangeran Harry dan Meghan Markle di bioskop Amerika Serikat. Dokumenter berjudul 'Cookie Queens' yang mereka produksi melalui perusahaan media Archewell Productions hanya meraup sekitar US$354 ribu dari 446 layar pada akhir pekan perilisannya, jauh tertinggal dari kompilasi video kucing viral berdurasi 70 menit yang justru mengumpulkan US$569 ribu dari 255 layar.
Fenomena ini menjadi sorotan tajam di industri hiburan. 'Cookie Queens' yang mengikuti kisah empat pramuka wanita dalam kompetisi penjualan kue, tampaknya gagal menarik minat penonton. Pendapatan per bioskop untuk film ini hanya sekitar US$790, sementara 'CatVideoFest 2026' yang digarap sineas asal Seattle, Will Braden, mencatatkan rata-rata US$2.230 per layar. Perbandingan ini menunjukkan bahwa daya tarik konten sederhana dan menghibur justru lebih unggul dibanding proyek yang sarat gengsi selebritas.
Kegagalan ini kembali memunculkan pertanyaan besar: apakah nama besar Harry dan Meghan masih cukup untuk menjamin kesuksesan komersial? Sebelumnya, pasangan ini sukses besar dengan serial Netflix 'Harry & Meghan' pada 2022 yang mengupas kehidupan pribadi mereka, serta memoar Harry berjudul 'Spare' yang laris manis. Namun, 'Cookie Queens' tidak menawarkan drama personal yang sama, sehingga publik tampaknya tidak terlalu antusias.
Pengamat kerajaan, Kinsey Schofield, yang membawakan podcast YouTube 'Kinsey Schofield Unfiltered', menilai bahwa kemampuan Harry dan Meghan dalam menghasilkan pemberitaan tidak serta-merta berbanding lurus dengan minat penonton membayar. "Mereka tetap sangat efektif dalam menciptakan headline, tapi headline dan pelanggan yang membayar adalah dua hal yang sangat berbeda," ujarnya. Ia juga menyindir kekalahan ini sebagai "penghinaan" yang sulit dihindari, mengingat kalah dari kompilasi video kucing adalah ironi yang pahit.
Namun, perlu dicatat bahwa performa buruk di akhir pekan pertama bukanlah vonis final. Film dokumenter memang kerap kesulitan di bioskop, dan 'Cookie Queens' masuk pasar tanpa elemen sensasional yang melekat pada proyek-proyek sebelumnya. Strategi pemasaran yang mengandalkan promosi Meghan yang sempat bercerita tentang pengalamannya sebagai pramuka wanita, tampaknya belum cukup untuk menggerakkan massa.
Bagi penonton Indonesia, fenomena ini menarik untuk dicermati. Industri hiburan Tanah Air juga kerap menyaksikan proyek yang mengandalkan popularitas figur publik, namun belum tentu berhasil di pasaran. Kasus ini menjadi pelajaran bahwa konten yang autentik dan relevan dengan audiens seringkali lebih berharga daripada sekadar nama besar. Ke depannya, Archewell mungkin perlu mengevaluasi strategi mereka: apakah akan terus mengandalkan daya tarik personal, atau berani bereksperimen dengan format yang lebih dekat dengan selera publik? Pertanyaan ini menjadi penentu bagi kelangsungan karier mereka di industri film.



