Ritual Kuno di Kuil Jepang: 400 Kg Plum Dijemur untuk Keberuntungan Tahun Baru 2027
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 400 kilogram plum hasil panen Juni lalu tengah melalui proses penjemuran tradisional di Kuil Hofu Tenmangu, Yamaguchi, Jepang.
- Plum yang diasinkan sejak Agustus ini akan dibagikan kepada pengunjung sebagai simbol keberuntungan saat Tahun Baru 2027.
- Tradisi ini mengakar pada sejarah Sugawara no Michizane, cendekiawan yang mencintai bunga plum, dan kini menjadi daya tarik budaya yang lestari.

Di tengah hiruk pikuk modernitas Jepang, sebuah ritual kuno tetap dijaga dengan penuh ketekunan. Sebanyak 400 kilogram plum yang dipanen dari kebun Kuil Hofu Tenmangu di Prefektur Yamaguchi kini tengah dijemur di bawah sinar matahari. Proses ini bukan sekadar pengawetan buah, melainkan bagian dari persiapan tahunan untuk memproduksi 'Ofuku Ume', acar plum asam yang diyakini membawa keberuntungan bagi siapa pun yang menyantapnya.
Kuil yang didedikasikan untuk Sugawara no Michizane, seorang cendekiawan dan pejabat istana yang terkenal akan kecintaannya pada bunga plum, ini memiliki hamparan kebun seluas sekitar 6.600 meter persegi dengan lebih dari 1.100 pohon plum. Setiap tahun, buah-buah yang jatuh dari pohon-pohon tersebut diolah dengan garam, lalu dijemur selama berminggu-minggu. Tahun ini, penjemuran dimulai pada 12 Agustus dan dijadwalkan berlangsung hingga 26 Agustus mendatang.
Yang menarik, proses penjemuran ini melibatkan peran para 'miko', atau gadis kuil, yang setiap hari membalik-balik plum agar kering secara merata. Sekitar 100 keranjang berisi plum tersusun rapi di area terbuka kuil. Para miko dengan cekatan mengguncang keranjang dan membolak-balik buah, sebuah pekerjaan yang menuntut kesabaran dan ketelitian. Mai Minami, salah seorang miko berusia 29 tahun, mengungkapkan harapannya agar mereka yang menikmati plum ini senantiasa diberi kesehatan.
Ritual ini bukan sekadar tradisi lokal; ia merefleksikan filosofi Jepang tentang harmoni antara manusia dan alam. Penjemuran di bawah matahari adalah metode pengawetan yang telah digunakan selama berabad-abad, jauh sebelum teknologi modern ditemukan. Di Indonesia, praktik serupa juga masih ditemui di beberapa daerah, misalnya dalam pembuatan ikan asin atau sale pisang. Namun, yang membedakan adalah nilai spiritual yang melekat pada proses ini. Bagi masyarakat Jepang, plum bukan hanya makanan, tetapi juga simbol ketahanan dan keberuntungan, terutama karena pohon plum berbunga di tengah musim dingin yang keras.
Bagi wisatawan atau pembaca di Indonesia, tradisi ini menawarkan perspektif baru tentang bagaimana sebuah komunitas menjaga warisan budaya di tengah arus globalisasi. Di saat banyak praktik tradisional mulai ditinggalkan, kuil ini justru konsisten melestarikan ritual yang telah berjalan puluhan tahun. Hal ini sejalan dengan tren pariwisata budaya yang semakin diminati, di mana wisatawan tidak hanya mencari hiburan, tetapi juga pengalaman autentik yang sarat makna.
Setelah proses penjemuran selesai, plum-plum ini akan difermentasi lebih lanjut dan dikemas sebagai 'Ofuku Ume'. Mulai Tahun Baru 2027, mereka akan dibagikan kepada para penyembah dan pengunjung kuil sebagai berkah. Bagi mereka yang percaya, memakan plum ini di awal tahun diyakini membawa kesehatan dan kebahagiaan sepanjang tahun.
Ke depannya, tradisi ini tidak hanya menjadi identitas kuil, tetapi juga potensi daya tarik wisata yang dapat mendatangkan pengunjung dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Apakah ritual semacam ini akan terus bertahan di tengah perubahan zaman? Atau justru semakin menguat karena menjadi simbol ketahanan budaya? Jawabannya mungkin terletak pada seberapa besar masyarakat menghargai akar sejarahnya.



