Banjir Chiba Tewaskan 13 Orang, 2.800 Rumah Rusak: Pelajaran bagi Jakarta
Baca dalam 60 detik
- Seminggu pascabanjir bandang di Prefektur Chiba, Jepang, korban jiwa mencapai 13 orang dan lebih dari 2.800 rumah terdampak.
- Banjir yang dipicu hujan ekstrem pada 13 Agustus ini memperlihatkan rapuhnya drainase perkotaan, dengan 2.500 kendaraan terlantar di jalanan Kota Chiba.
- Pemulihan masih berlanjut, termasuk penormalan jalur kereta JR Sotobo Line yang ditargetkan beroperasi kembali pada 24 Agustus.

Seminggu setelah hujan deras melanda Prefektur Chiba, Jepang timur, jumlah korban jiwa mencapai 13 orang, sementara lebih dari 2.800 rumah mengalami kerusakan. Bencana ini menjadi pengingat bahwa infrastruktur perkotaan yang modern pun bisa lumpuh oleh curah hujan ekstrem, sebuah skenario yang juga mengancam kota-kota besar di Indonesia.
Banjir yang terjadi pada 13 Agustus lalu dipicu oleh fenomena yang disebut "inland flooding"โketika sistem drainase perkotaan tidak mampu menampung volume air, sehingga air meluap ke permukaan. Di Kota Chiba saja, sekitar 2.500 kendaraan dilaporkan terlantar di jalan raya akibat terendam. Hingga 19 Agustus, evakuasi kendaraan dari jalan-jalan utama telah mencapai 70 persen, tetapi pembersihan di jalan permukiman masih terus berjalan.
Dampak banjir tidak hanya terasa di permukaan. Di sejumlah apartemen, peralatan listrik bawah tanah terendam, menyebabkan pemadaman listrik yang berkepanjangan. Data dari pemerintah prefektur pada 19 Agustus menunjukkan 2.695 rumah mengalami kerusakan akibat banjir, dengan 1.206 di antaranya terendam hingga di atas lantai dan 1.489 terendam di bawah lantai. Angka ini meningkat sekitar 400 dari hari sebelumnya. Tiga bangunan hancur total, 78 rusak berat, dan 49 rusak sebagian.
Transportasi umum juga menjadi sorotan. Layanan JR Sotobo Line antara Stasiun Oami dan Stasiun Honda masih dihentikan hingga 19 Agustus. Perusahaan Kereta Api Jepang Timur (JR East) menargetkan operasional kembali pada 24 Agustus, dengan menyediakan bus pengganti. Proses pemulihan terkendala di segmen antara Stasiun Toke dan Oami, di mana kerikil di bawah bantalan rel hanyut terbawa air.
Di tengah upaya pemulihan, kegiatan relawan mulai menggeliat. Menurut Dewan Kesejahteraan Sosial Chiba, rekrutmen dan aktivitas relawan telah dimulai di 10 kotamadya, termasuk Ichihara dan Oamishirasato, dengan sekitar 1.100 orang terdaftar. Para relawan terlihat membantu membersihkan rumah-rumah yang terendam dan mengeluarkan perabotan.
Bencana di Chiba ini relevan bagi Indonesia, terutama Jakarta yang kerap dilanda banjir akibat curah hujan tinggi dan drainase yang buruk. Fenomena inland flooding juga pernah terjadi di Jakarta, seperti banjir besar 2020 yang melumpuhkan sebagian ibu kota. Jika Jepang yang memiliki infrastruktur maju saja kewalahan, Indonesia perlu memperkuat sistem peringatan dini dan tata kelola air perkotaan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah: apakah kota-kota di dunia, termasuk di Indonesia, siap menghadapi intensitas hujan yang semakin ekstrem akibat perubahan iklim? Pemulihan Chiba mungkin akan berlangsung berbulan-bulan, tetapi pelajaran yang bisa dipetik harus segera diimplementasikan sebelum bencana serupa melanda.



