Kolonel Priyo Handoyo Pimpin Upacara HUT RI ke-81 di Istana Merdeka
Baca dalam 60 detik
- Kolonel Infanteri Priyo Handoyo, Dandim 0733/Kota Semarang, memimpin jalannya upacara detik-detik proklamasi di Istana Merdeka.
- Deretan perwira dari berbagai matra TNI dan Polri mengisi pos kunci upacara, menegaskan sinergi antar institusi keamanan.
- Pengalaman dan rekam jejak para perwira yang ditugaskan menjadi sorotan, mencerminkan kepercayaan negara pada mereka.

Kolonel Infanteri Priyo Handoyo, Komandan Kodim 0733/Kota Semarang, dipercaya memimpin pasukan pada Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI ke-81 di Istana Merdeka, Senin. Penunjukan ini bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari tradisi seleksi ketat yang menempatkan perwira terbaik di garda terdepan perayaan kemerdekaan.
Pria kelahiran Cilacap, 8 Februari 1982, ini merupakan lulusan Akademi Militer 2003. Kariernya yang moncer di lingkungan Kodam IV/Diponegoro menjadi salah satu pertimbangan utama. Dalam setiap momen sakral kenegaraan, komandan upacara tidak hanya dituntut memiliki kemampuan memimpin pasukan, tetapi juga ketenangan dan kewibawaan di hadapan publik serta para tamu negara.
Di balik sosok Priyo, terdapat nama Kolonel Penerbang Bambang Baskoro Adi yang disiapkan sebagai cadangan. Lulusan Akademi Angkatan Udara 2003 dan SMA Taruna Nusantara ini memiliki pengalaman terbang gemilang, termasuk sebagai penerbang jet tempur Sukhoi Su-27/30 Flanker keempat yang mencatatkan 2.000 jam terbang. Saat ini ia menjabat Kepala Dinas Operasi Lanud Sultan Hasanuddin. Kehadiran cadangan ini memastikan kelancaran upacara jika terjadi kendala tak terduga.
Struktur kepemimpinan upacara tahun ini juga melibatkan Brigadir Jenderal TNI Fitriana Nur Heru Wibawa sebagai perwira upacara. Lulusan Akmil 1999 yang kini menjabat Kepala Staf Kogartap I/Jakarta ini membawa pengalaman panjang dalam operasi militer dan pengamanan wilayah ibu kota. Sementara itu, Kapten Marinir Rachmatsah Adi Putera, lulusan AAL 2018, dipercaya sebagai Komandan Kompi Paskibraka. Ia bertugas mengoordinasikan para pelajar terpilih yang menjadi inti pasukan pengibar bendera.
Di tingkat kompi, posisi cadangan diisi oleh AKP Zuhri Muhammad dari Polda Kalimantan Selatan. Lulusan Akpol 2016 ini menunjukkan bahwa keterlibatan Polri dalam upacara kenegaraan tidak hanya sebagai pengaman, tetapi juga dalam peran operasional lapangan. Kolaborasi lintas matra ini memperlihatkan semangat sinergi TNI-Polri yang terus diperkuat.
Bagi masyarakat Indonesia, momen ini lebih dari sekadar parade militer. Ini adalah representasi dari regenerasi kepemimpinan di tubuh TNI dan Polri. Para perwira yang ditunjuk umumnya berada di usia produktif, dengan rekam jejak yang teruji. Hal ini sejalan dengan upaya modernisasi dan profesionalisasi institusi pertahanan yang digencarkan pemerintah.
Ke depan, publik akan terus mengamati bagaimana para perwira ini mengemban amanah setelah tampil di panggung nasional. Apakah penugasan seperti ini akan menjadi batu loncatan bagi mereka untuk menduduki posisi-posisi strategis di lingkungan institusi masing-masing? Yang jelas, upacara tahun ini kembali menegaskan bahwa estafet kepemimpinan di tubuh TNI-Polri berjalan dengan penuh perhitungan dan kebanggaan.



