Daftar 7.756 Korban Serangan Udara Tokyo 1945 Ditemukan, Bukti Sejarah yang Nyaris Hilang
Baca dalam 60 detik
- Salinan kedua daftar korban Serangan Udara Besar Tokyo ditemukan di kantor distrik Sumida, melengkapi satu-satunya salinan yang diketahui sebelumnya.
- Dokumen yang disusun Pemerintah Metropolitan Tokyo pada 1951 ini menjadi kunci untuk mengidentifikasi korban yang sebelumnya hanya tercatat dalam kuburan massal.
- Temuan ini mendorong upaya pelestarian memori sejarah perang dan membuka akses publik, sejalan dengan tren global dalam digitalisasi arsip bersejarah.

Sebuah dokumen bersejarah yang memuat nama 7.756 korban Serangan Udara Besar Tokyo pada Maret 1945 ditemukan di kantor Pemerintah Distrik Sumida, Tokyo. Register yang diperkirakan disusun oleh Pemerintah Metropolitan Tokyo sekitar tahun 1951 ini menjadi salinan kedua yang diketahui masih ada, sekaligus yang pertama ditemukan di kantor distrik. Temuan ini dianggap sebagai jendela penting untuk memahami salah satu tragedi kemanusiaan terbesar di akhir Perang Dunia II.
Serangan udara yang dilancarkan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat itu menewaskan sekitar 100.000 orang dalam satu malam, menjadikannya salah satu operasi pengeboman paling mematikan dalam sejarah. Namun, identitas sebagian besar korban belum terdokumentasi dengan baik. Register ini, yang berisi nama-nama korban yang berhasil diidentifikasi, menjadi bukti konkret dari upaya pemerintah saat itu untuk memberikan penghormatan terakhir yang layak.
Menurut Seishi Ishibashi, kurator Museum Warisan Sumida yang meneliti serangan udara, segera setelah pengeboman, jenazah korban dimakamkan sementara di taman dan lokasi lain. Ketika identitas korban dapat dipastikan melalui barang-barang pribadi atau bukti lain, mereka dimakamkan secara individual dan dicatat. Proses ekshumasi dan kremasi berlangsung dari tahun 1948 hingga 1951, dan abu jenazah kemudian dipindahkan ke Aula Peringatan Metropolitan Tokyo di Distrik Sumida. Pada saat yang sama, pemerintah metropolitan menyusun register baru untuk korban yang teridentifikasi, dan salinan yang ditemukan ini diyakini sebagai duplikat dari register tersebut.
Register ini ditemukan pada April lalu di antara dokumen-dokumen yang disimpan oleh departemen yang menangani catatan penduduk, saat proses sortir barang menjelang renovasi kantor. Keberadaan salinan ini sangat langka; salinan lain yang diketahui disimpan di Pusat Serangan Udara dan Kerusakan Perang Tokyo di Distrik Koto, yang disumbangkan oleh mantan pegawai pemerintah pada 2001. Dari total 100 salinan yang pernah dibuat, hanya dua yang berhasil ditemukan hingga saat ini.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki resonansi tersendiri. Sebagai negara yang juga pernah merasakan pahitnya perang, upaya pelestarian arsip sejarah seperti ini mengingatkan pentingnya dokumentasi korban perang. Di Indonesia, data korban perang kemerdekaan dan peristiwa bersejarah lainnya seringkali tersebar dan belum terdigitalisasi secara menyeluruh. Temuan ini bisa menjadi inspirasi bagi pemerintah dan masyarakat sipil untuk lebih serius dalam mengelola arsip sejarah, terutama yang berkaitan dengan konflik dan pelanggaran HAM masa lalu.
Ishibashi menekankan bahwa dokumen yang memuat nama korban sangat berharga untuk menyampaikan betapa dahsyatnya serangan udara tersebut dan mewariskan memorinya kepada generasi mendatang. โDokumen ini adalah saksi bisu dari penderitaan ribuan jiwa,โ ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa di balik angka-angka statistik, terdapat kisah kemanusiaan yang harus terus diingat.
Pemerintah Distrik Sumida berencana untuk membuat salinan digital dan memajangnya di museum setempat, sehingga masyarakat luas dapat mengaksesnya. Langkah ini sejalan dengan tren global dalam digitalisasi arsip sejarah, yang memungkinkan publik untuk terhubung dengan masa lalu secara lebih interaktif. Namun, pertanyaan yang muncul adalah: apakah upaya serupa juga akan dilakukan untuk korban perang di negara lain, termasuk Indonesia? Atau akankah dokumen-dokumen bersejarah lainnya yang masih tersembunyi di kantor-kantor pemerintahan segera terungkap?



