Sukarelawan Penyelam Vietnam Pulihkan Terumbu Karang: Bukti Konservasi Berbasis Komunitas
Baca dalam 60 detik
- Setiap hari, para nelayan di Nhon Hai menyelam sukarela untuk membersihkan sampah dari terumbu karang, menghidupkan kembali ekosistem yang rusak.
- Sejak 2018, kawasan konservasi yang dikelola komunitas di Quy Nhon Dong telah meningkatkan tutupan karang secara signifikan, menarik wisatawan dan memulihkan populasi ikan.
- Keberhasilan model ini menawarkan pelajaran bagi Indonesia, yang menghadapi tantangan serupa dalam menjaga terumbu karang dan mata pencaharian pesisir.

Setiap sore, setelah mengantar wisatawan terakhir kembali ke daratan, Nguyen Ton Xuan Sang mengenakan tabung udara, menutup wajahnya dengan masker, dan menyelam kembali ke laut dengan karung kosong. Pria ini bukan penyelam profesional, melainkan nelayan biasa yang mengabdikan diri membersihkan sampah dari terumbu karang di perairan Gia Lai, Vietnam. Selama bertahun-tahun, Sang bersama tim perlindungan perikanan komunitas Nhon Hai telah menjadi garda terdepan dalam merawat ekosistem laut yang nyaris hancur satu dekade lalu.
Kerja keras tanpa bayaran ini bukan sekadar aksi sosial. Di baliknya, ada upaya serius untuk menghidupkan kembali terumbu karang yang rusak akibat praktik penangkapan ikan destruktif dan aktivitas manusia lainnya. Hasilnya kini mulai terlihat: ikan, udang, dan penyu kembali bermunculan, dan wisatawan pun berdatangan ke Pulau Hon Kho yang airnya jernih dengan terumbu karang berwarna-warni. "Pemandangannya indah, udaranya segar, airnya sangat jernih. Penduduknya ramah, saya sangat senang dengan perjalanan ini," ujar Nguyen Thi Thuy Trang, wisatawan asal Kota Ho Chi Minh, seperti dikutip Vietnamplus.
Keberhasilan ini tidak lepas dari peran aktif masyarakat. Sejak diberikan wewenang mengelola sumber daya laut, warga Nhon Hai menandai zona perlindungan, memantau kondisi karang, dan mendorong sesama nelayan untuk beralih ke metode penangkapan yang lebih ramah lingkungan. "Ketika karang sehat, ikan, udang, dan penyu kembali. Ekosistem yang kaya juga mendatangkan wisatawan. Pariwisata harus berjalan seiring dengan konservasi," tegas Sang. Menurutnya, sampah seperti botol plastik, kantong nilon, sedotan, dan jaring yang tersangkut di karang dapat merusak jika dibiarkan terlalu lama.
Upaya konservasi yang didukung kelompok internasional sejak 2018 ini kini mengelola lebih dari 20 hektare terumbu karang di perairan Nhon Chau, Quy Nhon Nam, dan Quy Nhon Dong. Data dari sub-departemen perikanan Gia Lai menunjukkan peningkatan signifikan tutupan karang: di Bai Dua naik dari 62 persen menjadi 75,6 persen, sementara di Hon Kho dari 36 persen menjadi 44,3 persen. Angka ini menjadi bukti nyata bahwa pendekatan berbasis komunitas mampu memulihkan kerusakan lingkungan.
Namun, kesuksesan ini tidak lepas dari tantangan. Meningkatnya jumlah wisatawan berbanding lurus dengan volume sampah dan tekanan terhadap garis pantai, termasuk pantai tempat penyu bertelur. Tran Viet Quang, ketua Komite Rakyat Ward Quy Nhon Dong, menyatakan pihaknya gencar melakukan kampanye kesadaran bagi warga dan wisatawan, meningkatkan inspeksi, serta menindak tegas aktivitas yang mengancam tempat peneluran penyu. "Melindungi laut berarti melindungi sumber daya, pemandangan, dan mata pencaharian yang bergantung padanya," ujarnya.
Kisah Nhon Hai menjadi cermin bagi Indonesia, yang memiliki kekayaan terumbu karang terbesar di dunia namun juga menghadapi ancaman serupa: penangkapan ikan destruktif, pencemaran plastik, dan tekanan pariwisata. Model pengelolaan berbasis komunitas yang terbukti berhasil di Vietnam ini bisa menjadi inspirasi bagi desa-desa pesisir di Indonesia, terutama dalam mengelola kawasan konservasi perairan yang selama ini seringkali terhambat oleh konflik kepentingan antara ekologi dan ekonomi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah model ini dapat direplikasi secara lebih luas dan berkelanjutan. Di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, upaya akar rumput seperti yang dilakukan para penyelam sukarelawan di Nhon Hai mungkin menjadi kunci untuk menjaga masa depan laut kita. Akankah Indonesia mengambil pelajaran serupa?



