17 Patung Buddha Berlapis Emas Ditemukan di Situs Warisan Dunia Sri Lanka
Baca dalam 60 detik
- Tim arkeolog Sri Lanka menemukan 17 patung Buddha berlapis emas di kompleks Abhayagiri, Anuradhapura, yang diperkirakan berusia lebih dari 1.200 tahun.
- Temuan ini dianggap paling signifikan dalam tiga dekade terakhir, menunjukkan kekayaan sejarah dan pengaruh agama Buddha di kawasan Asia Selatan.
- Artefak akan dipamerkan setelah pengujian ilmiah, berpotensi menarik wisatawan dan peneliti, termasuk dari Indonesia.

Kolombo โ Sebanyak 17 patung Buddha berlapis emas berhasil digali dari kompleks kuil Abhayagiri di Anuradhapura, Sri Lanka, Selasa (19/8). Temuan yang berasal dari abad ke-7 hingga ke-8 ini dianggap sebagai penemuan arkeologi paling penting dalam tiga dekade terakhir di kawasan yang dilindungi UNESCO tersebut.
Manajer proyek dari Central Cultural Fund (CCF) Sri Lanka, Thusitha Herath, menyatakan bahwa penemuan ini merupakan yang pertama kalinya dalam jumlah besar. Sebelumnya, artefak serupa hanya ditemukan dalam jumlah kecil. "Kami pernah menemukan artefak sebelumnya, tetapi ini pertama kalinya kami melihat patung dalam jumlah sebanyak ini," ujarnya dari lokasi penggalian yang berjarak 210 kilometer utara Kolombo.
Patung-patung yang terbuat dari perunggu berlapis emas ini diperkirakan berusia 1.200 hingga 1.300 tahun. Ciri-cirinya mirip dengan artefak dari periode abad ke-7 dan ke-8 Masehi, yang menandakan tingginya peradaban dan seni rupa pada masa Kerajaan Anuradhapura. Temuan ini tersebar secara acak di dalam area Sacred City of Anuradhapura, yang telah masuk daftar Warisan Dunia UNESCO sejak 1982.
Penggalian yang dilakukan oleh CCF merupakan bagian dari upaya konservasi yang diwajibkan setelah status UNESCO diberikan. Kawasan ini dikenal sebagai pusat pembelajaran agama Buddha yang kaya akan tradisi Theravada, Mahayana, dan Vajrayana. Pada masa lampau, para sarjana dan peziarah dari Tiongkok dan India datang ke sini untuk menimba ilmu, menjadikan Anuradhapura sebagai melting pot budaya dan agama.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki resonansi historis yang kuat. Hubungan dagang dan keagamaan antara Nusantara dan Sri Lanka telah terjalin sejak abad ke-7, terutama melalui jalur sutra maritim. Kerajaan Sriwijaya di Sumatera, misalnya, memiliki hubungan erat dengan pusat-pusat pembelajaran Buddha di India dan Sri Lanka. I Tsing, seorang biksu Tiongkok yang singgah di Sriwijaya pada abad ke-7, mencatat bahwa banyak biksu dari Nusantara belajar di sana. Temuan ini mengingatkan kita akan pentingnya kawasan ini dalam penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara.
Herath menambahkan bahwa artefak telah dikirim untuk pengujian lebih lanjut dan diharapkan dapat dipamerkan dalam waktu sekitar satu bulan. "Kami berharap dapat menampilkan ini kepada publik," katanya. Pameran ini tidak hanya akan menjadi daya tarik wisata, tetapi juga sumber pengetahuan bagi para peneliti dan akademisi.
Penemuan ini juga menyoroti pentingnya pelestarian warisan budaya. Di tengah konflik dan modernisasi, temuan seperti ini menjadi pengingat akan kekayaan sejarah yang perlu dijaga. Bagi Indonesia, yang juga memiliki banyak situs warisan Buddha seperti Borobudur dan Muara Takus, temuan ini bisa menjadi inspirasi untuk terus menggali dan melestarikan peninggalan sejarah.
Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah: apakah akan ada penemuan lebih besar lagi di situs Abhayagiri? Dengan luasnya kompleks yang belum sepenuhnya digali, kemungkinan itu tetap terbuka. Yang jelas, setiap temuan baru tidak hanya memperkaya sejarah Sri Lanka, tetapi juga memperkuat pemahaman kita tentang peradaban Asia yang saling terhubung.



