Gempa NTT: Pencarian Korban Berlanjut di Tengah Perayaan HUT RI, 53 Tewas
Baca dalam 60 detik
- Tim penyelamat masih menyisir puing-puing bangunan di NTT setelah gempa berkekuatan signifikan menewaskan sedikitnya 53 orang, sementara Indonesia memperingati HUT ke-80.
- Lebih dari 1.600 gempa susulan tercatat, memicu ketakutan warga dan menghambat upaya evakuasi di wilayah Sikka dan Manggarai.
- Pemerintah menyiagakan bantuan logistik dan rumah sakit lapangan, namun tantangan geografis dan psikologis masih membayangi proses pemulihan.

Di tengah hiruk-pikuk perayaan kemerdekaan Indonesia yang ke-80, tim penyelamat di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih bergulat dengan puing-puing bangunan untuk mencari korban gempa yang mengguncang wilayah itu pada Sabtu lalu. Bencana ini telah merenggut sedikitnya 53 jiwa dan memaksa ribuan warga mengungsi, menjadikannya gempa paling mematikan sejak tragedi Cianjur 2022.
Gempa yang berpusat di darat ini memicu tanah longsor dan memblokir sejumlah ruas jalan di provinsi paling selatan Indonesia, terutama di Kabupaten Sikka dan Manggarai. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hampir 1.600 kali gempa susulan hingga Senin pagi, dengan satu guncangan berkekuatan 5,6 magnitudo kembali terasa di wilayah Nagekeo, dekat episentrum awal. Kondisi ini memperparah kepanikan warga yang memilih bertahan di tenda-tenda darurat daripada kembali ke rumah yang retak-retak.
Di halaman puskesmas yang rusak di dekat Ende, Firmus Woge (64), seorang petani, tampak berjuang mengatur napas. Serangan asma yang dideritanya kambuh, bukan hanya karena debu, tetapi juga karena kecemasan yang memuncak setiap kali tanah bergetar. "Saya merasa lebih baik tadi malam, tapi pagi ini sesak lagi setelah gempa susulan," tuturnya dengan napas tersengal. Kisah Woge hanyalah satu dari sekian banyak gambaran trauma yang membayangi para penyintas.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Maumere, Fathur Rahman, menyatakan fokus operasi Senin ini adalah pemantauan udara menggunakan helikopter untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal. "Kami juga menyiapkan alat ekstrikasi untuk mengevakuasi korban dari reruntuhan," ujarnya. Meski belum ada laporan warga hilang, upaya pencarian tetap dilakukan secara menyeluruh, terutama di daerah terpencil yang aksesnya terputus.
Pemerintah pusat bergerak cepat. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, mengatakan pesawat kargo telah disiapkan untuk mengirimkan makanan, tenda, dan kebutuhan dasar lainnya. Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengumumkan rencana pembangunan rumah sakit lapangan di beberapa titik, dengan prioritas penanganan trauma kepala dan patah tulang. "Kami membutuhkan dokter spesialis bedah saraf dan ortopedi," tegasnya.
Di Jakarta, sekitar 1.500 kilometer dari lokasi bencana, Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan memimpin upacara peringatan detik-detik proklamasi. Namun, euforia kemerdekaan terasa ganjil bagi warga Ende. Gervas (42), seorang ayah yang mengungsi ke dataran tinggi karena khawatir tsunami, mengaku tak lagi memikirkan perayaan. "Saya hanya memikirkan keselamatan istri dan anak kembar saya yang berusia empat tahun," katanya lirih. Pernyataan ini merefleksikan dilema nasional: bagaimana merayakan kemerdekaan ketika sebagian saudara sebangsa masih bergulat dengan duka dan ketakutan.
Secara geologis, Indonesia memang berada di Cincin Api Pasifik, sehingga gempa adalah keniscayaan. Namun, kesiapsiagaan dan ketahanan infrastruktur menjadi pertanyaan besar. Gempa NTT kali ini menggarisbawahi perlunya percepatan pembangunan rumah tahan gempa, terutama di daerah timur Indonesia yang kerap terabaikan. Selain itu, dampak psikologis bagi penyintas, terutama anak-anak, membutuhkan pendampingan jangka panjang yang tidak boleh dilupakan.
Ke depan, pemerintah perlu memastikan tidak hanya pemulihan fisik, tetapi juga pemulihan sosial-ekonomi masyarakat. Akankah peringatan dini dan edukasi kebencanaan menjadi prioritas nyata, atau kembali menjadi wacana setelah duka mereda? Pertanyaan ini layak direnungkan, tidak hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh seluruh elemen masyarakat Indonesia.



