Harga Minyak Naik di Tengah Ketegangan AS-Iran dan Pemulihan Ekspor Timur Tengah
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah Brent dan WTI kompak menguat meski pasokan dari Timur Tengah mulai pulih.
- Pipa East-West Arab Saudi menjadi penopang utama pengiriman minyak setelah Selat Hormuz diblokir Iran.
- Pasar masih mencermati kelanjutan perundingan tidak langsung AS-Iran yang berlangsung alot.

Harga minyak mentah dunia kembali menanjak pada perdagangan Kamis (1/10), menghentikan aksi jual yang sempat menekan pasar dalam beberapa sesi sebelumnya. Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Desember naik 1,49% ke level US$99,49 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) untuk November menguat 1,34% menjadi US$91,63 per barel. Kenaikan ini terjadi di tengah upaya pasar mencerna pemulihan ekspor minyak mentah dari Timur Tengah yang mulai mengurangi kekhawatiran gangguan pasokan.
Pemicu utama optimisme tersebut adalah beroperasinya kembali pipa East-West milik Arab Saudi, yang memungkinkan pengiriman minyak dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Langkah ini ditempuh setelah Iran memblokir Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global. Menurut analis pasar senior Trade Nation, David Morrison, pipa tersebut telah melakukan sebagian besar pekerjaan berat untuk mengalirkan minyak keluar dari Teluk. "Pipa itu belum beroperasi pada kapasitas penuh, tetapi fakta bahwa jalur ini terbuka memberikan kelegaan dan membantu harga minyak turun," ujarnya.
Meski begitu, pemulihan pasokan belum sepenuhnya normal. Catatan UOB menyebutkan bahwa aliran minyak mentah dari Timur Tengah dilaporkan mendekati level sebelum perang, namun pasokan bahan bakar—terutama bensin—masih tertinggal. Kesenjangan ini menjadi sinyal bahwa tekanan pada pasar energi belum sepenuhnya hilang, terutama jika ketegangan geopolitik berlanjut.
Di sisi lain, ketidakpastian politik di Timur Tengah masih membayangi. Perundingan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi pihak ketiga di sela-sela Sidang Umum PBB pekan ini belum menghasilkan terobosan. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahkan memerintahkan delegasi Iran yang berada di Amerika untuk meninggalkan negara itu begitu sidang berakhir. Sikap ini memperkuat dugaan bahwa penyelesaian konflik Iran tidak akan tercapai dalam waktu dekat.
Bagi Indonesia, dinamika harga minyak ini memiliki implikasi langsung terhadap perekonomian domestik. Sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga minyak mentah akan menekan neraca perdagangan dan memperlebar defisit anggaran, terutama karena subsidi energi dan kompensasi BBM masih menjadi beban APBN. Pemerintah perlu mencermati perkembangan ini untuk mengantisipasi tekanan inflasi dan daya beli masyarakat. Selain itu, ketegangan di Selat Hormuz juga mengancam jalur pelayaran kapal tanker yang mengangkut minyak untuk kebutuhan dalam negeri, sehingga diversifikasi sumber impor menjadi semakin mendesak.
Ke depan, arah harga minyak akan sangat bergantung pada dua faktor: kelanjutan perundingan AS-Iran dan kemampuan Arab Saudi memaksimalkan kapasitas pipa East-West. Jika ketegangan mereda dan pasokan kembali lancar, harga berpotensi terkoreksi. Namun, jika konflik berkepanjangan, bukan tidak mungkin harga minyak kembali menembus level psikologis US$100 per barel, yang akan menjadi pukulan berat bagi negara-negara pengimpor, termasuk Indonesia. Pasar akan terus mencermati setiap sinyal dari Timur Tengah, karena stabilitas pasokan energi global berada di ujung tanduk.



