Polisi Ungkap Rekaman CCTV Sutrimo Sebelum Tewas: Dari Klinik hingga Ambulans
Baca dalam 60 detik
- Polda Metro Jaya memaparkan rangkaian pergerakan Sutrimo berdasarkan puluhan titik CCTV, mulai dari aktivitas malam hingga ambulans membawa jenazah ke RS Muhammadiyah.
- Hasil ekshumasi menyimpulkan kematian akibat penyakit jantung iskemik, bukan tindak pidana, dengan busa putih di mulut korban dijelaskan sebagai edema paru akut.
- Polisi menegaskan belum menemukan unsur pidana, namun publik menanti transparansi penuh atas kasus yang menyeret nama eks Jampidsus Febrie Adriansyah.

Polda Metro Jaya membeberkan kronologi pergerakan Sutrimo, pria yang dikaitkan dengan rumah eks Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, sebelum ditemukan meninggal dunia. Berdasarkan puluhan rekaman CCTV yang dihimpun penyidik, aktivitas korban terekam sejak Rabu (22/7) malam hingga Kamis (23/7) dini hari di kawasan Jakarta Selatan.
Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP Dewa Anom Danunjaya mengungkapkan, pada Rabu pukul 21.20 WIB, Sutrimo terlihat melintas di depan Klinik SAS dengan sepeda motor Mio yang didorong. Sekitar 20 menit kemudian, ia kembali terlihat keluar dari lokasi dengan motor yang sama, dibantu seseorang yang mendorong kendaraan tersebut melewati Jalan Radio Dalam 3.
Memasuki Kamis dini hari, tepatnya pukul 01.46 hingga 03.11 WIB, Sutrimo terpantau dibonceng keluar dari Jalan Radio Dalam 1. Ia sempat berhenti di warung Pecel Lele Sambal Setan di Jalan Radio Dalam Raya sekitar pukul 03.11 WIB. Setelah itu, korban kembali terlihat melintas di Jalan Kiai Haji Ahmad Dahlan, Kebayoran Baru, masih dengan sepeda motor.
Rekaman terakhir menunjukkan Sutrimo kembali ke Klinik Mordent. Tak lama berselang, sebuah ambulans terlihat keluar dari klinik menuju Rumah Sakit Muhammadiyah. "Inilah rangkaian fakta CCTV yang berhasil kami ambil. Kami mengambil puluhan titik untuk melihat peristiwa sebenarnya," ujar Anom dalam konferensi pers, Rabu (30/9).
Anom menjelaskan, pada Kamis pagi, ambulans PKAD menerima laporan dari operator mengenai pasien tidak sadarkan diri di Kramat Pela, Jakarta Selatan. Setibanya di lokasi, petugas menemukan pasien sudah meninggal sehingga tidak dapat dibawa ke rumah sakit. Selanjutnya, call center ambulans PT Bintang Medica Indonesia menerima permintaan dari seseorang yang mengaku kerabat korban untuk mengirim ambulans ke Klinik Mordent.
Sekitar pukul 08.53 WIB, ambulans tiba. Sutrimo saat itu terbaring di bawah tangga halaman klinik, tubuhnya tertutup seprai biru bermotif bunga dengan kepala dialasi handuk merah. Driver ambulans membuka penutup dan mendapati korban telah meninggal dengan busa keluar dari mulut dan hidung. Saat dibersihkan, keluar cairan kekuningan. Atas permintaan kerabat, jenazah dibawa ke RS Muhammadiyah Taman Puring, tiba pukul 09.09 WIB.
Setelah diperiksa di UGD, jenazah dimandikan dan langsung dibawa ke kampung halaman di Banyumas, Jawa Tengah, menggunakan ambulans lain. Korban tiba di Banyumas pukul 22.10 WIB dan dimakamkan pukul 23.30 WIB di TPU Bantar Agung, Desa Ulahar, Kecamatan Wangon.
Polda Metro Jaya menegaskan belum menemukan unsur tindak pidana dalam kasus ini. Kesimpulan itu diambil berdasarkan pemeriksaan saksi, hasil ekshumasi, dan uji laboratorium forensik. "Berdasarkan fakta yang terkumpul, penyidik berkesimpulan belum ada indikasi pidana," kata Anom.
"Meninggalnya almarhum Sutrimo karena penyakit jantung iskemik," ujar Ketua Tim Ekshumasi Ahmad Yudianto.
Yudianto menambahkan, busa putih yang keluar dari mulut korban berkaitan dengan edema paru akut, yakni penumpukan cairan di paru-paru yang menyulitkan saluran napas. "Cairan dan lendir itu membuat napas tidak lancar, sehingga keluar busa," jelasnya.
Kasus ini menyita perhatian publik karena Sutrimo disebut sebagai mantan pekerja di rumah Febrie Adriansyah, pejabat yang pernah menangani perkara korupsi besar. Meski polisi menyatakan tidak ada pidana, sejumlah pihak mendesak transparansi penuh, terutama terkait mengapa korban berada di klinik dan siapa yang mengantar. Kematian yang terjadi di luar rumah sakit dan langsung dimakamkan cepat memicu spekulasi di media sosial.
Pengamat hukum pidana dari Universitas Indonesia, Indriyanto Seno Adji, menilai penyelidikan berbasis CCTV adalah langkah maju, tetapi tetap perlu diuji dengan bukti forensik independen. "Rekaman CCTV membantu, namun kesimpulan akhir harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah," ujarnya saat dihubungi terpisah.
Ke depan, publik menanti apakah penyidik akan merilis hasil lengkap puslabfor dan ekshumasi secara terbuka. Jika tidak, ruang spekulasi akan terus melebar, terutama karena kasus ini bersinggungan dengan nama pejabat penegak hukum. Pertanyaannya, akankah transparansi penuh diberikan, atau kasus ini akan tenggelam dalam senyap?



