Van Gogh Senilai Rp2,7 Triliun Dipamerkan Sebelum Lelang, Koleksi Mitos Blaquier-Arrieta Akhirnya Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Lukisan Van Gogh 'Châtaigniers en fleurs' dipajang di Sotheby's London sebelum dilelang dengan estimasi $180 juta.
- Koleksi Blaquier-Arrieta yang tersembunyi selama puluhan tahun mencakup 12 mahakarya impresionis dan modern, total nilai diperkirakan melampaui $450 juta.
- Lelang pada 18 November di New York berpotensi mengubah peta pasar seni global dan menarik minat kolektor Asia, termasuk dari Indonesia.

Lukisan Vincent van Gogh berjudul Châtaigniers en fleurs (Pohon Kastanye Berbunga) yang dinilai mencapai $180 juta (sekitar Rp2,7 triliun) mulai dipamerkan di kantor Sotheby's London, Rabu (30/9/2026), menandai pertama kalinya karya tersebut terlihat publik setelah lebih dari setengah abad tersimpan dalam koleksi pribadi yang disebut-sebut sebagai 'mitos' di dunia seni.
Karya yang dibuat pada Mei 1890, hanya beberapa pekan sebelum Van Gogh meninggal, merupakan bagian dari 12 lukisan impresionis dan modern dari koleksi mendiang Nelly Arrieta de Blaquier, kolektor asal Argentina yang wafat pada 2020. Selain Van Gogh, koleksi ini mencakup mahakarya Paul Cézanne berjudul Harlequin yang dihargai $150 juta, serta karya Claude Monet, Pierre-Auguste Renoir, Edgar Degas, Paul Gauguin, dan sejumlah nama besar lainnya.
Menurut Sotheby's, seluruh koleksi diperkirakan akan terjual lebih dari $450 juta (sekitar Rp6,8 triliun) dalam lelang yang dijadwalkan pada 18 November di New York. Sebelum dilelang, 12 lukisan tersebut akan dipamerkan di London selama dua hari, lalu diterbangkan ke Taipei, Hong Kong, dan Paris untuk menarik minat kolektor global.
Philip Hook, mantan direktur seni impresionis dan modern Sotheby's, menyebut momen ini sebagai 'peristiwa bersejarah'. Menurutnya, koleksi Blaquier-Arrieta telah lama menjadi legenda karena disimpan jauh dari publik dan hanya dibicarakan dalam bisik-bisik di kalangan kolektor. 'Ini salah satu koleksi pribadi terakhir dari seni impresionis dan post-impresionis yang dibentuk ketika karya-karya besar masih bisa dijangkau,' ujarnya.
Simon Shaw, penasihat senior seni Sotheby's, menggambarkan koleksi ini seperti 'museum kecil – Musée d'Orsay miniatur yang baru pertama kali membuka pintunya'. Ia menambahkan bahwa kelangkaan karya Van Gogh dari periode Auvers-sur-Oise – hanya delapan yang masih di tangan swasta – membuat lukisan ini sangat istimewa.
"Selama puluhan tahun koleksi Blaquier-Arrieta menjadi bahan legenda: dibisikkan, dijauhkan dari pandangan publik, dan mencapai status hampir mitos di dunia seni." – Philip Hook, mantan direktur Sotheby's
Konteks Indonesia: Peluang dan Tantangan bagi Kolektor dan Pasar Seni Nasional
Bagi Indonesia, lelang ini bukan sekadar peristiwa internasional. Sejumlah kolektor seni Tanah Air, terutama dari kalangan pengusaha dan keluarga konglomerat, diketahui aktif memburu karya seni bernilai tinggi di pasar global. Kehadiran koleksi Blaquier-Arrieta di pasar dapat menjadi magnet bagi mereka yang ingin mendiversifikasi portofolio aset sekaligus meningkatkan prestise.
Namun, harga yang ditawarkan – setara dengan anggaran pembangunan infrastruktur di beberapa daerah – memunculkan pertanyaan tentang prioritas investasi. Di sisi lain, pameran ini juga bisa menjadi pelajaran bagi museum dan galeri nasional tentang pentingnya pelestarian dan kurasi karya seni bernilai sejarah. Indonesia memiliki koleksi lukisan maestro seperti Affandi, Basuki Abdullah, dan Raden Saleh yang nilainya terus meningkat, tetapi seringkali kurang terpapar pada pasar global.
Pengamat seni menilai bahwa partisipasi kolektor Indonesia dalam lelang sekelas ini bisa memperkuat posisi seni Asia di kancah dunia. Namun, tanpa infrastruktur lelang dan apresiasi yang memadai, karya seni nasional berisiko tetap menjadi 'raksasa tidur' yang hanya dikenal di dalam negeri.
Dengan lelang yang masih dua bulan lagi, perhatian dunia seni tertuju pada apakah rekor baru akan tercipta. Jika Châtaigniers en fleurs terjual mendekati atau melampaui estimasinya, itu akan menegaskan kembali posisi Van Gogh sebagai salah satu seniman paling bernilai di pasar. Pertanyaannya, akankah Indonesia suatu hari mampu menyelenggarakan lelang sekelas ini dan menempatkan maestro nasional di panggung yang sama?



