Belgia Kerahkan Bantuan Udara Eropa, Api Terbesar dalam Seabad Terus Meluas
Baca dalam 60 detik
- Luas kebakaran di Cagar Alam High Fens melonjak dari 80 hektare menjadi 3.000 hektare hanya dalam tiga hari, menjadikannya yang terbesar sejak 1911.
- Lebih dari 250 personel gabungan Belgia-Jerman dikerahkan, dengan dukungan helikopter dan pesawat pemadam dari Belanda, Ceko, Swedia, serta potensi bantuan Norwegia dan Jerman.
- Kondisi lahan gambut yang rapuh dan akses sulit membuat pemadaman darat terhambat, sehingga operasi udara menjadi penentu utama pengendalian api.

Kebakaran hutan yang melanda Cagar Alam High Fens di perbatasan Belgia-Jerman terus meluas tak terkendali, memaksa pemerintah setempat mengandalkan armada udara lintas negara untuk menjinakkan api. Hingga Minggu pagi, luas area yang terbakar mencapai 3.000 hektare, tiga kali lipat dari hari sebelumnya dan menjadikannya kebakaran terbesar di Belgia dalam lebih dari satu abad terakhir.
Bencana ini mulai terdeteksi Jumat lalu di kawasan gambut dan hutan pinus yang rapuh, dengan penyebab yang hingga kini belum diketahui. Dalam kurun 48 jam, api yang semula hanya membakar 80 hektare langsung meroket menjadi 850 hektare pada Sabtu pagi, lalu menembus angka 3.000 hektare keesokan harinya. Pemerintah regional Wallonia menyebut kondisi di taman yang terletak dekat kota Eupen itu "tetap menantang", dengan beberapa titik api yang masih aktif dan arah angin yang kerap berubah.
Evakuasi warga dari dua desa terdekat telah dilakukan, meski belum ada laporan rumah yang hangus. Namun, asap tebal kekuningan menyelimuti area luas, memicu kekhawatiran akan dampak kesehatan bagi penduduk sekitar. Tim penyelamat kesulitan menjangkau titik awal kebakaran karena medan berupa hamparan heath, rawa gambut, dan papan kayu yang tidak mampu menopang kendaraan berat. Kondisi ini memaksa petugas memadamkan api dari jarak dekat dengan risiko tinggi.
Untuk mempercepat pemadaman, Belgia mengaktifkan mekanisme perlindungan sipil Uni Eropa. Helikopter polisi federal Belgia dan pesawat Belanda telah terlihat mengambil air dari danau terdekat sejak Minggu pagi. Sementara itu, helikopter tambahan dari Republik Ceko dan pesawat pengebom air asal Swedia dijadwalkan beroperasi pada hari yang sama. Komisioner Eropa Hadja Lahbib bahkan menyebut Norwegia dan Jerman berpotensi mengirimkan dukungan udara tambahan.
Perdana Menteri Belgia Bart De Wever menyampaikan apresiasi melalui platform X atas solidaritas negara-negara Eropa. "Terima kasih kepada mitra Eropa kami atas bantuan yang mereka berikan," tulisnya. Selain bantuan resmi, para petani lokal juga disebut berperan besar dengan menyediakan tangki air untuk mendukung operasi darat.
Bencana ini terjadi di tengah gelombang panas dan kekeringan yang melanda sebagian besar Eropa, dengan suhu mencapai 37 derajat Celsius di beberapa wilayah Belgia pada Jumat. Kondisi tersebut menciptakan lingkungan yang sangat rentan terhadap kebakaran, mengingatkan pada peristiwa serupa pada 1911 yang juga dipicu oleh musim kemarau panjang.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi cermin nyata bagaimana perubahan iklim memperbesar frekuensi dan intensitas kebakaran hutan di kawasan yang sebelumnya dianggap tidak terlalu rawan. Pengalaman Belgia dalam menggalang bantuan udara lintas negara melalui mekanisme Uni Eropa bisa menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, yang kerap menghadapi kebakaran gambut dan hutan. Kolaborasi regional dan kesiapan armada udara menjadi kunci dalam merespons bencana yang melampaui batas administratif.
Hingga berita ini diturunkan, api masih belum sepenuhnya dapat dikendalikan. Pertanyaannya, akankah dukungan udara yang terus mengalir mampu memutus rantai perluasan api sebelum musim kemarau berakhir? Atau justru bencana ini menjadi awal dari tren kebakaran besar yang lebih sering melanda Eropa Barat?



